
Keterangan Gambar : Tangkapan layar workshop daring “Green Iduladha: Penggunaan Enzyme pada Penyembelihan Hewan Qurban” yang diselenggarakan oleh Lentera Hijau Indonesia bersama Eco Enzyme Nusantara pada Rabu, 20 Mei 2026.
JAKARTA II Parahyangan Post - Jelang Iduladha 1447 Hijriah, isu limbah kurban kembali menjadi perhatian. Bau menyengat dari darah dan jeroan, area penyembelihan yang kurang higienis, hingga pembuangan limbah organik ke sungai masih menjadi persoalan tahunan di berbagai daerah.
Di tengah situasi itu, Lentera Hijau Indonesia bersama Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) dan Eco Enzyme Nusantara (EEN) mendorong lahirnya gerakan “Green Iduladha 2026” sebagai bagian dari revolusi kurban ramah lingkungan di Indonesia.
Gerakan tersebut diwujudkan melalui workshop daring bertajuk “Green Iduladha: Penggunaan Enzyme pada Penyembelihan Hewan Qurban” yang digelar pada Rabu (20/5/2026) secara daring. Kegiatan yang dipandu Ketua Bidang Immawati DPP IMM, Sumarni, itu diikuti 88 peserta dari berbagai daerah melalui Zoom.
Diskusi berlangsung hangat. Banyak peserta menunjukkan antusiasme dan rasa ingin tahu mengenai pemanfaatan eco enzyme untuk mengatasi limbah organik, mengurangi bau, hingga menjaga kebersihan area penyembelihan hewan kurban.
Fasilitator Nasional Lentera Hijau Indonesia, Syahrul Ramadan, yang mewakili Ketua Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia Hening Parlan, mengatakan Green Iduladha lahir dari kesadaran bahwa praktik keagamaan perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga bumi.
“Sebagai gerakan lintas iman, kami melihat pentingnya menjawab pertanyaan mendasar: apakah ritual keagamaan menghasilkan limbah, atau justru ada kekeliruan dalam cara kita memahami dan menjalankan ajaran tersebut,” ujar Syahrul.
Menurut dia, praktik-praktik ritual keagamaan perlu terus ditafsirkan ulang agar selaras dengan upaya pelestarian lingkungan hidup. Melalui Green Iduladha, Lentera Hijau Indonesia ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai agama dapat menjadi bagian dari solusi atas krisis ekologis.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa ibadah kurban dapat dilakukan dengan cara yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Agama sejatinya berjalan selaras dengan upaya menjaga bumi,” katanya.
Dalam workshop tersebut, Ketua Eco Enzyme Nusantara Kalimantan Selatan, Dr. Akbar Rahman, menjelaskan bahwa sampah organik menjadi salah satu penyumbang persoalan lingkungan yang serius. Ia mengutip data bahwa sekitar 60 persen sampah di tempat pembuangan akhir merupakan sampah organik yang dapat menghasilkan gas metana apabila tidak dikelola dengan baik.
Gas metana diketahui sebagai salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Karena itu, pengolahan limbah organik melalui eco enzyme dinilai menjadi langkah sederhana namun berdampak besar bagi lingkungan.
Eco enzyme sendiri merupakan cairan alami hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran yang dicampur gula dan air. Cairan ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga hingga pengelolaan limbah organik.
“Misi Eco Enzyme Nusantara adalah melindungi bumi agar anak cucu kita bisa hidup lebih baik di masa depan,” ujar Akbar.
Wakil Ketua Eco Enzyme Nusantara Kalimantan Selatan, Helda Mas’Ade, menjelaskan bahwa eco enzyme dapat menjadi alternatif alami pengganti bahan kimia sintetis yang selama ini banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Ali Randani dari Eco Enzyme Banjarmasin memaparkan penggunaan eco enzyme dalam proses penyembelihan hewan kurban. Cairan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membersihkan darah, mengurangi bau amis, membersihkan lantai, hingga mencuci ember dan peralatan penyembelihan.
Eco enzyme juga dapat digunakan untuk merendam usus dan babat setelah dicuci menggunakan air mengalir agar bau dan kotoran lebih mudah dibersihkan. Namun, ia mengingatkan agar cairan tersebut tidak disemprotkan langsung pada daging kurban yang sedang diproses.
Ali juga menyoroti masih adanya praktik pembuangan isi perut hewan kurban ke sungai di sejumlah daerah. Menurut dia, penggunaan eco enzyme dapat menjadi salah satu solusi sederhana untuk membantu mengurangi pencemaran lingkungan saat Iduladha.
“Murah, mudah diterapkan, dan insyaallah membuat lingkungan lebih sehat dan ramah,” katanya.
Melalui Green Iduladha 2026, Lentera Hijau Indonesia, IMM, dan Eco Enzyme Nusantara berharap masyarakat semakin sadar bahwa ibadah kurban tidak hanya berbicara soal ritual keagamaan, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjaga bumi dan lingkungan hidup bagi generasi mendatang.*
Tentang Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia
Didirikan pada 2025, Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang lingkungan dan transisi energi berkeadilan. Organisasi ini fokus memperkuat kapasitas komunitas lintas iman dalam ekoteologi, kepemimpinan iklim, serta praktik energi bersih berbasis masyarakat. Melalui pendekatan gerakan akar rumput, Lentera Hijau Indonesia mendorong lahirnya kesadaran publik tentang keadilan iklim, penguatan advokasi kebijakan lingkungan, serta kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan perubahan sosial yang inklusif dan berkelanjutan. Selain itu, organisasi ini juga mengembangkan pembiayaan berbasis nilai keagamaan dan tata kelola yang profesional, transparan, serta partisipatif guna mendukung aksi iklim yang berdampak nyata bagi masyarakat luas. - (rd/pp)






LEAVE A REPLY