
Keterangan Gambar : Jaringan Program Lansia Nasional (JPLN) UMMIKU menggelar Workshop Tata Kelola Pesantren dan Sekolah Lansia di Hotel Lor in Syariah Solo, Kamis (14/5) (sumber foto : ist/pp)
Dr. Ahmad Mifdlol Muthohar Nahkodai JPLN Jawa Tengah
SOLO, II Parahyangan Post — Jaringan Program Lansia Nasional (JPLN) UMMIKU menggelar Workshop Tata Kelola Pesantren dan Sekolah Lansia di Hotel Lor in Syariah Solo, Kamis (14/5). Kegiatan ini diikuti oleh 120 peserta yang merupakan perwakilan dari berbagai kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Workshop tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat pemberdayaan lansia berbasis spiritual, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Selain sesi penguatan kapasitas, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pelantikan Pengurus JPLN Wilayah Jawa Tengah serta Pengurus Daerah Kabupaten/Kota Masa Khidmat 2026–2029.
Dalam forum tersebut, Dr. Ahmad Mifdlol Muthohar, Lc., M.S.I. resmi terpilih dan dilantik sebagai Ketua JPLN Wilayah Jawa Tengah.
Mewujudkan Lansia Berdaya dan Bermartabat
Dalam sambutannya usai pelantikan, Dr. Ahmad Mifdlol Muthohar menegaskan komitmennya untuk menjadikan pelayanan lansia sebagai gerakan kolektif yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Tagline ‘Lansia Berdaya, Jateng Sejahtera’ bukan sekadar slogan. Ini adalah arah perjuangan agar para lansia di Jawa Tengah tetap sehat, produktif, mandiri, bermartabat, dan bahagia. Lansia adalah aset peradaban yang memiliki peran vital dalam keluarga dan masyarakat,” tegas Dr. Mifdlol.
Ketua Umum JPLN UMMIKU Pusat, Aan Suherlan, menambahkan bahwa tantangan aging population di Indonesia membutuhkan model pelayanan lansia yang terintegrasi, profesional, dan berkelanjutan. Melalui workshop ini, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai standardisasi kurikulum, strategi integrasi program pemerintah, hingga penguatan kemandirian ekonomi lansia.
Dampak Nyata bagi Masyarakat
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan positif selama kegiatan berlangsung. Salah satunya disampaikan oleh Marhamah, aktivis program lansia dari kawasan lereng Telomoyo.
“Workshop ini sangat aplikatif. Kami kini memiliki panduan tata kelola yang lebih jelas untuk membangun layanan lansia yang terstruktur dan berkelanjutan di tingkat akar rumput,” ungkapnya.
Target Strategis: Satu Kabupaten, Satu Pesantren Lansia
Berdasarkan data hingga Mei 2026, Jawa Tengah memiliki sekitar 4,53 juta penduduk lansia. Menyikapi kondisi tersebut, JPLN Jawa Tengah menargetkan pembentukan struktur organisasi hingga tingkat kecamatan serta pendirian Pesantren dan Sekolah Lansia di setiap kabupaten/kota di Jawa Tengah sebagai tindak lanjut nyata dari workshop ini.
Melalui sinergi antara akademisi, tokoh masyarakat, pemerintah, dan komunitas keagamaan, gerakan ini diharapkan mampu membangun ekosistem ramah lansia yang lebih bermartabat, mandiri, dan berkelanjutan di Jawa Tengah. - (win/rd/pp)






LEAVE A REPLY