
Keterangan Gambar : Pengurus Daerah Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PD KB PII) Jakarta Timur menggelar Rapat Kerja Tahun 2026, sekaligus Halal bi Halal, pada Ahad, 10 Mei 2026, di Basecame Komunitas Iklim Sungai Cikeas (Kisuci), Ds.Cipambuan, Kec. Babakan Madang, Kab. Bogor, Jawa Barat. (sumber foto : rat/pp)
BOGOR II Parahyangan Post– Pengurus Daerah Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PD KB PII) Jakarta Timur menggelar Rapat Kerja Tahun 2026, sekaligus Halal Bihalal, pada Ahad, 10 Mei 2026, di Basecame Komunitas Iklim Sungai Cikeas (Kisuci), Ds.Cipambuan, Kec. Babakan Madang, Kab. Bogor, Jawa Barat.
Ditengah suasana yang hijau, sejuk disertai gemericik dan riak air sungai, kegiatan raker dan halal bi halal yang dipandu oleh saudara Budi selaku MC, berjalan lancar dan para peserta merasa betah.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua PD KB PII Jakarta Timur, Mohamad Anthoni beserta jajaran pengurusnya, Ketua Panitia Pelaksana M.Noor. Selain itu tampak hadir, Maimun Zuba’ir selaku Pembina, Sekjen PW KB PII Jakarta Yusnarso dan Ustadz Medy Zalfitri dari Lazisku, Perwakilan dari Pengurus Wilayah (PW) Pelajar Islam Indonesia (PII) DKI Jakarta, serta para anggota dan keluarga besar PD KB PII Jakarta Timur lainnya. Dan untuk narasumber, Dr. Ir. Hayu S. Prabowo, M.Hum, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLHSDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Dalam kata sambutanya, Ketua Panitia Pelaksana, M. Noor, bahwa peserta yang hadir telah memenuhi kuorum, raker ini adalah amanat AD/ART KB PII, dimana maksud dan tujuanya untuk menyampaikan apa yang sudah dan akan dikerjakan.
Senada dengan Ketua Panitia Pelaksana, Ketua PD KB PII Jakarta Timur, Mohamad Anthoni, bahwa rapat kerja ini sekaligus dalam rangka halal bi halal. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan bahwa bulan Mei ini merupakan Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia, seraya membacakan salah satu tulisan yang ramai di WA Group sebagai motivasi pada para peserta.
“Alhamdulillah, berkat kerja keras tim panitia, jajaran pengurus dan para anggota serta semua pihak, khususnya Yayasan BAMUIS BNI, Komunitas Kisuci yang telah memberikan support dan dukungan sehingga kegiatan ini bisa terlaksana, untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih. Mohon maaf jika ada kekurangan dan hal-hal yang kurang berkenan,”ungkap Ketua PD KB PII Jakarta Timur.
Untuk menggali informasi kondisi PII saat ini, dua perwakilan adik-adik Pengurus Wilayah (PW) PII DKI Jakarta yang hadir langsung didaulat sebagai narasumber dalam sesi dialog. Selain menyampaikan refleksi PII dalam hari bangkitnya, keduanya juga meyampaikan berbagai hal kondisi PII khususnya Wilayah DKI Jakarta, termasuk berbagai agenda kegiatan dan training yang akan dilaksanakan pada bula Juni 2026.
Sementara itu Sekjen PW KB PII DKI Jakarta, Yusnarso menyampaikan beberapa point, mulai dari keorganisasian, bagaimana organisasi itu punya dampak, dan keharusan menjaga organisasi itu bisa tetap hidup. Program kerja untuk menyelaraskan dengan program kerja pusat, baik untuk program jangka pendek maupun jangka panjang.
Selain itu Sekjen juga menyoroti persoalan pemetaan kepengurusan dan kaderisasi, dan menawarkan pembentukan Rumah Qur’an. Bagaimana menciptakan KB PII sebagai rumah bagi teman-teman semua, dan kita memulai dari potensi yang ada, kita coba kerjakan apa yang menjadi isu dan bisa berkelanjutan.
“Untuk jangka panjang perlu juga dipikirkan bagaimana mendirikan “Rumah Qur’an,” dimana nantinya rumah tersebut bukan sekedar membaca Al Quran semata, tetapi bisa jadi tempat berkegiatan dan berkumpulnya pengurus serta anggota KB PII,”jelas Yusnarso.
Disisi lain, Ustadz Medy Zalfitri dari Lasizku memaparkan tentang program kerja yang ada Lazisku saat ini. Bahwa Lazisku sudah memiliki izin legalitas resmi dari Kanwil Depag, sehingga kita sudah bisa ‘berjualan’ atau menghimpun dana untuk selanjutnya disalurkan kepada penerima manfaat yang berhak.
Kita akan siapkan relawan yang bertugas untuk penggalangan dana, selain itu setiap daerah akan kita bentuk Unit Pelayanan Zakat (UPZ).
“Ada empat program unggulan di Lazisku, yaitu beasiswa pendidikan, pemberdayaan UMKM, santunan fakir miskin dan gerakan wakaf uang,”jelas Ustadz Medy.
Dalam sesi rapat kerja dan pembahasan program kerja yang dipandu oleh Joko Suyantono dan M.Noor sebagai moderator, Ketua PD KB PII Jakarta Timur, Mohamad Anthoni membacakan hasil raker dan menyampaikan bahwa setelah dirinya di lantik, langsung memetakan kondisi keanggotaan, potensi yang ada, serta mengurus dan memastikan perizinan dan legalitas organisasi.
Acara rapat kerja PD KB PII Jakarta Timur tahun 2026 diakhiri dengan penyerahan hasil raker oleh M.Noor selaku ketua panitia pelaksana kepada Mohamad Anthoni selaku Ketua PD KB PII Jakarta Timur.
Pentingnya Dakwah Lingkungan
Dalam kegiatan raker dan halal bihalal tersebut, PD KB PII Jakarta Timur sengaja menghadirkan ‘Ceramah Tematik’ tentang Lingkungan Hidup, Tantangan dan Tanggapan Aktivis Dakwah’ dengan narasumber, Dr. Ir. Hayu S. Prabowo, M.Hum, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLHSDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Dakwah Lingkungan atau istilahnya ‘Hablum Minal Alam’, sebuah konsep dalam Islam yang menekankan pentingnya menjalin hubungan harmonis, menjaga keseimbangan, dan merawat alam lingkungan sekitar. Kondisi ini mencakup tanggung jawab manusia untuk tidak merusak bumi, melestarikan ekosistem, dan mengolah sampah dengan bijak sebagai bagian dari tanggung jawab moral.
Dr. Hayu S. Prabowo dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa pelestarian alam adalah kunci kehidupan berkelanjutan, di mana manusia bertanggung jawab menjaga keseimbangan ekosistem (khilafah) dan menghindari kerusakan (mudarat). Selain itu beliau juga menekankan bahwa krisis lingkungan adalah krisis moral, dimana manusia harus beralih dari eksploitasi menuju konservasi.
Dalam pandangan Dr. Hayu S Prabowo yang selama ini aktif mendorong pelestarian alam berbasis spiritualitas dan hukum Islam, bahwa pentingnya ‘Dakwah Lingkungan Hidup’, yang mencakup beberapa aspek, yaitu :
Pertama, Fikih Lingkungan (Eko-Islam), mendorong pandangan bahwa pelestarian lingkungan adalah bagian dari iman dan kewajiban agama, bukan sekedar isu sosial. Menjaga alam bukanlah tren, melainkan cerminan iman. Rasulullah SAW menekankan pentingnya kebersihan dan kelestarian alam sebagai wujud syukur dan amanah Alloh SWT.
Kedua, Gerakan EcoMasjid, mempromosikan rumah ibadah ramah lingkungan, termasuk pengelolaan sampah, efisiensi energi, dan konservasi air di masjid. Lingkungan yang terjaga secara langsung berdampak pada kesehatan fisik, menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman dan terhindar dari penyakit.
Ketiga, Fatwa Lingkungan, aktif dalam perumusan fatwa MUI mengenai lingkungan, termasuk fatwa larangan membakar hutan dan lahan, serta fatwa perubahan iklim yang mengharamkan perusakan alam secara masif. Mencegah kerusakan bumi, dakwah linkungan mendidik umat untuk tidak berbuat kerusakan di darat dan laut, yang merupakan akibat dari perilaku manusia seperti yang diperingatkan dalam (QS A-Rum : 41).
Keempat, Restorasi Ekosistem, fokus pada restorasi ekosistem seperti sungai untuk meningkatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi risiko bencana. Dakwah lingkungan mendorong transformasi dari perialku eksplosif menuju pelestarian, mengubah egoisme menjadi empati terhadap mahluk hidup lainnya.
Dan yang Kelima, Aksi Iklim Berbasis Komunitas, mendorong tindakan nyata seperti penanaman pohon dan pengelolaan zakat/wakaf hijau untuk pendanaan aksi lingkungan. Dakwah ekologis merupakan jalan baru dakwah yang relevan untuk mengatasi krisis global seperti perubahan iklim, sampah dan pencemaran.
“Tanggung jawab kekhalifahan, manusia diutus sebagai pemimpin yang melayani (khalifah) untuk memakmurkan bumi, bukan mengekploitasinya secara sewenang-wenang. Dakwah lingkungan tidak boleh terbatas pada ceramah ritual, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata,”pungkas Dr Hayu S Prabowo. – (ratman/pp)






LEAVE A REPLY