Home Opini Menjadikan Someah sebagai Etika Masa Depan Ruang Digital

Menjadikan Someah sebagai Etika Masa Depan Ruang Digital

59
0
SHARE
Menjadikan Someah sebagai Etika Masa Depan Ruang Digital

Oleh: Mugi Muryadi
Penulis adalah wisaswastawan, pegiat literasi, pemerhati sosial, lingkungan, dan pendidikan

BANYAK - Orang menganggap dunia digital sebagai ruang tanpa batas dan tanpa konsekuensi. Padahal, setiap kata yang ditulis memiliki dampak nyata terhadap orang lain. Komentar yang kasar dapat melukai. Fitnah dapat merusak reputasi. Perundungan digital dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. UNESCO dalam publikasi Creating Safe Digital Spaces (2021) menegaskan bahwa kekerasan dan perundungan digital telah menjadi tantangan serius yang mengancam kualitas interaksi sosial masyarakat modern. Karena itu, pembangunan teknologi harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter. Di sinilah budaya lokal dapat menawarkan solusi yang sering terlupakan. 

Masyarakat Sunda memiliki warisan budaya yang kaya akan nilai kemanusiaan. Salah satu nilai yang paling dikenal adalah karakter someah. Dalam kehidupan sehari-hari, someah sering dipahami sebagai sikap ramah, santun, terbuka, dan menghargai orang lain. Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar murah senyum atau bersikap sopan kepada tamu. Someah merupakan cara pandang yang menempatkan penghormatan terhadap sesama sebagai dasar hubungan sosial. 

Karakter ini telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda. Catatan pelaut Portugis Tome Pires dalam Suma Oriental sekitar tahun 1512–1515 menggambarkan masyarakat Sunda sebagai kelompok yang jujur, terbuka, dan memiliki karakter sosial yang baik. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai kesantunan dan penghormatan terhadap orang lain bukanlah fenomena baru. Nilai itu telah hidup dan diwariskan selama berabad-abad. 

Karakter someah juga tidak dapat dipisahkan dari falsafah Sunda yang terkenal, yaitu Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh. Falsafah ini mengajarkan pentingnya saling menyayangi, saling mendidik, dan saling menjaga. Ketiga prinsip tersebut sesungguhnya merupakan fondasi hubungan sosial yang sehat. Jika diterapkan dalam dunia digital, falsafah itu dapat menjadi pedoman etika yang sangat relevan. 

Silih Asih mengajarkan empati. Dalam media sosial, empati berarti memahami bahwa setiap akun dikelola oleh manusia yang memiliki perasaan. Silih Asah mengajarkan pentingnya berbagi pengetahuan dan mencerdaskan sesama. Dalam konteks digital, hal itu berarti membangun budaya diskusi yang argumentatif, bukan emosional. Sementara Silih Asuh mengajarkan tanggung jawab untuk saling menjaga. Nilai ini dapat diwujudkan dengan melindungi ruang digital dari hoaks, ujaran kebencian, dan perundungan. 


Karakter someah memiliki kesamaan dengan konsep netiquette atau etika berinternet yang berkembang dalam kajian komunikasi digital modern. Keduanya sama-sama menekankan penghormatan terhadap orang lain, kehati-hatian dalam berkomunikasi, dan tanggung jawab sosial dalam menggunakan teknologi. Bedanya, netiquette lahir dari perkembangan teknologi, sedangkan someah berasal dari pengalaman budaya yang telah teruji oleh waktu. 

Masalahnya, banyak pengguna media sosial lebih tertarik memenangkan perdebatan daripada mencari kebenaran. Mereka merasa bebas berkata kasar karena tidak berhadapan langsung dengan lawan bicaranya. Anonimitas menciptakan keberanian semu. Orang yang santun dalam kehidupan nyata dapat berubah agresif ketika berada di balik layar. Akibatnya, ruang digital dipenuhi kemarahan yang terus berputar tanpa arah. 

Dalam kondisi seperti itu, karakter someah menawarkan alternatif yang penting. Seseorang yang someah tidak akan serta-merta membalas hinaan dengan hinaan. Ia memahami perbedaan antara kritik dan penghinaan. Ia mampu menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan martabat orang lain. Sikap semacam inilah yang semakin dibutuhkan dalam kehidupan digital yang penuh polarisasi. 

Karakter someah tidak berdiri sendiri. Nilai tersebut terhubung dengan konsep besar yang selama ini diperkenalkan oleh Paguyuban Pasundan, yaitu Tri Jati Diri Sunda: Pengkuh Agamana, Luhung Elmuna, dan Jembar Budayana. Ketiga prinsip tersebut memberikan arah yang jelas mengenai bagaimana masyarakat menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya. 

Pengkuh Agamana mengajarkan keteguhan moral. Dalam dunia digital, keteguhan moral menjadi benteng terhadap berbagai bentuk manipulasi informasi. Orang yang memiliki pegangan nilai tidak mudah terprovokasi oleh narasi kebencian. Ia juga tidak mudah ikut menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya. 

Luhung Elmuna menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Nilai ini sangat relevan ketika masyarakat menghadapi ledakan informasi yang luar biasa besar. Salah satu penyebab utama penyebaran hoaks bukanlah kecanggihan teknologi, melainkan rendahnya kebiasaan memverifikasi informasi. Banyak orang membagikan berita hanya karena sesuai dengan keyakinannya, bukan karena kebenarannya telah terbukti. 

Di sinilah makna baru dari Silih Asah menemukan relevansinya. Jika dahulu proses saling belajar dilakukan melalui percakapan langsung, kini proses tersebut dapat berlangsung melalui platform digital. Pengguna media sosial dapat saling mengedukasi, berbagi referensi, dan meluruskan informasi yang keliru. Ruang digital yang sehat bukan ruang yang selalu sepakat, melainkan ruang yang memungkinkan perbedaan dibahas secara rasional dan bermartabat. 

Sementara itu, Jembar Budayana mengajarkan keterbukaan terhadap keberagaman. Dunia digital mempertemukan orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, bahasa, dan pandangan politik. Tanpa sikap terbuka, perbedaan mudah berubah menjadi konflik. Sebaliknya, keterbukaan budaya memungkinkan masyarakat melihat perbedaan sebagai kesempatan untuk belajar. 

Karena itu, literasi digital sesungguhnya tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan teknis menggunakan teknologi. Literasi digital juga harus mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami konteks budaya, dan membangun komunikasi yang beretika. Teknologi yang digunakan tanpa karakter hanya akan memperbesar masalah yang sudah ada. 

Perdebatan mengenai Bahasa Sunda beberapa tahun lalu memberikan pelajaran penting tentang hubungan antara budaya dan identitas. Ketika politikus Arteria Dahlan mempertanyakan penggunaan Bahasa Sunda dalam rapat kerja, respons publik Jawa Barat muncul sangat kuat. Reaksi tersebut menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa merupakan simbol identitas, harga diri, dan memori kolektif suatu masyarakat. 

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Mikihiro Moriyama, Guru Besar Nanzan University Jepang. Dalam kegiatan budaya yang diberitakan Universitas Padjadjaran pada 2021, Moriyama menyatakan bahwa hilangnya bahasa dapat berakibat pada hilangnya identitas budaya. Pernyataan itu mengingatkan bahwa budaya tidak hanya hidup dalam museum atau buku sejarah. Budaya hidup melalui bahasa, perilaku, dan cara manusia berinteraksi setiap hari. 

Kabar baiknya, globalisasi tidak selalu menjadi ancaman. Teknologi digital justru dapat menjadi sarana pelestarian budaya. Saat ini banyak kreator muda memperkenalkan Bahasa Sunda melalui video pendek, podcast, komedi digital, dan berbagai konten edukatif. Mereka membuktikan bahwa budaya lokal tidak harus berhadapan dengan modernitas. Keduanya dapat berjalan bersama dan saling menguatkan. 

Hal yang sama berlaku bagi karakter someah. Nilai tersebut tidak harus berhenti sebagai identitas budaya masyarakat Sunda. Someah dapat berkembang menjadi etika digital yang bersifat universal. Setiap orang, apa pun latar budayanya, dapat mempraktikkan sikap menghormati orang lain, menghindari ujaran kebencian, dan membangun komunikasi yang sehat. 

Karakter someah juga memiliki hubungan erat dengan semangat sabilulungan atau gotong royong. Di era digital, semangat ini terlihat dalam berbagai komunitas belajar, gerakan literasi, pengembangan usaha kecil, dan kolaborasi kreatif yang tumbuh melalui internet. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya menghasilkan konflik. Teknologi juga dapat memperkuat solidaritas sosial ketika digunakan dengan nilai yang tepat. 

Penerapan etika someah sebenarnya tidak memerlukan langkah besar. Semuanya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Menyapa dengan sopan dalam grup percakapan. Membaca informasi secara utuh sebelum membagikannya. Menghindari komentar yang merendahkan pihak lain. Memeriksa fakta sebelum bereaksi. Mendengarkan pendapat yang berbeda tanpa langsung marah. Kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang secara perlahan membentuk budaya digital yang sehat. 


Tantangan terbesar abad digital bukanlah menciptakan teknologi yang semakin canggih. Tantangan terbesar adalah menjaga kemanusiaan agar tidak tertinggal oleh kemajuan teknologi. Dalam konteks itu, karakter someah menawarkan pelajaran yang sangat berharga. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan harus berjalan bersama kesantunan. Kebebasan harus disertai tanggung jawab dan perbedaan harus dihadapi dengan penghormatan. (*)