Home Edukasi APE Buatan Guru Simbol Kemandirian dan Daya Cipta

APE Buatan Guru Simbol Kemandirian dan Daya Cipta

Dipamerkan pada Gelar Karya Inovasi Pembelajaran di wilayah IKN

902
0
SHARE
APE Buatan Guru Simbol Kemandirian dan Daya Cipta

IKN, parahyangan-post.com - Alat Peraga Edukatif (APE) hasil kreasi  guru merupakan karya  inovatif yang patut dibanggakan.  Apalagi  dibuat dengan memanfaatkan bahan sederhana dan daur ulang seperti kardus, tutup botol, hingga kain perca. Hasilnya, cukup mengagumkan, ada  papan huruf dan roda fonetik hingga ular tangga edukatif.  Karya itulah yang dipamerkan pada “Gelar Karya Inovasi Pembelajaran di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN)”, Jumat (13/3).

Kegiatan berlangsung atas kerjasama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah  melalui Direktorat Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat dan  Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, dengan Otorita IKN serta INNOVASI. 

Gelar Karya ini menjadi ruang berbagi praktik baik dari delapan satuan PAUD pembelajar yang telah menjalani program kemitraan, antara lain Kelompok Bermain (KB) Anggrek, KB Belia Binuang, KB Melati Harapan, SPS (Satuan Pendidikan Sejenis) Al-Quran An Nur, TK (Taman Kanak-Kanak) BAP Sinar Harapan Sepaku, TK Dewantara, TK ITCI Kenangan, dan TK Mitra Pradana yang terletak di wilayah penyangga IKN. Melalui model kemitraan antara PAUD Mitra dan PAUD Pembelajar, para pendidik saling belajar dan mendampingi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

“Dulu kami hanya mengajar dengan suara dan papan tulis. Sekarang anak-anak bisa belajar membaca lewat roda baca pintar yang kami rancang sendiri,” ujar seorang guru saat mendampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti ketika melihat pameran di Gelar Karya Inovasi Pembelajaran.

Gelar Karya menampilkan capaian delapan sekolah dasar yang menjadi pusat praktik baik, hasil pendampingan intensif bersama Program INOVASI dan Otorita IKN sejak tahun 2023. Peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah di kawasan IKN dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan dan pendampingan intensif.

Kolaborasi Berkelanjutan 

Pendidikan di IKN bukan sekadar pembangunan gedung dan kurikulum. Ia tumbuh dari kemitraan erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Prof. Mukhlas, pakar pendidikan, menyatakan bahwa IKN telah menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci. Ini bukan proyek sesaat, tapi model transformasi yang layak direplikasi di daerah lain.

Transformasi pendidikan di IKN adalah bukti bahwa perubahan tidak perlu menunggu sempurna. Dengan keberanian mencoba, keterbukaan belajar, dan keberpihakan pada anak, Nusantara bukan hanya menjadi ibu kota baru secara fisik—tetapi juga harapan baru bagi masa depan pendidikan Indonesia.***(pp/aboe/sp-mb)