Home Profil Syekh H. Kadhy M. Ilyas, Ketua Transisi: Pembawa Tradisi Pawai Maulid Nabi

Syekh H. Kadhy M. Ilyas, Ketua Transisi: Pembawa Tradisi Pawai Maulid Nabi

Oleh: Ismail Lutan

60
0
SHARE
Syekh H. Kadhy M. Ilyas, Ketua Transisi: Pembawa Tradisi Pawai Maulid Nabi

Ormas Islam terbesar dari Sumatera, Al Washliyah,  yang lahir di Medan, tahun 1930, akan menyelenggarakan Muktamar ke-23 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 7-10 Juli 2026. Artikel  ini menampilkan serial tulisan profil dan kiprah para Ketua Umum. Syekh H. Kadhy M. Ilyas, tidak tercatat sebagai Ketua Umum, tapi Beliau pemimpin di masa transisi selama 6 bulan ketika Ketum Pertama Ismail Banda melanjutkan study ke luar negeri

Dalam catatan sejarah organisasi besar, masa jabatan enam bulan biasanya hanya dianggap sebagai "masa transisi" yang numpang lewat. Namun, bagi Al Jam’iyatul Washliyah, periode Juli hingga Desember 1931 di bawah kepemimpinan Syekh H. Kadhy M. Ilyas adalah waktu di mana organisasi yang baru lahir ini menemukan "ruh" dan wibawanya.

Meskipun memimpin dalam waktu yang sangat singkat, Syekh Ilyas Kadi—begitu ia akrab disapa—bukanlah sekadar pengisi kekosongan kursi ketua. Ia adalah sosok ayah sekaligus jembatan yang menghubungkan semangat membara para pemuda pendiri dengan kebijaksanaan ulama-ulama sepuh.

Turun ke Jalan

Salah satu sisi paling humanis dari Syekh Ilyas Kadi adalah kecintaannya pada anak-anak didik. Beliau tidak ingin agama hanya mendekam di dalam kitab-kitab kuning yang kaku. Syekh Ilyas adalah aktor intelektual di balik tradisi Pawai Maulid Nabi besar-besaran di Medan.

Bayangkan suasana tahun 1931: ribuan murid madrasah berbaris rapi, bersalawat membelah jalanan Medan yang masih asri, di bawah tatapan bangga Sultan Deli. Di sana, Syekh Ilyas berdiri bukan sebagai pejabat yang kaku, melainkan sebagai guru yang ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang syiar, gembira, dan bersatu. Lewat pawai ini, ia berhasil menanamkan rasa percaya diri pada ribuan anak yatim dan fakir miskin bahwa mereka adalah bagian penting dari masa depan bangsa.

Penengah Rendah Hati

Sebagai seorang Kadhi (hakim agama) di Kesultanan Deli, Syekh Ilyas memiliki martabat sosial yang tinggi. Namun, saat masuk ke dalam Al Washliyah, ia melepaskan jubah kebesarannya. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat mendengar. Di masa kepemimpinannya yang singkat, ia fokus menata administrasi guru-guru madrasah.

Beliau memahami bahwa nasib sebuah bangsa ditentukan dari dapur kelas. Oleh karena itu, ia rela menghabiskan waktunya untuk turun langsung sebagai Inspektur Umum, memastikan kualitas pengajaran tetap terjaga. Baginya, menjadi pemimpin bukan soal memberi perintah, tapi soal melayani mereka yang mengajar.

 Fondasi

Mengapa beliau hanya menjabat sebentar? Sejarah mencatat bahwa Syekh Ilyas adalah tipikal ulama yang "tahu kapan harus memulai dan tahu kapan harus memberi ruang." Setelah berhasil menstabilkan organisasi pasca-kepemimpinan pertama, ia dengan ikhlas memberi jalan bagi kader-kader lain untuk melanjutkan tongkat estafet, sementara ia tetap menjaga organisasi dari balik layar sebagai dewan penasihat.

Ketokohan Syekh Ilyas Kadi mengajarkan kita sebuah pelajaran mahal: bahwa untuk menjadi hebat, seseorang tidak butuh waktu lama untuk menjabat. Ia cukup meninggalkan jejak ketulusan, senyum bagi para murid, dan fondasi organisasi yang kokoh.

Hingga hari ini, setiap kali kita melihat pawai Al Washliyah atau deretan madrasah yang berdiri tegak, di sana ada tetesan keringat dan doa dari seorang ulama kharismatik yang hanya memimpin selama enam bulan, namun pengaruhnya terasa hingga satu abad kemudian.***(disarikan dari berbagai sumber/penulis tidak menemukan dokumen foto Syekh H. Kadhy M. Ilyas  )