Home Opini No Kings, Meledak di Amerika: Rakyat AS Tolak Perang Iran

No Kings, Meledak di Amerika: Rakyat AS Tolak Perang Iran

259
0
SHARE
No Kings, Meledak di Amerika: Rakyat AS Tolak Perang Iran

Oleh : Malika Dwi Ana
Penulis, Editor & Pengamat Sosial Politik

Gelombang demonstrasi anti-perang terbesar dalam beberapa tahun terakhir mengguncang Amerika Serikat. Ribuan aksi bertajuk "No Kings" berlangsung secara serentak di lebih dari 3.000 lokasi di seluruh 50 negara bagian pada Sabtu kemarin.

Penyelenggara memperkirakan jutaan warga turun ke jalan, dari kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, Chicago, dan Washington D.C. hingga kota kecil di berbagai pelosok. Isu utama yang diusung adalah penolakan terhadap perang AS-Israel melawan Iran, kritik terhadap kebijakan imigrasi Trump, serta kenaikan biaya hidup akibat lonjakan harga minyak dan inflasi.

Demonstran membawa spanduk bertuliskan “Stop the War on Iran”, “Not Our War”, dan “America First, Not Israel First”. Sebagian besar aksi berlangsung damai dengan orasi dan marching, meski di beberapa titik terjadi bentrokan kecil dengan aparat.

Protes ini muncul sebagai respons langsung terhadap serangan militer AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari lalu yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan merusak sejumlah fasilitas strategis. Biaya perang yang terus membengkak, korban jiwa di pihak AS yang mulai bertambah, serta dampak ekonomi domestik berupa lonjakan harga minyak membuat banyak warga Amerika semakin muak.

Banyak demonstran menilai perang ini bukan untuk kepentingan Amerika, melainkan lebih untuk kepentingan Israel dan kompleks militer-industri. Senator progresif Bernie Sanders bahkan turun langsung berpidato di salah satu aksi utama, menuduh pemerintahan Trump “membohongi rakyat” mengenai alasan sebenarnya perang tersebut.

Relevansi bagi Indonesia

Demonstrasi besar di AS ini menunjukkan bahwa opini publik Amerika mulai berbalik melawan perang berkepanjangan — pola yang sama seperti yang terjadi pada Perang Vietnam dan Afghanistan. Bagi Indonesia, ini menjadi sinyal penting.

Kenaikan harga minyak akibat konflik ini telah membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui subsidi BBM. Jika perang berlarut-larut, tekanan inflasi pada energi dan pangan akan semakin berat.

Pelajaran yang Harus Diambil

Aksi “No Kings” merupakan gelombang ketiga protes massal terhadap kebijakan Trump. Protes ini bukan sekadar anti-perang Iran, melainkan juga penolakan terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap otoriter dan terlalu condong kepada kepentingan elite.

Bagi Indonesia, demonstrasi ini menjadi pengingat bahwa perang jauh di Timur Tengah tidak hanya memakan korban di sana, tetapi juga membebani rakyat biasa di seluruh dunia — termasuk kita — melalui kenaikan harga BBM, inflasi, dan ancaman krisis pangan.

Pemerintah Indonesia seharusnya tidak hanya “memantau” situasi. Sudah saatnya menyusun strategi konkrit untuk diversifikasi sumber energi dan pangan agar tidak terus menjadi korban fluktuasi global yang diciptakan oleh konflik besar.

Sejarah telah berulang kali membuktikan: bahwa perang yang tidak didukung oleh rakyatnya sendiri jarang berakhir dengan kemenangan — baik bagi penyerang maupun korban.

Apakah gelombang protes ini akan memaksa perubahan kebijakan Trump? Kita tunggu perkembangannya dalam beberapa minggu mendatang. (*)