Home Agama MTQN 31 Semarang Dibuka Menko Praktikno

MTQN 31 Semarang Dibuka Menko Praktikno

Menag: Punya Makna Sosial dan Kebangsaan yang Sangat Besar

57
0
SHARE
MTQN 31 Semarang Dibuka  Menko Praktikno

Keterangan Gambar : Menteri Agama Nasaruddin Umar (foto kmg)

Semarang, parahyangan-post.com- Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Semarang dibuka oleh Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno. Sabtu malam (12/9/2026). Prosesi pembukaan berlangsung di Lapangan Pancasila, Semarang, Jawa Tengah, ditandai dengan pemukulan bedug.

Kegiatan akan berlangsung hingga 20 September 2026. Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sambutan menekankan bahwa MTQ Nasional memiliki makna sosial dan kebangsaan yang sangat besar.

“Kafilah dari berbagai penjuru Nusantara datang dengan bahasa, budaya, dan tradisi beragam. Mereka bertemu bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Menag di acara pembukaan.

MTQ XXXI ini juga menghadirkan pesan inklusivitas melalui cabang ekshibisi Al-Qur'an bagi para penyandang disabilitas sensorik tuli dan pemanfaatan mushaf Al-Qur'an isyarat. “Ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk bagi semua, tidak boleh ada seseorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur'an karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” paparnya.

Menag menyebut MTQ sebagai pesta rakyat yang paling besar di seluruh Indonesia. Menag berharap, MTQ mampu menjadi momentum untuk menyambungkan kembali bacaan dengan tindakan, hafalan dengan pengamalan, serta pengetahuan dengan keteladanan. Al-Qur'an diturunkan untuk dibaca, dipahami, dan ditadaburi pesan-pesannya. Al-Qur'an membumi untuk melangitkan kembali manusia. Al-Qur'an datang sebagai undangan sekaligus tiket untuk kembali ke kampung halaman rohani kita di masa akan datang.

Nilai-nilai Al-Qur’an, kata Menag, perlu hadir dalam berbagai ruang kehidupan. Dalam keluarga, nilai tersebut antara lain tercermin melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan sikap saling menghormati. Dalam lingkungan kerja, nilai Qurani dapat diwujudkan melalui amanah, kedisiplinan, profesionalisme, dan pelayanan yang adil.

Menag juga mengingatkan agar kedekatan dengan Al-Qur’an tercermin dalam integritas dan tanggung jawab dalam menjalankan kewenangan. Ia menekankan pentingnya menjauhi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan serta menjaga kepercayaan masyarakat.

Di tengah masyarakat, lanjutnya, nilai Al-Qur’an juga dapat diwujudkan melalui sikap saling mengenal, saling menolong dalam kebaikan, serta memeriksa informasi sebelum menyebarkannya. Sikap tersebut, menurutnya, penting untuk mencegah fitnah, hoaks, ujaran kebencian, dan tindakan yang dapat merusak kehormatan serta persaudaraan.

Sementara dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Menag menekankan pentingnya keadilan, persatuan, perlindungan terhadap kelompok yang lemah, penghormatan terhadap kemajemukan, dan kepentingan bersama. “Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semestinya semakin mulia akhlaknya, semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan, dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” katanya.

“Mari kita jadikan MTQ ini sebagai momentum untuk berhijrah. Semoga Allah SWT meridai seluruh ikhtiar kita dan menjadikan Al-Qur'an sebagai cahaya yang menuntun bangsa Indonesia menuju kehidupan yang rukun, maju, adil sejahtera, dan berkeadaban,” ajak Menag.

MTQ Nasional XXXI diikuti kafilah dari 37 provinsi dengan total 2.242 peserta. Mereka mengikuti delapan cabang lomba yang terbagi dalam 24 golongan dan 48 kategori, mulai dari kategori anak-anak hingga dewasa, termasuk tilawah, tafsir dalam tiga bahasa, serta hafalan dari satu juz hingga 30 juz.

Untuk mendukung pelaksanaan kompetisi, Menag telah mengukuhkan tujuh Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim. Seluruh perlombaan dilaksanakan secara serentak di 12 venue yang tersebar di Kota Semarang, ditambah satu titik registrasi kafilah.

Menag mengajak seluruh peserta mengikuti musabaqah dengan sungguh-sungguh, jujur, dan menjunjung sportivitas. Kepada dewan hakim dan perangkat penyelenggara, ia berpesan agar menjaga marwah MTQ melalui penilaian yang objektif, profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam pembukaan MTQ Nasional ke-31 di Semarang, Menag juga mengumumkan bahwa MTQ akan digelar setiap tahun. Selama ini, MTQ berlangsung dua tahun sekali, karena bergantian dengan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ).

“Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” tegas Menag.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi

Selaku tuan rumah, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan bahwa MTQ tidak hanya berkaitan dengan kompetisi membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, tetapi menjadi ruang kebersamaan masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Menurutnya, kehadiran para pimpinan daerah dan kafilah dari berbagai wilayah menunjukkan dimensi kebersamaan dalam penyelenggaraan MTQ.

Ini adalah kali kedua Jawa Tengah menjadi tuan rumah penyelenggaraan MTQ tingkat Nasional. Jawa Tengah menjadi tuan rumah MTQ Nasional kali pertama 47 tahun lalu, tepatnya pada 1979.

Ketua LPTQ Nasional sekaligus Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad

Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Nasional sekaligus Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad melaporkan bahwa rangkaian MTQ Nasional XXXI dipersiapkan melalui kerja sama Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, LPTQ, Kantor Wilayah Kementerian Agama, pemerintah daerah, dewan hakim, serta panitia pusat dan daerah.

Dia berharap, MTQ Nasional tidak berhenti pada kompetisi, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan kecintaan terhadap Al-Qur’an dengan pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan, sekaligus memperkuat persaudaraan dan persatuan masyarakat Indonesia.***(pp/aboe/siper-kmg)