Home Opini Generasi Rusak dalam Penerapan Sistem Pendidikan Kapitalisme

Generasi Rusak dalam Penerapan Sistem Pendidikan Kapitalisme

1,347
0
SHARE
Generasi Rusak dalam Penerapan Sistem Pendidikan Kapitalisme

Oleh : Yasmin Aqilah Nur Rachman

Kasus kecurangan dalam pelaksanaan UTBK-SNBT 2025 kembali menjadi sorotan. Dari 14 kasus yang terungkap dalam dua hari pelaksanaan, muncul berbagai modus curang, mulai dari penyelundupan kamera dalam kawat gigi hingga penggunaan teknologi canggih lainnya untuk mencontek. Ini bukan sekadar pelanggaran teknis, tapi cerminan rusaknya moral generasi muda saat ini. Lebih dalam lagi, ini adalah gejala dari kerusakan sistemik yang berakar dari sistem pendidikan yang diterapkan saat ini—yakni sistem pendidikan kapitalisme.

Menurut data menyebutkan bahwa praktik kecurangan di lingkungan pendidikan masih tinggi. Sebanyak 98 persen kampus disinyalir masih menjadi tempat berlangsungnya budaya mencontek. Survei ini juga menunjukkan bahwa integritas pendidikan pada 2024 mengalami penurunan. Ini menjadi bukti nyata bahwa sistem pendidikan gagal mencetak generasi yang jujur, amanah, dan berintegritas. 

Penyebab utamanya terletak pada orientasi sistem pendidikan kapitalistik yang menjadikan capaian materi sebagai tolok ukur keberhasilan. Siswa dan mahasiswa tidak lagi diajarkan untuk peduli pada proses, apalagi nilai halal dan haram. Yang penting adalah “lulus”, “tinggi nilainya”, dan “masuk kampus favorit”—apapun caranya. Maka tak mengherankan jika teknologi bukan dimanfaatkan untuk kebaikan, melainkan dipakai untuk mengakali sistem lewat kecurangan.

Inilah potret generasi rusak yang lahir dari rahim sistem pendidikan kapitalisme: pintar, tapi tak bermoral, terampil, tapi tak berakhlak. Mereka dibentuk dalam lingkungan yang hanya menjadikan materi dan kepuasaan semata , sehingga segala cara ditempuh demi hasil, tanpa memperhatikan nilai-nilai kebenaran dan halal haram. Islam memandang bahwa pendidikan adalah proses membentuk kepribadian Islam—yakni pola pikir dan pola sikap yang selalu terikat dengan aturan Allah. Dalam sistem pendidikan Islam, orientasi utamanya adalah meraih keridhaan Allah, bukan sekadar capaian materi. Teknologi akan dimanfaatkan bukan untuk menipu, tetapi untuk meninggikan kalimat Allah
dan menyebarkan manfaat.

Daulah Islam akan menjamin sistem pendidikan yang berasas akidah Islam. Negara tidak akan membiarkan sistem pendidikan hanya mencetak “tenaga kerja”, tetapi juga memastikan terbentuknya generasi yang unggul secara intelektual dan spiritual. Mereka tidak hanya memiliki keterampilan tinggi, tetapi juga kepribadian yang kokoh, jujur, dan amanah. Jika kita ingin membebaskan generasi dari kerusakan kompleks yang terus memburuk, maka sudah saatnya mencampakkan sistem pendidikan kapitalisme dan menggantinya dengan sistem pendidikan Islam yang menjadikan syariat sebagai asas dan rujukan. Hanya dengan itulah akan lahir generasi pemimpin peradaban yang sejati, bukan sekadar pemburu nilai.(*)