
Keterangan Gambar : Sultan Musa - Penyair
ABAH DAN MAKNA DI BALIK SERPIHAN JEJAK KIDUNG BUJANGGA DERMAYU
Nak, setiap halaman punya cerita panjang,
saksi bisu perjalanan waktu
Ada cikal bakal sarat makna,
dengan aksara bagai cahaya
Namun bila kau tak mampu melihatnya,
mungkin bayang-bayang telah menggelapkan hatimu
Maka mohonlah pada-Nya,
tuk terangi kembali jalanmu dengan cahaya
percayalah bahwa,
setiap cahaya dalam kegelapan terdapat bayang -bayang
Nak, setiap guratan
adalah tumpah ruah kehidupan
Pelukan hangat yang selalu setia,
penanda restu yang tak pernah sia-sia
Menjadi bekal di serat jalan tua,
tempat doa diletakkan di atas segalanya
percayalah bahwa,
setiap cerita hidup ada kebaikan dan keberkahan
(...sambil kucuri senyum kecil Abah yang sedang memperhatikan wawacan, menelisik isi di balik huruf carakan dan pegon)
Bukan berarti kisahnya telah berakhir, Nak
sebab beragam pupuh selalu memancar dalam ingatan
Setiap bait kata yang terjejak,
menjelma sebaik-baiknya nasihat kehidupan
Merajut hidup pada cermin kesadaran,
mengulik dalam-dalam remah pecahan jiwa
…kau tidak harus menunggu orang menjadi lebih tinggi untuk bisa menghargai, dan tidak perlu menunggu orang menjadi lebih hebat untuk bisa menaruh hormat…..
Nak, sebuah makna bukan untuk disimpan sendirian,
melainkan karunia yang mesti dibagikan
Seperti manisnya buah mangga yang ranum,
baru nyata terasa saat dinikmati bersama
(...terlihat Ambu membawa sepiring mangga ranum hasil kebun halaman belakang, sejenak melupakan perihal sisa pertanyaanku yang belum terjawab)
-2026
Note : Bujangga Dermayu adalah seni sastra lisan yang berkembang di masyarakat Indramayu, Jawa Barat. Tradisi ini berupa pelantunan puisi tradisional atau pupuh yang membawakan suatu cerita dari naskah kuno bernama wawacan (bacaan), yang ditulis dalam aksara carakan (Jawa) dan pegon (Arab gundul). Biasanya, kesenian ini digelar sebagai pengisi acara lek-lekan dan juga dalam berbagai upacara adat seperti puputan, sedekah bumi, dan ngarotan. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 315/M/2023
MENYESAP KEMELEKATAN SECANGKIR TEH
ini bukan hanya tentang secangkir teh
tapi tempat aman berkeluh kesah
juga tentang bagaimana dirimu
terhubung dengan diri sendiri
dan mampu bercerita siapa dirimu
dengan hati terbuka
mengajak merenung : sejauh mana sanggup di jalan sunyi ?
ia adalah pengingat,
menjawab dirimu dengan jujur
tanpa tekanan...
tanpa penilaian....
tanpa terburu...
tanpa menuntut ....
larut dalam keheningan
serupa diri yang kadang perlu diam
secangkir teh dalam cawan sederhana
memberikan arti sejumput proses
tertuang helai daun pilihan
menyentuh air, mendidih perlahan
larut dalam kematangan rasa
tenggelam membiarkan diri
berikan waktu berwarna pekat
dan ketulusan aroma mengalun
menari hangatnya pelan
seperti doa membasuh relung
.....adalah doa terdalam
pelukan untuk diri sendiri
-2025
DENYUT HARAPAN DALAM MAPAG TAMBA
Di dalam ceruk ingatan yang terjaga
ada bumbung bambu yang tampak bernyawa
Setia merawat jejak masa lama
bagai taman air tempat segala rasa bermuara
Seakan paso ikut berbagi senyum
menyambut masa yang ranum
Membuat hati dipenuhi harum
saat harapan mulai menguntum
Di dalam helaian lembar klaras,
rasa haru mengalir tak berbatas
Membawa damai merasuk luas,
tanpa membuat jiwa harus bersikeras
….untuk semua yang pernah dan akan datang,
serta bagi segala hal yang telah dilewati
Menyemai Mapag Tamba di tanah yang lapang,
adalah wujud nyata dari harapan yang diberkati
-2026
Note : Mapag Tamba adalah tradisi masyarakat petani di Indramayu untuk menolak bala dengan cara menyiramkan air suci dari berbagai sumber ke area perbatasan desa dan sawah. Secara harfiah, "mapag" berarti menjemput dan "tamba" berarti obat. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa perlengkapan khusus yang disiapkan, seperti paso (ember bermulut lebar tanpa pegangan), gayung, bumbung (wadah air dari bambu), serta klaras (daun pisang kering) sebagai penutup bumbung. Tradisi sarat makna ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI pada tahun 2016.
Tentang Penulis :
SULTAN MUSA – Samarinda Kalimantan Timur . Tulisannya tersiar diberbagai platform media online & media cetak Nasional maupun Internasional. Karya - karyanya masuk dalam beberapa Antologi bersama penyair Nasional & Internasional. Puisinya telah diterjermahkan dalam Bahasa Inggris, Italia, Spanyol dan Argentina. Tercatat pula dibuku “Apa & Siapa Penyair Indonesia – Yayasan Hari Puisi Indonesia” Jakarta 2017. Adapun Instagram : @sultanmusa97






LEAVE A REPLY