Pagi itu, padang savana di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tampak tenang. Angin membawa aroma rumput basah, dan sinar mentari menembus sela-sela alang-alang yang merunduk. Tapi di balik sunyi itu, ada suara yang terpendam terlalu lama—suara hati seorang anak yang tengah berjuang sendiri.
Tragedi yang terjadi beberapa waktu lalu bukan hanya angka di laporan statistik. Ia adalah pengingat pahit bahwa banyak anak di daerah ini menanggung beban yang tidak seharusnya mereka pikul sendiri: keterbatasan ekonomi, tekanan sosial, dan rasa malu yang membelenggu tanpa suara.
Seorang guru lokal menceritakan bagaimana beberapa anak jarang bercerita tentang kesulitan mereka, takut mengganggu orang tua yang juga berjuang untuk hidup. "Mereka diam, tapi setiap mata kecil menyimpan banyak cerita," ujarnya.
Dalam perspektif psikologis, kondisi ini bisa meninggalkan jejak mendalam pada perkembangan emosional anak. Anak-anak yang tidak mendapat ruang aman untuk mengekspresikan diri berisiko mengalami stress berkepanjangan, rasa tidak berharga, dan kesepian emosional.
Tradisi Islami menegaskan bahwa menjaga hati anak adalah amanah mulia. Nabi ? mengajarkan hak anak untuk didengar, dipahami, dan dicintai, bukan hanya dipenuhi kebutuhan fisik. Nilai ini mengingatkan kita bahwa kebijakan sosial dan pendidikan seharusnya tidak hanya fokus materi, tapi juga kesejahteraan mental dan emosional anak.
Pemerintah daerah dan lembaga pendidikan kini tengah mengupayakan berbagai program bantuan. Dukungan psikologis, pendampingan guru, serta jaringan komunitas yang peduli menjadi sorotan utama. Namun, yang paling penting adalah memberi anak ruang aman untuk berbicara, agar mereka merasa dihargai dan memiliki harapan.
Anak-anak adalah benih kehidupan. Jika benih itu tidak dirawat dengan cinta dan perhatian, mereka bisa layu sebelum waktunya. Tragedi NTT adalah panggilan bagi semua pihak—keluarga, guru, masyarakat, dan pemerintah—untuk membuka hati, memperluas empati, dan menata ulang cara kita memperlakukan generasi muda.
Di balik setiap senyum yang tertahan, tersimpan harapan yang menunggu untuk direngkuh. Harapan itu bukan beban, tetapi cahaya yang bisa kita pandu dengan tangan peduli dan hati yang terbuka.***
Penulis : Diana Bakti Siregar, S.Si (Pemerhati Pendidikan dan Praktisi Talents Mapping)





LEAVE A REPLY