Home Seni Budaya Fetisisme Komoditas dan Ilusi Kebebasan Estetik

Fetisisme Komoditas dan Ilusi Kebebasan Estetik

Oleh : Mayek Prayitno 

192
0
SHARE
Fetisisme Komoditas dan Ilusi Kebebasan Estetik

Keterangan Gambar : ilustrasi foto mayek

Kita sering mendengar dan melihat pasar seni yang diselenggrakan di Indonesia setiap tahun itu dianggap sebagai pasar paling prestisius. Pasar seni yang biasa disebut art fair ini kemudian menjadi gejala signifikansi pertumbuhan ekonomi diberbagai belahan bumi. Seturut itu, dimensi Art fair global hari ini kerap dirayakan sebagai ruang pertemuan gagasan, keberagaman estetika dan pertukaran kultural lintas batas. Namun, dalam perspektif kapitalisme lanjut, sebagaimana dikritik oleh Karl Marx, art fair justru merupakan manifestasi paling telanjang dari transformasi seni menjadi komoditas. Ia bukan sekadar “pasar seni,” akan tetapi, lebih dari mesin produksi nilai tukar yang menyamarkan relasi sosial di balik estetika.

Dalam logika kapitalisme, nilai sebuah karya tidak ditentukan oleh kandungan gagasan atau daya kritisnya, melainkan oleh kemampuannya untuk beredar, dikoleksi dan diinvestasikan. Di sinilah konsep fetisisme komoditas menjadi relevan, karya seni tampil seolah-olah memiliki nilai intrinsik yang otonom, padahal nilai tersebut adalah hasil konstruksi relasi pasar, yakni galeri, kolektor, kurator dan institusi. Dalam konteks ini, misalnya lukisan abstrak yang mendominasi art fair bukanlah fenomena estetik murni, melainkan bentuk ideal komoditas, mudah dipindahkan, fleksibel secara tafsir dan aman dari konflik ideologis yang dapat mengganggu sirkulasi kapital.

Dominasi abstraksi dalam art fair global bukan sekadar preferensi selera, tetapi strategi sistemik. Abstraksi memungkinkan karya untuk dilepaskan dari konteks sosial-politik yang spesifik. Ia menjadi “bahasa universal” yang kompatibel dengan kebutuhan pasar global, sebuah estetika yang steril dari antagonisme kelas. Dalam istilah Theodor Adorno, ini adalah bagian dari industri budaya yang menetralkan potensi kritik seni, mengubahnya menjadi konsumsi estetis yang pasif.

Disisi lain dengan nuansa yang sama, art fair beroperasi sebagai aparatus ideologis yang memproduksi ilusi kebebasan artistik. Seniman tampak bebas berekspresi, tetapi sebenarnya berada dalam tekanan tak kasat mata untuk menyesuaikan diri dengan logika pasar. Apa yang disebut “tren” bukanlah evolusi alami estetika, melainkan hasil seleksi kapital, karya yang tidak kompatibel dengan mekanisme jual-beli akan tersingkir. Maka dari itu, kebebasan artistik direduksi menjadi kebebasan memilih dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh pasar.

Kondisi ini mencerminkan apa yang disebut Herbert Marcuse sebagai “one-dimensional society", di mana oposisi dan kritik diserap ke dalam sistem itu sendiri. Bahkan karya yang tampak kritis terhadap kapitalisme pun sering kali justru menjadi komoditas bernilai tinggi di dalamnya. Kritik tidak lagi menjadi ancaman, ia adalah gaya, sebuah estetika yang dapat dijual.

Melihat cara kerja ini, peran institusi seperti galeri besar dan rumah lelang menjadi krusial. Mereka tidak hanya memediasi, tetapi juga menentukan nilai dan legitimasi. Art fair bukan ruang netral, tetapi arena pertarungan kapital simbolik dan ekonomi, sebagaimana bisa juga dibaca melalui perspektif Pierre Bourdieu. Namun berbeda dari medan otonom yang dibayangkan Bourdieu, medan seni kontemporer kini semakin terintegrasi dengan logika kapital global, sehingga otonominya kian tergerus. Akibatnya, seni kehilangan daya subversifnya. Ia tidak lagi menjadi ruang refleksi kritis terhadap realitas sosial, melainkan bagian dari reproduksi sistem itu sendiri. 

Art fair global adalah panggung di mana kapitalisme merayakan dirinya melalui estetika, sebuah "spektakel" (masyarakat tontonan) yang  (meminjam istilah Guy Debord) menggantikan pengalaman nyata dengan representasi yang dikomodifikasi. Meski begitu, kritik ini bukan berarti menolak seluruh praktik art fair, melainkan menuntut kesadaran akan kondisi material yang melingkupinya. Pertanyaannya bukan lagi apakah seni bisa bebas dari pasar, tetapi sejauh mana seniman, kurator dan institusi mampu menciptakan celah resistensi di dalamnya. Tanpa itu, seni akan terus berfungsi sebagai ornamen kapital, indah, mahal dan pada akhirnya, jinak.


Dari fetisisme ke reifikasi

Jika fetisisme komoditas menjelaskan bagaimana nilai karya diselubungi oleh ilusi otonomi, maka tahap lanjutannya adalah reifikasi, konsep yang diperdalam oleh Georg Lukacs. Dalam reifikasi, relasi sosial tidak hanya tersembunyi, tetapi benar-benar membeku menjadi “benda.” Seni tidak lagi dipahami sebagai proses, pengalaman, atau relasi, melainkan sebagai objek statis yang siap dipertukarkan.

Art fair global mempercepat proses ini. Karya seni diproduksi, dikemas lalu dipresentasikan dalam format yang kompatibel dengan logika display komersial, misalnya booth, katalog, preview VIP dan daftar harga. Dalam situasi ini, pengalaman estetik direduksi menjadi pengalaman konsumsi. Penonton tidak lagi hadir sebagai subjek yang mengalami, tetapi sebagai calon pembeli atau setidaknya, sebagai bagian dari ekosistem legitimasi pasar.

Lebih problematis lagi, reifikasi ini tidak hanya terjadi pada karya, tetapi juga pada seniman itu sendiri. Seniman diposisikan sebagai “brand,” identitasnya dikurasi agar memiliki nilai jual. Biografi, gaya visual, hingga narasi personal menjadi bagian dari strategi pemasaran. Dengan kata lain, subjek kreatif direduksi menjadi fungsi dalam rantai produksi nilai.

Jika menggunakan pendekatan Marxian, art fair tidak bisa dilepaskan dari logika akumulasi kapital. Kolektor tidak sekadar membeli karya, mereka mengakumulasi nilai yang berpotensi meningkat. Seni menjadi instrumen investasi, sejajar dengan saham atau properti. Bahkan, dalam beberapa kasus, nilai simbolik karya justru lebih penting dari pada nilai estetiknya.

Di sinilah analisis Walter Benjamin tentang hilangnya “aura” menemukan relevansi baru. Reproduksi mekanis dulu dianggap mengikis aura karya seni, tetapi kini kapitalisme justru menciptakan aura baru, aura finansial. Sebuah karya menjadi “bernilai” karena dikaitkan dengan nama besar, galeri prestisius, atau sejarah lelang yang tinggi.

Selera pun tidak lagi terbentuk secara organik, melainkan diproduksi. Kurator, kritikus dan institusi berperan sebagai aparatus ideologis yang mengarahkan preferensi publik. Apa yang tampak sebagai “kecenderungan global” sering kali adalah hasil orkestrasi kekuatan pasar. Dalam konteks ini, dominasi abstraksi bukan hanya soal estetika, tetapi soal efisiensi kapital, mudah dipasarkan, tidak kontroversial dan fleksibel dalam berbagai konteks budaya.

Art fair juga dapat dibaca melalui konsep "spektakel" dari Guy Debord, di mana realitas sosial digantikan oleh representasi yang dikomodifikasi. Booth-booth galeri bukan sekadar ruang pamer, tetapi panggung di mana citra diproduksi dan dikonsumsi. Pengunjung datang bukan hanya untuk melihat karya, tetapi untuk menjadi bagian dari peristiwa itu sendiri, mengambil foto, membangun citra diri dan mengafirmasi posisi sosial. Seni dalam hal ini, menjadi latar bagi produksi identitas kelas menengah atas global.

Pemikiran lain yang sejalan dengan itu bisa ditelisik dalam perspektif Jean Baudrillard, kita bisa mengatakan bahwa art fair menciptakan simulakra, representasi tanpa referensi. Karya seni tidak lagi merujuk pada realitas sosial, tetapi pada jaringan tanda dan nilai yang berputar di dalam sistem itu sendiri. Abstraksi menjadi bentuk paling murni dari kondisi ini, ia tidak merepresentasikan apa pun selain dirinya sebagai komoditas.

Hal krusial lainnya, apakah seni masih memiliki potensi emansipatoris dalam kondisi ini?. Kapitalisme memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap dan menetralkan kritik. Namun, bukan berarti resistensi mustahil. Celah-celah kecil tetap ada, terutama ketika seniman dan kurator secara sadar mengganggu logika pasar, baik melalui strategi distribusi alternatif, praktik kolektif, maupun eksplorasi medium yang sulit dikomodifikasi. Seperti contoh proyek Daulat Sampah Kulon Progo, Yogyakarta.

Di sinilah pentingnya mengingat kembali semangat kritik Marxian, bukan sekadar membaca dunia, tetapi mengubahnya. Seni yang hanya merefleksikan kondisi kapitalisme tanpa mencoba mengintervensinya berisiko menjadi bagian dari reproduksi sistem.

Karenanya, presentasi Art fair global hari ini adalah cermin dari kapitalisme lanjut, seperti halnya efisiensi, kespektakuleran dan dipenuhinya ilusi kebebasan. Ia menawarkan visibilitas, tetapi dengan harga, yakni integrasi ke dalam logika pasar. Seni berada di persimpangan, antara menjadi alat reproduksi kapital atau ruang kemungkinan untuk membayangkan alternatif. Pilihan ini tidak pernah netral. Ia selalu terkait dengan posisi, kesadaran, dan keberanian untuk berhadapan dengan arus utama, yakni memberinya kritik. Kendati demikian, didalamnya selalu ada kontradiksi internal, misalnya pada suatu saat ketika pasar membutuhkan kritik, hal yang terjadi justru sebaliknya, ia pada dasarnya tak tahan kritik.

Meski begitu adanya, kapitalisme seni tidak pernah sepenuhnya menolak kritik, justru ia membutuhkannya sebagai bahan bakar diferensiasi. Kritik memberi kesan dinamika, progresivitas dan relevansi. Namun disaat yang sama, kritik tidak boleh melampaui batas tertentu, ia harus tetap dapat dikomodifikasi.

Di sinilah kontradiksi utama art fair global, ia membutuhkan aura intelektual dan wacana kritis untuk menaikkan nilai simbolik karya, tetapi akan menyingkirkan praktik yang benar-benar mengancam stabilitas pasar. Kritik yang terlalu radikal, yang menyentuh relasi kepemilikan, rasisme, politik, eksploitasi atau ketimpangan struktural, akan sulit menemukan ruang. Hal ini mengingatkan pada konsep hegemoni Antonio Gramsci, di mana dominasi tidak dijalankan melalui paksaan semata, tetapi melalui persetujuan. Art fair menciptakan konsensus bahwa apa yang terjadi di dalamnya adalah “alami,” “wajar,” bahkan “ideal” bagi dunia seni. Sederhananya, kritik yang muncul cenderung bersifat internal, memperbaiki sistem, bukan merombaknya.***