Home Seni Budaya ABAH DAN MAKNA DI BALIK SERPIHAN JEJAK KIDUNG BUJANGGA DERMAYU

ABAH DAN MAKNA DI BALIK SERPIHAN JEJAK KIDUNG BUJANGGA DERMAYU

#Puisi #Sajak

69
0
SHARE
ABAH DAN MAKNA DI BALIK  SERPIHAN JEJAK KIDUNG BUJANGGA DERMAYU

Keterangan Gambar : Sultan Musa - Penyair

ABAH DAN MAKNA DI BALIK  SERPIHAN JEJAK KIDUNG BUJANGGA DERMAYU 

Nak, setiap halaman punya cerita panjang, 
saksi bisu perjalanan waktu 
Ada cikal bakal sarat makna, 
dengan aksara bagai cahaya 
Namun bila kau tak mampu melihatnya, 
mungkin bayang-bayang telah menggelapkan hatimu 
Maka mohonlah pada-Nya, 
tuk terangi kembali jalanmu dengan cahaya 

percayalah  bahwa, 
setiap cahaya dalam kegelapan terdapat  bayang -bayang 

Nak, setiap guratan 
adalah tumpah ruah kehidupan 
Pelukan hangat yang selalu setia, 
penanda restu yang tak pernah sia-sia 
Menjadi bekal di serat jalan tua, 
tempat doa diletakkan di atas segalanya 

percayalah  bahwa, 
setiap cerita hidup ada kebaikan dan keberkahan 

(...sambil kucuri senyum kecil Abah yang sedang memperhatikan wawacan, menelisik isi di balik huruf carakan dan pegon) 

Bukan berarti kisahnya telah berakhir, Nak 
sebab beragam pupuh selalu memancar dalam ingatan 
Setiap bait kata yang terjejak, 
menjelma sebaik-baiknya nasihat kehidupan 
Merajut hidup pada cermin kesadaran, 
mengulik dalam-dalam remah pecahan jiwa 

…kau tidak harus menunggu orang menjadi lebih tinggi untuk bisa menghargai, dan tidak perlu menunggu orang menjadi lebih hebat untuk bisa menaruh hormat….. 

Nak, sebuah makna bukan untuk disimpan sendirian, 
melainkan karunia yang mesti dibagikan 
Seperti manisnya buah mangga yang ranum, 
baru nyata terasa saat dinikmati bersama 

(...terlihat Ambu membawa sepiring mangga ranum hasil kebun halaman belakang, sejenak melupakan perihal sisa pertanyaanku yang belum terjawab) 

-2026 

Note : Bujangga Dermayu adalah seni sastra lisan yang berkembang di masyarakat Indramayu, Jawa Barat. Tradisi ini berupa pelantunan puisi tradisional atau pupuh yang membawakan suatu cerita dari naskah kuno bernama wawacan (bacaan), yang ditulis dalam aksara carakan (Jawa) dan pegon (Arab gundul). Biasanya, kesenian ini digelar sebagai pengisi acara lek-lekan dan juga dalam berbagai upacara adat seperti puputan, sedekah bumi, dan ngarotan. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 315/M/2023

MENYESAP KEMELEKATAN SECANGKIR TEH 

ini bukan hanya tentang secangkir teh 
tapi tempat aman berkeluh kesah 
juga tentang  bagaimana dirimu 
terhubung dengan diri sendiri 
dan mampu bercerita siapa dirimu 

dengan hati terbuka 
mengajak merenung  : sejauh mana sanggup di jalan sunyi ? 
ia adalah pengingat, 
menjawab dirimu dengan jujur 

tanpa tekanan... 
tanpa penilaian.... 
tanpa terburu... 
tanpa menuntut .... 
larut dalam keheningan 
serupa diri yang kadang perlu diam 

secangkir teh dalam cawan sederhana 
memberikan arti sejumput  proses 
tertuang helai daun pilihan 
menyentuh air, mendidih perlahan 
larut dalam kematangan rasa 
tenggelam membiarkan diri 

berikan waktu berwarna pekat 
dan ketulusan aroma  mengalun 
menari hangatnya pelan 
seperti doa membasuh relung 

.....adalah doa terdalam 
pelukan untuk diri sendiri 

-2025 

DENYUT HARAPAN DALAM MAPAG TAMBA 

Di dalam ceruk ingatan yang terjaga 
ada bumbung bambu yang tampak bernyawa 
Setia merawat  jejak masa lama 
bagai taman air tempat segala rasa bermuara 

Seakan paso ikut berbagi senyum 
menyambut masa yang ranum 
Membuat hati dipenuhi harum 
saat harapan mulai menguntum 

Di dalam helaian lembar klaras
rasa haru mengalir tak berbatas 
Membawa damai merasuk luas, 
tanpa membuat jiwa harus bersikeras 

….untuk semua yang pernah dan akan datang, 
serta bagi segala hal yang telah dilewati 
Menyemai Mapag Tamba di tanah yang lapang, 
adalah wujud nyata dari harapan yang diberkati 

-2026 

Note : Mapag Tamba adalah tradisi masyarakat petani di Indramayu untuk menolak bala dengan cara menyiramkan air suci dari berbagai sumber ke area perbatasan desa dan sawah. Secara harfiah, "mapag" berarti menjemput dan "tamba" berarti obat. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa perlengkapan khusus yang disiapkan, seperti paso (ember bermulut lebar tanpa pegangan), gayung, bumbung (wadah air dari bambu), serta klaras (daun pisang kering) sebagai penutup bumbung. Tradisi sarat makna ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI pada tahun 2016. 

Tentang Penulis :
SULTAN MUSA – Samarinda  Kalimantan Timur . Tulisannya  tersiar  diberbagai  platform  media online &  media cetak Nasional maupun Internasional.  Karya  -  karyanya  masuk  dalam  beberapa  Antologi  bersama  penyair  Nasional  &  Internasional. Puisinya telah diterjermahkan dalam Bahasa Inggris, Italia, Spanyol dan Argentina. Tercatat  pula  dibuku  “Apa  &  Siapa  Penyair  Indonesia  –  Yayasan  Hari  Puisi  Indonesia” Jakarta  2017. Adapun  Instagram  :  @sultanmusa97