Home Profil Ketum Al Washliyah ke-2, Arsyad Thalib Lubis: Penuntun Perang Sabil

Ketum Al Washliyah ke-2, Arsyad Thalib Lubis: Penuntun Perang Sabil

Oleh : Ismail Lutan

119
0
SHARE
Ketum Al Washliyah ke-2, Arsyad Thalib Lubis: Penuntun Perang Sabil

Keterangan Gambar : Syekh H. M. Arsyad Thalib Lubis (foto dok PB Al Washliyah)

Ormas Islam terbesar dari Sumatera, Al Washliyah, akan menyelenggarakan Muktamar ke-23 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 7-10 Juli 2026. Artikel  ini menampilkan profil Ketua Umum ke-2 Syekh H. M. Arsyad Thalib Lubis.

Di tengah hiruk pikuk revolusi 1945-1949, ada satu nama yang masuk daftar pantauan khusus Belanda di Sumatera Timur: Syekh H. M. Arsyad Thalib Lubis. Bukan jenderal, bukan politisi. Dia ulama muda dari Al Washliyah yang senjata utamanya cuma tiga: ilmu, fatwa, dan keberanian turun ke kampung.

Belanda menjulukinya “pendakwah yang paling berbahaya”. Alasannya sederhana: setiap kali Arsyad datang, kampung yang hampir pindah agama batal. Setiap kali fatwanya dibaca, pemuda yang ragu langsung angkat senjata.

Sejak Usia 16 Tahun

Arsyad lahir Oktober 1908 di Stabat, Langkat. Ayahnya, Lebai Thalib, guru ngaji yang disegani. Sejak kecil Arsyad sudah akrab dengan kitab. Umur 16 tahun dia sudah naik mimbar.

Tahun 1928, saat kuliah di Maktab Islamiyah Tapanuli Medan, Arsyad bersama H. Ismail Banda dan H. Abdurrahman Syihab bikin forum Debating Club. Forum inilah cikal bakal Al Jamiatul Washliyah. Tanggal 30 November 1930, organisasi itu resmi berdiri. Arsyad yang baru 22 tahun langsung ditunjuk jadi Sekretaris Jenderal pertama.

baca: Ismail Banda: Sang Arsitek Al Washliyah, Sahid di Teheran

Tapi Arsyad bukan tipe pengurus yang betah di meja. Selesai kuliah, dia turun ke lapangan. Dari 1926 sampai 1957, dia mengajar di madrasah Al Washliyah di Langkat, Binjai, Medan. Fokusnya jelas: membina generasi yang paham aqidah dan nggak gampang goyah.

Penuntun Perang Sabil

Tahun 1945, Belanda mau balik lagi ke Indonesia. Arsyad langsung bergerak. November 1945, dia menulis buku kecil berjudul Penuntun Perang Sabil

Baca: Syekh H. Kadhy M. Ilyas, Ketua Transisi: Pembawa Tradisi Pawai Maulid Nabi

Buku itu jadi panduan praktis laskar Hizbullah dan Sabilillah di Sumatera Timur. Isinya tegas: wajib melawan Belanda yang ingin menjajah kembali. Siapa yang mati di medan perang disebut syahid, tidak wajib dimandikan dan dikafankan, cukup dishalatkan.

Fatwa ini mendongkrak moral pejuang. Banyak pemuda yang awalnya ragu langsung bergabung. Belanda mencatat Arsyad sebagai penghasut nomor satu di Sumatera Timur. Tanggal 23 Maret 1949, dia ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Suka Mulia Medan.

Di penjara, kabar duka datang. Istrinya meninggal. Dengan pengawalan ketat, Arsyad diizinkan melayat sebentar, lalu dikembalikan ke sel. Setelah bebas pasca KMB 1949, dia memutuskan tidak menikah lagi. Hidupnya diwakafkan untuk dakwah dan pendidikan.

Membalikkan Arah Zending

Tahun 1930-an, Sumatera Timur jadi target utama misi Kristenisasi Belanda. Mereka buka sekolah, klinik, bagi-bagi sembako di kampung-kampung miskin di Karo, Simalungun, Tapanuli. Banyak kampung yang hampir berpindah agama.

Di sinilah Arsyad turun tangan. Dia dikenal sebagai ahli kristologi. Tapi dia tidak debat untuk menang-menangan. Dia datang ke kampung, kumpulkan warga, lalu adakan dialog terbuka dengan pendeta zending.

Modalnya bukan cuma hafalan Al-Quran. Arsyad menguasai Alkitab, sejarah gereja, dan teologi Kristen. Pertanyaannya tajam tapi santun. Banyak pendeta yang kewalahan menjawab. Masyarakat yang menyaksikan akhirnya memilih tetap Islam.

Gayanya sederhana: jalan kaki masuk kampung, nginap di rumah warga, dakwah sampai larut malam. Karena cara ini, banyak kampung yang batal pindah agama. Belanda menyebutnya “penghalang utama misi zending di Sumatera Timur”. Julukan “misionaris yang ditakuti” melekat sejak saat itu.

Kekuatan Pendidikan

Setelah revolusi selesai, Arsyad mengalihkan perang ke bidang pendidikan. Dia sadar, tanpa sekolah Islam yang kuat, dakwah tidak akan bertahan.

Di masa kepemimpinannya 1932-1956, Al Washliyah membuka puluhan madrasah dari Aceh sampai Tapanuli. Muridnya bukan hanya anak kota, tapi juga anak petani di pedalaman yang ia datangi dengan jalan kaki.

Puncak prestasinya adalah pendirian Universitas Islam Sumatera Utara 1954. Arsyad jadi guru besar Fiqh dan Ushul Fiqh. Dia juga mendirikan Universitas Al Washliyah Medan. Tujuannya satu: lahirkan ulama yang paham zaman dan siap membina umat.

Di tangannya, Al Washliyah berubah dari organisasi dakwah kecil jadi kekuatan pendidikan terbesar di Sumatera Utara. Sampai sekarang, kampus dan madrasah yang dia dirikan masih aktif mencetak kader.

Warisan

Arsyad Thalib Lubis wafat 6 Juli 1972. Tidak ada gelar pahlawan nasional, tidak ada upacara besar. Tapi pengaruhnya hidup sampai sekarang.

Belanda dulu takut bukan karena dia punya pasukan. Mereka takut karena Arsyad punya ilmu yang tidak bisa dibantah, keberanian yang tidak bisa dibeli, dan kemauan turun langsung ke rakyat kecil.

Dia membuktikan bahwa dakwah tidak harus menunggu jamaah datang ke masjid. Dakwah harus mengejar umat, bahkan kalau harus melewati hutan, sungai, dan pos penjagaan Belanda.

Hari ini, ketika Al Washliyah disebut sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Sumatera, kita sedang melihat hasil kerja seorang ulama muda yang pada usia 22 tahun berani mendirikan organisasi, dan pada usia 37 tahun berani memfatwakan jihad.

Arsyad Thalib Lubis tidak pernah mencari gelar. Tapi sejarah sudah mencatatnya: dia adalah ulama yang membuat Belanda tidak bisa tidur nyenyak di Sumatera Timur.

Kalau hari ini kita masih bisa belajar agama dengan tenang di Sumatera Utara, sebagian besarnya adalah karena ada orang seperti dia yang lebih dulu berjuang.***