Home Seni Budaya Dari Lembaran Kertas ke Layar Sinema dan Platform Digital

Dari Lembaran Kertas ke Layar Sinema dan Platform Digital

IMAC Film Festival 2026 FIB Hadirkan Talk Show ‘Na Willa’ dan Masterclass Cianicolay

61
0
SHARE
Dari Lembaran Kertas ke Layar Sinema dan Platform Digital

Keterangan Gambar : Komunitas Suka Sinema bersama Ikatan Alumni Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ILUNI UI FIB) menggelar rangkaian perdana IMAC Film Festival 2026 di FIB UI pada 16–18 April 2026. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi dan pembelajaran yang mengangkat tema adaptasi karya serta pengembangan storytelling lintas platform dalam industri kreatif. Kegiatan mulai dari talkshow bertajuk “Dari Buku ke Bioskop: Merawat Kenangan, Merayakan Keberagaman dalam Na Willa”, pemutaran film pendek karya finalis, hingga hasil kolaborasi Santri Film Festival (SANFFEST). (sumber foto : ist/pp)

Dari Lembaran Kertas ke Layar Sinema dan Platform Digital, IMAC Film Festival 2026 FIB Hadirkan Talk Show ‘Na Willa’ dan Masterclass Cianicolay

DEPOK  II Parahyangan Post– Komunitas Suka Sinema bersama Ikatan Alumni Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ILUNI UI FIB) menggelar rangkaian perdana IMAC Film Festival 2026 di FIB UI pada 16–18 April 2026. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi dan pembelajaran yang mengangkat tema adaptasi karya serta pengembangan storytelling lintas platform dalam industri kreatif.

Ketua ILUNI UI FIB, Visna Vulovik, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam mendukung karya alumni sekaligus memperkuat kontribusi ILUNI UI FIB dalam ekosistem industri kreatif.

“Kolaborasi ini menjadi milestone penting bagi ILUNI UI FIB. Kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya mengapresiasi karya para sineas muda, tetapi juga membuka ruang berdialektika yang lebih luas mengenai proses kreatif, khususnya dalam adaptasi karya sastra ke medium audiovisual,” ujar Visna.

Sesi pembuka menghadirkan Reda Gaudiamo (penulis Na Willa), Novia Puspa Sari (Produser Na Willa dan Head of Production Visinema Studios), serta Suma Riella Rusdiarti (akademisi film dan pengajar FIB UI). Talkshow bertajuk “Dari Buku ke Bioskop: Merawat Kenangan, Merayakan Keberagaman dalam Na Willa” membahas proses adaptasi karya sastra ke film, perbedaan perspektif penulis novel dan penulis skenario, serta pentingnya menjaga nilai keberagaman dan memori budaya dalam karya audiovisual.

Film Na Willa merupakan drama keluarga musikal Indonesia yang tayang sejak 18 Maret 2026, diadaptasi dari novel Na Willa: Serial Catatan Kemarin. Berlatar di Surabaya tahun 1960-an, film ini mengisahkan kehidupan seorang anak perempuan yang memandang dunia dengan kepolosan, sekaligus menggambarkan dinamika keluarga multikultural dan perubahan sosial pada masanya.

Selain talkshow, pembukaan juga diisi dengan pemutaran film pendek karya finalis, yaitu Rights, Ignored, dan Echoes From Fading Island yang mengangkat tema “Silent Struggles”. Film-film ini menyoroti kisah individu yang menghadapi tekanan ekonomi, sosial, dan emosional, serta menggambarkan perjuangan untuk bertahan hidup.

Pada 17 April 2026, rangkaian acara dilanjutkan dengan pemutaran film pendek hasil kolaborasi Santri Film Festival (SANFFEST), di antaranya Tujuh Hari Setelah Bapak Berpulang, Iman dan Imam, serta Rajah Terakhir.

Inisiator sekaligus Ketua Komite SANFFEST, Neno Warisman mengatakan bahwa memunculkan kreativitas perlu diberi ruang seluas-luasnya. Adanya literasi tekstual tidak bisa berhenti dari sekadar membaca realitas, namun bisa diolah menjadi kreasi visual yang melahirkan karya dan nilai.

“Saya selalu terinspirasi oleh ibuku untuk terus bekerja untuk kepedulian. Di sinilah letak nilai kepemimpinan. Saya sebagai seorang yang berada di lingkup Kementerian Kebudayaan, memandang bahwa bukan hanya puncak kemenangan yang dilihat, tetapi memantik potensi-potensi apa saja yang dapat mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin di berbagai lini, lapisan, dan bidang. Intinya, proses itu penting, dan kita tidak boleh berhenti, teruslah berkarya.” ungkap Neno Warisman, Staf Ahli Kementerian Kebudayaan.

Ditambahkan oleh Ketua Pelaksana IMAC 2026, Sri Bandoro, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan SANFFEST bertujuan memperluas jangkauan film pendek hingga ke lingkungan kampus dan santri. “Kami ingin film pendek lebih dekat dengan mahasiswa, alumni, dan masyarakat luas, sekaligus mendorong lebih banyak anak muda untuk berkarya,” ujarnya.

IMAC Film Festival 2026 juga menghadirkan masterclass bersama Cianicolay bertajuk “Directing & Storytelling High Quality for Digital Platforms”, yang berfokus pada penguatan kemampuan storytelling dan penyutradaraan untuk platform digital. Sesi ini diharapkan mendorong kreator untuk tidak hanya berorientasi pada algoritma, tetapi juga kualitas narasi dan kekuatan sinematik.

IMAC Film Festival merupakan festival film pendek tahunan yang dipelopori oleh ILUNI UI sejak 2023, sebagai wadah bagi sineas muda, pelajar, dan mahasiswa di Indonesia. Pada tahun 2026, festival ini tidak hanya berlangsung di FIB UI, tetapi juga di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 16–19 April 2026, menghadirkan berbagai program pemutaran film, diskusi, dan aktivitas kreatif yang mempertemukan sineas muda, akademisi, dan praktisi industri dalam satu ruang apresiasi sinema. - (rd/rl/pp)