Home Edukasi 50 Tahun YPS: Semangat Mendidik nan Tak Pernah Kendor

50 Tahun YPS: Semangat Mendidik nan Tak Pernah Kendor

Ida Ismail: Kami meletakkan dasar pendidikan anak-anak Indonesia

358
0
SHARE
50 Tahun YPS: Semangat Mendidik nan Tak Pernah Kendor

Keterangan Gambar : Kiri: Ketua Pembina YPS Ida Ismail Nasution (kolase foto aboe)

Jakarta, parahyangan-post.com- Luar biasa. Memukau dan inspiratif! Peringatan 50 tahun Yayasan Permata Sari (YPS) yang digelar di  The Sanctuary Auditorium-Menara Kuningan, Jakarta, Sabtu 7 Februari 2026, sangat apik. Membuat seluruh pengunjung terinspirasi untuk mengikuti jejak  sembilan Srikandi pendiri yayasan,  dalam mencerdaskan anak-anak bangsa melalui lembaga pendidikan.

Sembilan Srikandi itu adalah tokoh yang mempunyai visi jauh ke depan, yang di zamannya adalah pendobrak sistem pendidikan anak yang konvensional dan kaku. Mereka meletakkan dasar-dasar pendidikan anak Indonesia yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman.

Apa yang  mereka bayangkan  50 tahun lalu, kini,   menjadi kenyataan dan menjadi pedoman untuk pembangunan anak bangsa menghadapi perubahan zaman.

Meski sembilan Srikandi itu sudah sepuh, berjalan sudah bertongkat dan dipapah. Sebagian pun sudah meninggal dunia. Namun jejak perjuangannya tetap membara di hati para generasi muda.

Sembilan Srikandi itu adalah  Ati Taufiq Ismail, Etty Mar’ie Muhammad (alhm), Hartini Effendi (almh), Ida Ismail Nasution, Ida Wahab (almh), Kamsanah HDM (almh), Rihna Azrul Azwar, Sofie Yusuf Syakir dan Yulia Harun Kamil (almh).

Tampak dalam deretan tamu undangan, antara lain Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 Anies Baswedan. Anies hadir sambil mendorong Ibunda tercintanya di atas kursi roda. Ada juga penyair senior Taufiq Ismail, tokoh pendidik Seto Mulyadi (Kak Seto), diplomat kawakan, mantan Sekjen HMI Nazaruddin Nasution dan sejumlah tokoh terkemuka lain.

Acara dimulai  dengan pemutaran slide yang menggambarkan perjalanan 50 tahun YPS. Video dan slide yang ditampilkan adalah bukti otentik, yang merupakan jejak-tapak kerasnya perjuangan mereka. Kemudian  pertunjukan kesenian (tarian) oleh siswa siswi Cikal Harapan dan testimoni-testimoni inspiratif oleh para pimpinan dan pendiri.

Dalam sambutannya, Ketua Umum YPS  2024-2029 Fardiah Fahmid menyampaikan bahwa acara  adalah puncak dari seluruh rangkaian kegiatan 50 Tahun yang telah digelar sebelumnya. Saat ini, menurutnya, YPS memiliki 11 lembaga pendidikan, tersebar di tiga Propinsi, yakni Jakarta, Banten dan Jawa Barat, dengan alumni yang mencapai puluhan ribu orang.

”Peringatam 50 tahun ini adalah momentum penting untuk meneguhkan kembali cita-cita para pendiri untuk visi 50 tahun ke depan, yakni terwujudnya pendidikan Islam global,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Pembina, yang juga salah seorang pendiri, Ida Ismail Nasution, menceritakan kembali kisah dan perjuangan mereka (sembilan srikandi) dalam mendirikan YPS, yang menurutnya benar-benar nekad, dilandasi dengan niat ikhlas untuk memajukan bangsa. Para pendiri adalah aktivis perempuan yang tergabung dalam Korps HMI-wati (KOHATI).

Yang paling mengesankan dalam cerita Ida adalah kisah Mr.Clean (Menteri Keuangan era Pak Harto Mar’ie Muhammad-red). Mar’ie adalah suami salah seorang pendiri yayasan, yakni Etty Mar’ie Muhammad.

Mar’ie Muhammad, cerita Ida, memerintah isterinya untuk mengembalikan cek dari  donatur yang membantu yayasan, karena Mar’ie menduga donatur itu tidak ikhlas dan mempunyai niat lain.

”Padahal kami  sudah susah payah untuk mendapatkannya. Tapi harus dikembalikan, apa gak sedih?” kenang Ida.  ”Tapi itulah gaya Mr. Clean. Kehidupan keluarganya  yang benar-benar bersih.  Bahkan Etty sampai menangis-nangis berkali-kali meminta maaf kepada suaminya dan merasa bersalah.” .

Tapi setelah itu, lanjut cerita Ida, ada momentum yang membuat yayasan mereka mendapat darah segar. Ketika itu Mar’ie Muhammad mendapat anamah dari Presiden Soeharto menjadi Ketua Festival Istiqlal yang digelar selama 2 bulan.

Mar’ie pun menantang  mereka  untuk mengelola divisi bazar.

”Alhamdulillah divisi kamilah satu-satunya yang memperoleh keuntungan dalam even tersebut, bahkan jumlahnya juga lumayan, yakni 1,5 milyar rupiah. Setelah kami laporkan, pihak panitia mengambilnya Rp. 500 juta dan sisanya diserahkan kepada kami ,” kisah Ida.

Dari situlah, lanjut Ida, mereka mulai membangun sekolah Cikal Harapan yang kemudian berkembang dengan baik.***(pp/aboe)    

Video Terkait: