Home Profil H. Bahrum Jamil, SH., Ketum Al Washliyah Pendiri UISU

H. Bahrum Jamil, SH., Ketum Al Washliyah Pendiri UISU

Oleh: Ismail Lutan

62
0
SHARE
 H. Bahrum Jamil, SH., Ketum Al Washliyah Pendiri  UISU

Keterangan Gambar : H. Bahrum Jamil, SH (foto dok pb-Alwashliyah)

Ormas Islam terbesar dari Sumatera, Al Washliyah, akan menyelenggarakan Muktamar ke-23 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 7-10 Juli 2026. Artikel ini menampilkan profil Ketua Umum periode 1973-1986, H. Bahrum Jamil, SH.

Dalam panggung sejarah perkembangan Islam di Sumatera Utara, nama H. Bahrum Jamil, SH tidak dapat dipisahkan dari geliat modernisasi pendidikan umat. Sebagai Ketua Umum PB Al Washliyah (1973–1986), dia meyakini bahwa keterpurukan nasib umat Islam pasca-kemerdekaan hanya bisa dientaskan melalui jalur pendidikan tinggi yang berkualitas. Komitmen membaja inilah yang membawa beliau menjadi salah satu aktor intelektual utama di balik berdirinya Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), perguruan tinggi Islam tertua di pulau Sumatera.

Baca: H. Udin Sjamsuddin: Perumus Identitas Al Washliyah Moderat

Pintar Membaca Zaman

Pada awal dekade 1950-an, akses pemuda Islam di Sumatera Utara untuk mengenyam pendidikan tinggi sangat terbatas. Mayoritas madrasah hanya mampu mencetak lulusan di tingkat menengah. H. Bahrum Jamil bersama beberapa tokoh muda intelektual seperti Adnan Benawi dan Sabaruddin Ahmad melihat kesenjangan ini sebagai ancaman serius bagi masa depan umat.

Beliau menuangkan keresahan sekaligus visi besarnya dalam esai-esai pra-pendirian kampus. Beliau menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pembangunan bangsa. Bagi Bahrum Jamil, pendirian sebuah universitas Islam bukan sekadar proyek mercusuar, melainkan sebuah kebutuhan sosiologis untuk melahirkan "intelektual yang berulama" dan "ulama yang berintelektual".

Mendirikan UISU

Pada tanggal 7 Januari 1951, mimpi itu mulai mewujud. H. Bahrum Jamil bersama para koleganya resmi mendirikan UISU, yang diawali dengan pembukaan Fakultas Hukum dan Ilmu Kemasyarakatan. Proses pendirian ini bukanlah jalan yang bertabur fasilitas, melainkan sebuah ujian keikhlasan yang teramat berat.

Kepiawaian dan kegigihannya dalam fase awal ini tercermin dari beberapa, diantaranya, pengorbanan logistik dan finansial. Dalam memoarnya, dia melukiskan bagaimana mereka harus membangun kampus "batu demi batu di bawah panas yang terik". Tanpa subsidi besar dari pemerintah, Bahrum Jamil turun langsung menggalang dana dari umat, mengetuk pintu para dermawan, hingga merelakan waktu pribadinya demi tegaknya tiang-tiang ruang kuliah.

Arsitek Kurikulum Berkarakter

Berbekal latar belakangnya sebagai Sarjana Hukum dan didikan ulama besar Al Washliyah, Beliau ikut merumuskan cetak biru kurikulum UISU. Beliau memadukan ilmu-ilmu umum (modern) dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan secara integral, sebuah konsep yang melampaui zamannya pada masa itu.

Selama puluhan tahun membesarkan UISU, kampus ini berkali-kali dihantam dinamika politik nasional dan keterbatasan dana. Kepemimpinan Bahrum Jamil yang tenang, taktis, dan persuasif berhasil menjaga stabilitas kampus, sehingga UISU tetap eksis dan terus melahirkan ribuan alumni.

Warisan Abadi 

Bagi H. Bahrum Jamil, SH, UISU adalah monumen hidup dari sebuah cita-cita besar. Keberhasilan beliau mendirikan dan membesarkan UISU memicu gelombang berdirinya berbagai perguruan tinggi Islam swasta lain di Sumatera Utara, termasuk menginspirasi Al Washliyah untuk mendirikan Universitas Al Washliyah (UNIVA) di kemudian hari.

Beliau membuktikan bahwa dengan modal idealisme, kerja keras, dan jaringan organisasi, anak-anak daerah mampu mendirikan universitas yang disegani di tingkat nasional. Kini, sebagai bentuk penghormatan abadi atas jasa besarnya, nama H. Bahrum Jamil disematkan sebagai nama jalan utama yang membelah kompleks kampus UISU Medan—sebuah pengingat bagi setiap mahasiswa yang melintas bahwa kampus tempat mereka menimba ilmu lahir dari tetesan keringat dan visi besar seorang pejuang literasi dan pendidikan.***