Home Seni Budaya Puisi Menyatukan Bangsa, Aceh Jadi Panggung Pertemuan Penyair Nusantara XIV

Puisi Menyatukan Bangsa, Aceh Jadi Panggung Pertemuan Penyair Nusantara XIV

48
0
SHARE
Puisi Menyatukan Bangsa, Aceh Jadi Panggung Pertemuan Penyair Nusantara XIV

Keterangan Gambar : Malam pembukaan digelar di Gedung Wali Nanggroe, Banda Aceh, Senin (22/6/2026) dan dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti.  (sumber foto : ist/pp)

BANDA ACEHParahyangan Post — Suara puisi dari berbagai penjuru Nusantara dan dunia berkumpul di Tanah Rencong. Aceh menjadi saksi perhelatan besar Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh-Indonesia, sebuah ajang sastra yang menghadirkan penyair dari 14 negara dan ratusan penyair Indonesia.

Mengusung semangat kebudayaan, persaudaraan, dan dialog melalui karya sastra, PPN XIV berlangsung pada 22–28 Juni 2026 dengan rangkaian kegiatan yang tersebar di sejumlah wilayah Aceh.

Malam pembukaan digelar di Gedung Wali Nanggroe, Banda Aceh, Senin (22/6/2026) dan dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti. 

Kehadiran para penyair internasional menjadikan PPN XIV sebagai ruang perjumpaan lintas budaya. Para penyair dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Laos, Filipina, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Timor Leste, Turki, Jepang, hingga Tasmania hadir membawa ragam warna sastra dan pengalaman kebudayaan masing-masing.

Aceh dipilih bukan sekadar sebagai tempat penyelenggaraan, tetapi sebagai simbol pertemuan antara sejarah, tradisi, dan masa depan kebudayaan. Daerah yang dikenal dengan kekayaan adat dan warisan budayanya ini menjadi ruang bagi puisi untuk berbicara tentang kemanusiaan, perdamaian, serta persaudaraan antarbangsa.

PPN XIV Aceh-Indonesia digagas oleh Rangkang Sastra Aceh dengan melibatkan 31 komunitas sastra lokal serta berkolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, yakni ISBI Aceh, Universitas Almuslim, Universitas Bina Bangsa Getsempena Aceh, dan IAIN Takengon.

Direktur Pelaksana PPN XIV Aceh-Indonesia, Novi, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama untuk memperkuat ekosistem sastra sekaligus memperkenalkan Aceh sebagai salah satu pusat kebudayaan dan literasi di kawasan Asia Tenggara.

“Pertemuan ini bukan hanya tentang membaca dan menulis puisi, tetapi tentang mempertemukan manusia melalui bahasa yang paling universal: rasa dan kemanusiaan,” ungkapnya.

Selain dukungan komunitas sastra, penyelenggaraan PPN XIV juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah di Aceh, mulai dari Banda Aceh, Bireuen, Aceh Tengah, hingga Aceh Besar.

Selama penyelenggaraan, para penyair akan mengikuti berbagai agenda, mulai dari pembacaan puisi, diskusi sastra, pertukaran gagasan budaya, hingga kegiatan apresiasi seni.

Melalui PPN XIV Aceh-Indonesia, puisi diharapkan tidak hanya menjadi karya yang dibaca, tetapi menjadi jembatan yang menghubungkan bangsa-bangsa, merawat ingatan, dan menumbuhkan harapan.

Aceh hari ini bukan hanya menjadi tuan rumah sebuah perhelatan sastra, tetapi menjadi rumah bagi suara-suara yang datang membawa cerita, doa, dan makna. - (rsc/pp)