Home Polkam Plus Minus Bergabungnya Indonesia ke dalam Board Of Peace

Plus Minus Bergabungnya Indonesia ke dalam Board Of Peace

Ketum PB Al Washliyah: Berteman rentan, berseberangan juga rentan

620
0
SHARE
Plus Minus Bergabungnya Indonesia ke dalam Board Of Peace

Keterangan Gambar : Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah (PB Al Washliyah), Dr.KH.Masyhuril Khamis (foto sir)

Jakarta, parahyangan-post.com-– Bergabungnya Indonesia dengan Dewan Perdamaian atau Board Of Peace (BOP) besutan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendapat tanggapan dari berbagai kalangan. Ada pengamat yang menilai tidak patut dan melecehkan perjuangan rakyat Palestina mempertahankan kemerdekaannya. Ada juga yang mengapresiasi sebagai bentuk politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Tanggapan juga datang dari Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah (PB Al Washliyah), Dr.KH.Masyhuril Khamis, SH,MM. Menurutnya  ada plus minus bergabungnya Indonesia dalam dewan tersebut.

“Berteman dengan Donald Trump rentan. Berseberangan juga rentan,” kata Masyhuril Khamis mengomentari keputusan Indonesia bergabung dengan BOP buatan Presiden Trump, kepada  wartawan, di Jakarta, seperti yang diunggah website resmi Al Washliyah, Senin sore 26 Januari 2026/07 Syakban 1447 H.

Dikonfirmasi parahyangan-post.com, Masyhuril membenarkan pernyataannya itu. Menurutnya, keterangan lain menyebutkan, selain Indonesia, sejumlah negara mayoritas muslim seperti Turki, Arab Saudi, dan Mesir juga tercatat menjadi bagian dari badan tersebut. Banyak yang menilai keterlibatan pemimpin negara muslim dalam BOP berpeluang membuka ruang diplomasi internasional yang lebih luas.

Kehadiran negara-negara tersebut dinilai dapat memberi pengaruh terhadap kebijakan global dalam menangani konflik berkepanjangan.

Masyhuril Khamis, yang juga Ketua Bidang Halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, dan Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat, berpendapat bahwa perdamaian Palestina harus menjadi tujuan Utama. Caranya tentu pemerintah sudah menghitung untuk itu.

“Jadi Al Washliyah tetap meminta Kementerian Luar Negeri untuk tetap serius dan waspada akan permainan politik Trump, meskipun tujuan kita untuk kemerdekaan Palestina,” tegasnya.

Apakah dengan bergabungnya Indonesia dapat menjadi penyimbang?” tanya media ini.
“Itu yang kita harapkan,” jawab Masyhuril Khamis, saat masih berada di Kota Bengkulu, dalam rangkaian kunjungan kerja daerah..

Dengan bergabungnya Indonesia ke Dewan Perdamaian itu, menurut berbagai kalanan akan menimbulkan pro dan kontra di tanah air. Ada yang menilai hal tersebut beresiko besar dan mengundang opini publik bahwa Presiden Prabowo Subianto mendukung agenda Amerika Serikat, yang selama ini dianggap merugikan perjuangan rakyat Palestina.

Sebaliknya, dengan bergabungnya Indonesia pada Dewan Perdamaian tersebut, akan menjadi negara yang berani mengingatkan dan mencegah Donalt Trump untuk tidak berbuat semena-mena terhadap rakyat Palestina, karena Indonesia adalah negara pendukung kuat Palestina.***(pp/aboe/alws-sir)