Home Opini Petani Tradisional Penjaga Kearifan Lokal

Petani Tradisional Penjaga Kearifan Lokal

993
0
SHARE
Petani Tradisional Penjaga Kearifan Lokal

Oleh: Mugi Muryadi
Penulis adalah wiraswastawan, pegiat literasi, pemerhati sosial, lingkungan, dan pendidikan.

Petani tradisional Indonesia yang sering dipandang tertinggal, mereka adalah penjaga kearifan lokal yang paling setia. Mereka bekerja bukan sekadar menanam dan memanen. Mereka merawat hubungan panjang dengan tanah, air, musim, dan keyakinan. Dalam suatu kesempatan, Presiden terpilih Prabowo Subianto menegaskan pentingnya memuliakan petani. “Kita harus bikin makmur, supaya anak petani mau jadi petani,” ujarnya, dikutip Kompas.com (13/1/2026).  Pernyataan itu bukan basa-basi politik. Ia menyentuh persoalan serius tentang masa depan pertanian dan regenerasi petani. Tanpa kesejahteraan, tradisi agraris akan ditinggalkan. Tanpa tradisi, pertanian kehilangan jiwanya.

Prabowo bahkan membandingkan dengan desa-desa di Jerman. Di sana, pemuda bertani dengan bangga dan hidup layak. Mereka bekerja di ladang sore hari, lalu menikmati hiburan malam. Gambaran itu menunjukkan bahwa bertani bisa modern, sejahtera, dan bermartabat. Namun konteks Indonesia berbeda dan lebih kompleks. Petani Indonesia hidup dalam lanskap budaya yang kaya makna simbolik. Bertani bukan hanya profesi, tetapi jalan hidup. Antropolog Koentjaraningrat menyebut pertanian tradisional sebagai sistem budaya, bukan sekadar sistem produksi. Di situlah letak kekuatan petani tradisional Indonesia.

Hubungan petani dengan alam terlihat jelas dalam ritual agraris. Di Kulon Progo, tradisi wiwitan masih dijalankan sebelum panen padi. Warga menyiapkan tumpeng, jajanan pasar, dan hasil bumi. Ritual dipimpin tokoh adat dengan doa bersama. Pemerintah daerah bahkan memasukkan wiwitan dalam kalender budaya tahunan. Ini menunjukkan pengakuan negara terhadap tradisi petani. Menurut Koentjaraningrat, ritual seperti ini menjaga keseimbangan sosial dan ekologis. Tradisi menjadi sarana komunikasi manusia dengan alam dan Tuhan.

Di Sleman, Yogyakarta, tradisi saparan hidup sebagai ruang kebersamaan petani. Hasil bumi dibawa ke balai desa. Doa, karawitan, dan makan bersama menjadi inti acara. Saparan memperkuat solidaritas sosial antarpetani. Dalam konteks sosiologi pedesaan, ritual semacam ini memperkuat modal sosial. Robert Putnam menyebut modal sosial penting bagi ketahanan komunitas. Petani tidak bekerja sendiri. Mereka bergerak dalam jaringan kepercayaan dan kebersamaan.

Jawa Timur memiliki ritual methil di Ngawi. Ritual ini dilakukan sebelum panen dimulai. Petani membawa sesaji sebagai penghormatan pada leluhur. Data pemerintah desa Mantingan menunjukkan ritual ini masih aktif di lebih sepuluh dusun. Methil mengajarkan nilai kebersamaan dan rasa syukur. Nilai ini relevan dalam pertanian berkelanjutan. FAO menekankan pentingnya nilai lokal dalam menjaga ketahanan pangan. Tradisi membuat petani lebih berhati-hati memperlakukan alam.

Di Lombok, tradisi Malean Sampi menghadirkan wajah lain pertanian. Petani mengajak sapi berlomba di sawah berlumpur. Tujuannya bukan kompetisi, melainkan kegembiraan panen. Pemerintah Lombok Tengah mempromosikannya sebagai wisata budaya. Malean Sampi menunjukkan bahwa pertanian juga ruang ekspresi budaya. Hubungan manusia, hewan, dan tanah menyatu dalam kegembiraan. Ini memperkuat identitas agraris masyarakat Lombok.

Gotong royong petani juga hidup dalam tradisi Bahandipan di Kalimantan Selatan. Warga saling membantu panen secara bergiliran. Pola ini mempercepat panen dan menekan biaya. Praktisi adat di Desa Keramat Baru menjaga keteraturan tradisi ini. Dalam kajian pembangunan desa, gotong royong disebut aset sosial utama. World Bank menilai modal sosial memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan. Bahandipan membuktikan teori itu secara nyata.

Namun, semua tradisi itu menghadapi tantangan besar. Perubahan iklim mengacaukan pola musim. Data BMKG menunjukkan curah hujan makin tidak merata dalam satu dekade terakhir. Petani Gunungkidul merasakan dampaknya langsung. Penanda alam menjadi sulit dibaca. Kemarau lebih panjang, hujan datang terlambat. Pengetahuan lokal yang diwariskan ratusan tahun diuji oleh realitas baru.

Di Dusun Ngoro-oro, awal musim hujan sering meleset. Petani yang menanam terlalu dini mengalami gagal panen. Ini memukul ekonomi keluarga petani. Tantangan ini menunjukkan keterbatasan kearifan lokal jika berdiri sendiri. Namun bukan berarti tradisi harus ditinggalkan. Tradisi perlu diperkaya dengan ilmu pengetahuan modern.

Upaya integrasi mulai dilakukan. Program Kepemimpinan Lokal untuk Dampak Global oleh GNDR membantu petani Gunungkidul. Petani belajar membaca peta cuaca dan data curah hujan. Program ini berjalan sejak 2021. Hasilnya, waktu tanam menjadi lebih akurat. Ini membuktikan bahwa petani mampu belajar teknologi jika didampingi. FAO menyebut pendekatan partisipatif kunci keberhasilan adaptasi iklim.

Di Maluku, Sekolah Lapang Iklim dari BMKG dan USAID APIK memberi dampak serupa. Petani cengkeh belajar memahami data iklim. Teknologi solar dryer dome membantu menjaga kualitas panen. Di Banyuwangi, sensor tanah sederhana membantu petani padi mengatur irigasi. Perguruan tinggi lokal mendampingi proses ini. Integrasi ilmu, teknologi, dan tradisi mulai menemukan bentuknya.

Meski begitu, pranata mangsa masih menjadi pegangan banyak petani Jawa. Sistem ini telah digunakan sejak era Majapahit. Kini, petani memadukannya dengan prakiraan BMKG melalui ponsel. Perpaduan ini menciptakan keputusan tanam yang lebih bijak. Tradisi memberi kerangka nilai. Teknologi memberi data. Ilmu memberi penjelasan rasional.

Pada akhirnya, petani tradisional bukan simbol masa lalu. Mereka penjaga nilai, identitas, dan keberlanjutan. Tradisi mengajarkan kesabaran, kebersamaan, dan penghormatan pada alam. Nilai ini sangat relevan di tengah krisis iklim global. Kearifan lokal, teknologi, dan ilmu modern tidak perlu dipertentangkan. Ketiganya bisa berjalan berdampingan. Jika petani sejahtera, seperti diimpikan Prabowo, tradisi akan tetap hidup. Dari sawah, masa depan bangsa bisa dijaga. (*)