
Keterangan Gambar : Foto: Dok PB Alwashliyah, cover buku Udin Sjamsuddin: Laskar Masjumi dari Tanah Deli oleh Dr. Ja
Ketika Syekh H. M. Arsyad Thalib Lubis mundur dari jabatan Ketua Umum Al Washliyah tahun 1956, organisasi itu masuk masa paling rawan. Pengaruh Arsyad (Ketum ke-2) terlalu besar. Tanpa dia di kursi harian, banyak cabang yang bingung arah. Di titik itulah H. Udin Sjamsuddin muncul sebagai penyeimbang.
Baca: Ketum Al Washliyah ke-2, Arsyad Thalib Lubis: Penuntun Perang Sabil
Terpilih di Muktamar ke-7 Al Washliyah di Medan tahun 1958, Udin Sjamsuddin memimpin selama 4 tahun hingga 1962. Masanya singkat, tapi perannya krusial: menstabilkan organisasi, merumuskan kembali identitas Al Washliyah, dan menjaga agar organisasi tetap moderat di tengah gejolak politik Orde Lama.
Penyeimbang
Arsyad Thalib Lubis adalah tokoh karismatik yang memimpin 24 tahun. Setelah dia mundur, Al Washliyah berpotensi pecah karena ketergantungan pada satu figur.
Udin Sjamsuddin memilih jalur berbeda. Dia tidak mencoba jadi “Arsyad kedua”. Gaya kepemimpinannya lebih administratif dan kolektif. Dia memperkuat peran Majelis Pimpinan Harian dan mengaktifkan kembali struktur wilayah yang sempat mati suri.
Hasilnya, cabang-cabang Al Washliyah di Sumatera Utara, Aceh, dan Riau yang sempat pasif mulai hidup lagi. Rapat kerja wilayah kembali digelar rutin. Ini fondasi penting agar organisasi tidak bubar setelah kehilangan pemimpin sentral.
Merumuskan Identitas Al Washliyah Moderat
Prestasi terbesar Udin Sjamsuddin adalah merumuskan kembali makna “Al Washliyah” dalam konteks Indonesia pasca kemerdekaan.
Dalam tulisannya yang kemudian jadi rujukan resmi AD/ART, dia menulis:
“Al Washliyah itu tali persaudaraan rohaniah dan jasmaniah senusa, sebangsa, se-Tanah Air dari Sabang sampai Merauke. Al Washliyah bercita-cita mengulurkan tali sutera persaudaraan Islam itu dari Merauke sampai Maroko, dari Mekkah ke Maccao.”
Makna ini memperluas definisi awal Al Washliyah sebagai “penghubung”. Udin menegaskan bahwa Al Washliyah bukan organisasi kedaerahan, tapi nasional bahkan internasional. Visi ini mencegah Al Washliyah terjebak dalam politik identitas sempit.
Yang lebih penting, dia menegaskan karakter moderat organisasi. Di era ketika NU dan Masyumi hampir pecah, Udin Sjamsuddin aktif melakukan lobi agar NU tidak keluar dari Masyumi. Alasannya sederhana: perpecahan hanya merugikan perjuangan umat Islam. Sikap ini membuat Al Washliyah dikenal sebagai penengah, bukan provokator.
Memperkuat Pilar Pendidikan dan Sosial
Meski hanya 4 tahun memimpin, Udin Sjamsuddin melanjutkan program pendidikan yang dirintis Arsyad Thalib Lubis. Fokusnya ada pada dua hal:
Perluasan madrasah ke pedalaman: Di bawah kepemimpinannya, Al Washliyah membuka cabang baru di Tanah Karo, Simalungun, dan Tapanuli Selatan. Tujuannya untuk menutup ruang gerak misi zending yang masih aktif di daerah itu.
Penguatan panti asuhan: Udin Sjamsuddin mendorong agar panti asuhan Al Washliyah tidak hanya jadi tempat penampungan, tapi juga pusat pendidikan karakter. Sistem pembinaan santri panti mulai distandarkan di tingkat pusat.
Langkah ini penting karena tahun 1958-1962 adalah masa transisi politik yang tidak stabil. Dengan memperkuat pendidikan dan sosial, Al Washliyah tetap relevan di tengah masyarakat meskipun politik nasional sedang gaduh.
Menjaga Jarak dengan Politik Praktis
Salah satu keputusan penting Udin Sjamsuddin adalah menjaga Al Washliyah tidak jadi kendaraan politik partai tertentu.
Tahun 1950-an adalah masa politik Islam terpecah antara Masyumi, NU, dan PSI. Banyak ormas yang terseret. Udin memilih jalur netral. Al Washliyah tetap fokus pada dakwah dan pendidikan, bukan kursi DPR.
Sikap ini kemudian jadi tradisi organisasi. Sampai sekarang Al Washliyah dikenal sebagai ormas yang tidak berafiliasi langsung ke partai politik. Fondasinya diletakkan di masa Udin Sjamsuddin.
Warisan
Nama H. Udin Sjamsuddin diabadikan di Auditorium Udin Sjamsuddin-Djalaluddin Lubis di Kampus UMN Al Washliyah Medan. Setiap tahun auditorium ini jadi tempat pelatihan kader dan finalisasi buku ajar kealwashliyahan.
Ulasannya tentang makna Al Washliyah juga masih diajarkan di mata kuliah Kealwashliyahan di seluruh perguruan tinggi Al Washliyah. Jadi meski masa jabatannya singkat, jejaknya hidup di kurikulum dan identitas organisasi.***(disarikan dari berbagai sumber)






LEAVE A REPLY