Oleh : Salma Rohimah R,
Mahasiswi UPI, Aktivis Muslimah
Menteri Israel, Smotrich menyerukan penghancuran seluruh wilayah Gaza dan mengusir paksa seluruh warganya. Seruan ini senada dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Februari 2025. Ia mengusulkan agar warga Palestina di Gaza dipindahkan ke sejumlah negara tetangga secara permanen. Kemudian mengubah wilayahnya menjadi “Riviera Timur Tengah” di bawah kekuasaan AS. Usulan tersebut memicu kemarahan di seluruh dunia.
Lebih dari itu, AS telah menyiapkan pembangunan “New Gaza”. Pembangunan dilakukan untuk memperbarui wilayah Gaza yang telah hancur. Dengan mendirikan berbagai kawasan industri dilengkapi puluhan gedung pencakar langit. Peta pembangunan tersebut dipresentasikan oleh menantu Trump, Jared Kushner di Davos, Swiss pada Kamis (22/01). Kushner menyampaikan akan menerapkan “prinsip-prinsip ekonomi pasar bebas” di Gaza layaknya AS.
Bersamaan dengan itu, AS membentuk “Dewan Perdamaian” atau Board of Peace (BoP) dengan dalih untuk menyelesaikan konflik di jalur Gaza. Lebih luasnya BoP dirancang untuk menangani berbagai konflik global halnya PBB. Diketuai Donald Trump, AS mengundang puluhan negara untuk bergabung ke dalamnya. Tercatat sejumlah negara muslim yang turut serta seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Mesir, hingga Indonesia. Tak terkecuali Israel.
Penulis Palestina – Amerika menyebutkan tujuan pembangunan “New Gaza” yakni untuk memusnahkan tatanan sosial dan karakter asli Gaza. Mengubah sisa penduduknya menjadi pekerja murah untuk mengelola industri dan sektor pariwisata mereka. Rancangan ini jelas menunjukkan adanya ambisi AS dan Israel yang tak lain sebagai siasat untuk menguasai seluruh Gaza dan menghilangkan jejak genosida. Upaya yang dilakukan AS untuk memperkuat kendali politik internasional yakni dengan merangkul negeri-negeri muslim untuk tergabung ke dalam Board of Peace.
Padahal sejatinya, wilayah Gaza dan Palestina merupakan tanah kaum muslimin yang dirampas oleh Israel. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang kaum muslimin untuk tunduk patuh dan memberikan loyalitas pada negara kafir. Firman-Nya dalam al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia” (QS. Al Mumtahanah : 1).
Demikian pula hendaknya kaum muslimin tidak menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dengan mengesampingkan orang-orang mukmin.” (QS. Ali ‘Imran : 28). Sehingga tidaklah pantas kaum muslimin mengikuti kehendak orang kafir, apalagi sampai memberikan loyalitas.
Sudah sepatutnya orang-orang beriman menaati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni memerangi orang kafir demi menjaga agama dan kelestarian umat manusia. Firman-Nya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.” (QS. Al-Baqarah : 216). Ayat ini menjadi dalil wajibnya umat dan penguasa dunia Islam untuk melawan seluruh makar AS dan Israel dalam ambisinya menguasai Gaza. Kewajiban tersebut dapat terealisasi dengan menegakkan Khilafah Islamiyah dan jihad untuk membebaskan Palestina. Hal ini wajib menjadi prioritas perjuangan umat bersama partai politik Islam ideologis.





LEAVE A REPLY