Home Opini Di Antara Kitab dan Keheningan

Di Antara Kitab dan Keheningan

oleh: Iwan Samariansyah

165
0
SHARE
Di Antara Kitab dan Keheningan

Keterangan Gambar : foto ilustrasi dari internet

Di sebuah pesantren di pinggiran desa yang diselimuti kabut pagi, hidup seorang santri muda yang kelak dikenal luas sebagai Gus Baha. Pada masa itu, belum ada yang menyangka bahwa sosok sederhana dengan sorot mata lembut itu akan menjadi sumber ilmu dan keteduhan bagi ribuan orang. Di pondok, ia sekadar disebut Baha santri alim, anak muda yang selalu berjalan dengan kitab di tangan dan pena di saku.

Pesantren tempat ia nyantri kala itu adalah dunia kecil yang sunyi namun sarat cahaya ilmu. Deretan kamar santri berdinding kayu, dengan suara ngaji dari surau yang bergema setiap malam. Di antara banyak santri yang suka bercanda selepas jamaah, Baha justru lebih sering mengasingkan diri di serambi mushala. Di sanalah ia menghabiskan malam dengan kitab tebal terbuka di pangkuannya. Urat di dahinya mengerut menahan makna, jari-jarinya lincah mencatat, sementara yang lain sudah lelap atau sibuk berbincang tentang hal-hal ringan.

“Beliau itu luar biasa,” kata guruku, Sufi Hidayatain, yang satu pondok dengan lelaki bernama lengkap Ahmad Bahauddin Nursalim itu.

Saat ini Gus Baha dikenal sebagai  ulama ahli tafsir Al-Quran terkemuka dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Dia lahir pada 29 September 1970. 

Gus Baha dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA dan putra dari Kiai Nursalim al-Hafizh. 

Baha—meski beda angkatan—“tak pernah lepas dari kitab. Kalau tidak menulis, ya membaca. Kalau tidak membaca, ya merenung. Rasanya, dari pagi sampai malam, hidupnya cuma bergulir antara pena dan lembaran halaman," kata Kyai Sufi. 

Satu kali, guruku itu pernah diminta oleh kiai dari desanya untuk menyampaikan salam kepada Baha. Waktu itu Baha sudah cukup dikenal di kalangan santri sebagai santri muda yang menonjol kecerdasannya. Guruku, dengan penuh takzim, menemuinya di serambi tempat Gus Baha biasa belajar.  

“Assalamu’alaikum,” sapa guruku perlahan.  

“Wa‘alaikumussalam,” jawab Gus Baha tanpa mengangkat kepala, matanya masih lekat pada kitab.  

“Saya disuruh menyampaikan salam dari kakak saya,” ujar guruku, sedikit ragu.  

“Oh, salam kembali,” jawab Gus Baha datar. Sesaat hening, lalu ia menoleh, tersenyum tipis.  

“Kamu siapanya?” tanyanya.  

“Saya ponakannya.”  

“Oh.”  

Kemudian sunyi kembali. Tak ada basa-basi, tak ada percakapan panjang. Gus Baha kembali menunduk, menulis sesuatu di tepi kitabnya seperti orang yang baru saja teringat sesuatu penting.

Bagi sebagian orang, interaksi itu tampak hambar. Tapi bagi mereka yang mengenalnya, begitulah watak Gus Baha : hidup hanya untuk ilmu. Ia tidak pernah menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia.

Seolah-olah dalam dirinya ada keyakinan kuat bahwa setiap menit yang hilang tanpa belajar adalah kehilangan yang tak bisa ditebus.

Orang-orang sering bertanya, bagaimana seorang santri bisa sedemikian tekunnya. Jawabannya mungkin sederhana : cinta. Baha mencintai ilmu sebagaimana orang lain mencintai dunia. Ia memperlakukannya dengan kelembutan, kesetiaan, dan kadang seperti rasa rindu. Dalam setiap catatannya, ada semangat yang nyaris religius—yakni bahwa menuntut ilmu bukan pekerjaan manusia biasa, melainkan bagian dari ibadah yang harus ditunaikan dengan penuh kesungguhan.

Ceritanya, di pondok itu para santri biasanya punya “waktu kosong” selepas salat Isya. Sebagian ngobrol di tepi sumur, sebagian bermain gaple, sebagian lagi sekadar duduk di tangga sambil bercanda. Tapi Baha? Ia hampir selalu di kamar, dengan lampu minyak kecil menyala redup. Kitab terbuka, matanya lentur berpindah antara teks Arab dan catatan kecil. Kalau ada santri lewat dan mengintip, yang terlihat hanyalah kesunyian yang dalam—suara pena menggores, kadang diselingi rapalan pelan ayat atau syarah tafsir.

Guruku sering bilang, “Kalau kamu ingin tahu makna kesungguhan, lihatlah Gus Baha muda itu. Ia belajar bukan karena ingin dikenal, tapi karena ingin mengerti—dan itu jauh lebih berat. Orang yang ingin dikenal bisa berpuas dengan hafalan, tapi orang yang ingin mengerti, hidupnya habis untuk bertanya.”

Di pesantren, waktu berjalan lambat. Tapi bagi Baha, setiap jam punya arti tersendiri. Pagi adalah waktu tajwid dan qira’at, siang tafsir dan fikih, malam untuk membaca kitab ulama terdahulu. Ia bukan hanya belajar, tapi juga menemukan kebahagiaan dalam belajar. Kalau ditanya kenapa tidak pernah datang ke lapangan ketika santri lain berolahraga, ia hanya akan menjawab pendek, “Aku khawatir waktu lewat begitu saja.”

Sikapnya yang demikian membuat beberapa santri lain segan. Ada yang merasa kagum, tapi ada pula yang menganggapnya terlalu serius. Namun yang menarik, Baha tidak pernah marah, tidak pula merasa lebih tinggi. Ia justru sering menundukkan diri, menolak dipuji, dan menampakkan wajah teduh pada siapa pun yang menegurnya. 

Pernah satu malam seorang santri yang lebih muda datang dan bertanya, “Gus, kok njenengan kuat ngaji terus, to? Tak bosan?”  

Baha tersenyum, matanya pelan menatap lembut, lantas beralih pada kitab di depannya.  

“Yang saya cari bukan ilmu yang bikin kenyang,” katanya, “tapi ilmu yang membuat lapar terus, karena kalau saya kenyang, saya berhenti belajar. Kalau berhenti, saya kehilangan Allah.”

Kalimat itu sederhana, mungkin terlalu dalam untuk teman-temannya waktu itu. Tapi belakangan, ketika semua telah dewasa, mereka sadar bahwa di balik kesunyian Baha tersembunyi pandangan yang jauh melampaui usianya.  

Hari-hari berlalu. Baha tetap seperti itu. Kadang ia ikut membantu di dapur, atau menyalin catatan kiai untuk para santri baru. Tapi sebagian besar waktunya tetap habis di depan kitab. Bila azan berkumandang, ia menutup buku perlahan, bergegas ke masjid, lalu kembali lagi ke kitabnya seperti seorang petani yang tak pernah lelah merawat benih.

Guruku berkata, “Beliau itu beda sama kita. Kalau kita kadang ngaji karena disuruh, beliau ngaji karena tak bisa berhenti. Seolah seluruh jiwanya diciptakan untuk belajar.”  
Dan mungkin dari situlah keberkahannya—dari ketulusan yang terus-menerus tanpa pamrih.

Bertahun kemudian, nama Baha mulai terdengar di banyak tempat. Ceramahnya ringan tapi dalam, bahasanya sederhana tapi penuh makna. Orang-orang yang dulu sepondok dengannya tak kaget; mereka sudah tahu sejak lama bahwa semua itu berawal dari malam-malam panjang di bawah lampu minyak, di antara lembaran kitab, dan dalam kesunyian yang nyaris suci.

Kini, ketika orang menceritakan Gus Baha, yang terlintas di benak guruku bukan saja tentang ceramahnya yang menenangkan atau ilmunya yang luas. Ia teringat satu hal sederhana: seorang santri muda yang tetap menulis meski dunia di sekitarnya ramai, yang tetap tersenyum kepada ponakan seorang kiai meski hanya untuk menjawab satu salam, lalu kembali menenggelamkan diri ke dalam teks—seolah di sanalah letak rumahnya.

Kadang, dalam kehidupan kita yang serba sibuk ini, kisah seperti itu terasa asing. Tapi mungkin justru dari kesunyian seorang santri bernama Baha itulah kita diingatkan tentang hal yang paling mendasar: bahwa ilmu tidak tumbuh dari banyak bicara, melainkan dari banyak diam, banyak membaca, dan banyak merenung.

Bahwa kesungguhan yang sederhana bisa berubah menjadi cahaya yang menerangi zamannya.

“Pokoknya hidupnya waktu di pondok dulu sudah beda banget sama santri lain,” kata guruku di akhir ceritanya.  

Aku mengangguk, membayangkan seorang pemuda kurus dengan kitab di tangan, menyalin makna dari teks kuno sambil menahan kantuk. Dalam bayangan itu, aku melihat kesungguhan yang tak lagi tampak hari ini—kesungguhan yang tak butuh sorotan, tak butuh pujian, hanya keheningan dan cinta kepada ilmu.

Maka bila suatu hari engkau mendengar nama Gus Baha disebut dengan hormat di mimbar, di televisi, atau di majelis pengajian mana pun, ingatlah bahwa semua itu lahir dari pondok yang sunyi, dari tangan yang tak lelah menulis, dan dari hati seorang santri yang menolak membiarkan satu menit pun terbuang tanpa belajar.  

Di antara kitab dan keheningan, di situlah hidup Baha muda dulu berdenyut. Dan dari sanalah, cahaya itu lahir.***

 

Penulis: Dosen, pegiat literasi, Ketrum PJMI ke-3