Home Seni Budaya Alvin Hardianto dan Ikhtiar Menjaga Rasa dalam Musik

Alvin Hardianto dan Ikhtiar Menjaga Rasa dalam Musik

95
0
SHARE
Alvin Hardianto dan Ikhtiar Menjaga Rasa dalam Musik

Keterangan Gambar : Alvin Hardianto, musisi dan arranger asal Tangerang Selatan. Foto: Dok. pribadi/Instagram @alvin_hardianto

Musik tidak selalu lahir dari panggung yang besar atau sorotan lampu yang terang. Ada banyak karya yang justru tumbuh dari ruang-ruang sunyi, dari proses panjang di balik layar, dan dari kegelisahan seorang musisi dalam mencari bentuk terbaik untuk menyampaikan rasa.

Hal itu terlihat dalam perjalanan Alvin Hardianto, musisi, arranger, dan songwriter independen asal Tangerang Selatan. Lahir pada 1993, Alvin memulai perjalanan musiknya dari gitar sebelum mendalami home recording, keyboard, dan aransemen musik. Kini, ia lebih banyak dikenal sebagai musisi balik layar yang mengedepankan rasa, dinamika, dan pendekatan sederhana namun emosional dalam karya-karyanya.

Perjalanan Alvin tidak dimulai secara instan. Ketertarikannya pada musik sudah muncul sejak kecil, ketika ia mulai mengenal dunia seni dari lingkungan keluarga. Sang kakek, Soekemi, merupakan seniman keroncong dan pemain biola yang pernah berada dalam satu grup keroncong bersama almarhum Idris Sardi.

Dari lingkungan itulah Alvin mulai akrab dengan musik. Sejak kecil, ia beberapa kali diajak menemani kakeknya berlatih musik. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting yang memperkenalkannya pada dunia bunyi, rasa, dan proses kreatif secara lebih dekat.

Saat remaja, Alvin sempat menekuni gitar elektrik dan musik rock. Namun, seiring waktu, ia merasa perlu mencari ruang ekspresi lain. Ia kemudian mendalami gitar akustik, terutama solo fingerstyle, dan aktif mengikuti komunitas gitar sekitar tahun 2013.

Perjalanan musikal Alvin kembali berubah ketika ia mulai masuk ke dunia home recording sekitar tahun 2017. Dari proses belajar DAW dan kebutuhan membuat aransemen, ia mulai mempelajari keyboard dan piano. Tidak disangka, instrumen tersebut justru membuat Alvin merasa lebih bebas dalam menyalurkan perasaan.

“Awalnya saya gitaris. Tapi ketika belajar keyboard dan piano, saya merasa instrumen itu lebih bisa menyalurkan perasaan saya,” ujar Alvin.

Dari situlah Alvin mulai membuka ruang baru dalam karier musiknya. Ia membuat aransemen untuk orang lain, mengerjakan musik untuk sejumlah penyanyi dan kreator, hingga perlahan lebih dikenal sebagai arranger.

Namun, bagi Alvin, menjadi musisi bukan hanya soal kemampuan teknis. Ia melihat musik sebagai bahasa perasaan. Karena itu, dalam proses kreatif, ia tidak hanya memperhatikan susunan nada atau pilihan instrumen, tetapi juga pesan dan rasa yang ingin disampaikan.

Saat membuat lagu, Alvin biasanya memulai dari mood atau cerita terlebih dahulu. Dari sana, proses berkembang ke lirik, chord, dan melodi. Sementara dalam membuat aransemen, ia lebih dulu memperhatikan melodi, kemudian lirik, lalu rasa keseluruhan dari lagu tersebut.

Baginya, aransemen tidak harus selalu megah atau ramai. Musik yang sederhana tetap bisa menyentuh selama memiliki kejujuran rasa.

“Saya lebih suka aransemen yang sederhana tapi emosional. Buat segalanya menjadi simpel, tapi tetap menyentuh intinya,” kata Alvin.

Dalam karya-karya personalnya, Alvin kerap bermain dengan dinamika. Ia senang memulai musik dari bagian yang pelan, lalu perlahan membangun suasana hingga melebar di bagian tengah atau chorus. Pilihan chord yang kaya, termasuk chord 7, juga menjadi salah satu warna yang sering muncul dalam pendekatan musikalnya.

Di tengah perkembangan industri musik saat ini, Alvin menyadari bahwa tantangan musisi semakin kompleks. Proses produksi musik menjadi jauh lebih mudah. Banyak musisi baru bermunculan, sementara teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, mulai memberi pengaruh pada cara orang membuat musik.

Bagi Alvin, perkembangan teknologi bukan sesuatu yang harus ditolak. Namun, ia percaya bahwa musisi tetap perlu menjaga kepekaan dan rasa dalam berkarya. Teknologi bisa membantu proses, tetapi pengalaman manusia, kejujuran, dan emosi tetap menjadi bagian penting dalam sebuah karya.

“Sekarang semakin banyak musisi pendatang baru karena proses produksi makin mudah, bahkan ditambah era musik AI. Tapi kita sebagai musisi yang punya perasaan utuh tetap harus terus berkembang,” ujar Alvin.

Sebagai musisi independen, Alvin juga memahami bahwa perjalanan kreatif tidak selalu mudah. Ada ketidakpastian, tantangan finansial, dan proses panjang yang harus dijalani. Meski begitu, ia merasa kebebasan berkarya memberi ruang untuk menjadi diri sendiri.

Bagi Alvin, seseorang bisa saja mengikuti jalan yang dianggap aman dan terlihat hidup secara fisik. Namun, belum tentu perasaannya benar-benar merasakan hidup. Musik, bagi Alvin, menjadi salah satu cara untuk menjaga dirinya tetap terhubung dengan rasa dan kejujuran batin.

Saat ini, Alvin lebih nyaman bekerja dari balik layar. Ia merasa ruang tersebut memberinya kebebasan untuk mengeksplorasi ide, membangun aransemen, dan menyalurkan emosi melalui musik.

“Saya lebih suka di belakang layar, karena di situ saya merasa lebih bebas,” tuturnya.

Ke depan, Alvin ingin terus menulis lagu dan membuat karya untuk penyanyi lain. Ia juga mulai tertarik mengeksplorasi musik elektronik, tanpa meninggalkan pendekatan rasa yang selama ini menjadi bagian penting dalam proses kreatifnya.

Dalam satu hingga dua tahun ke depan, Alvin berharap publik dapat mengenalnya sebagai musisi yang bekerja dengan rasa. Bukan hanya membuat musik yang terdengar bagus, tetapi juga musik yang mampu membuat orang merasakan sesuatu.

“Saya ingin dikenal sebagai musisi yang bekerja dengan rasa. Bukan hanya membuat musik yang terdengar bagus, tapi juga musik yang bisa membuat orang merasakan sesuatu. Mau dari balik layar atau lewat karya sendiri, saya ingin tetap konsisten dan jujur dalam berkarya,” tutup Alvin.  - (rd/pp)