
Keterangan Gambar : Ilustrasi dialog PANDEKA KUSUK di Lapau Gaek Rabun, dibuat dengan bantuan AI
Publik kembali dihebohkan oleh wacana menggelitik dari panggung politik nasional. Pernyataan Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP) sekaligus Deputi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Ulta Levenia, memicu perdebatan hangat. Ia melontarkan teori bahwa erupsi simultan enam gunung berapi di Indonesia merupakan hasil campur tangan teknologi asing—spesifiknya teknologi High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) milik Amerika Serikat.
Sontak, narasi berbau science fiction (fiksi ilmiah) ini memantik reaksi beragam dari publik yang terbiasa menyerap informasi dari riuhnya percakapan kedai kopi hingga media sosial.
Diplomasi Gaib
Dalam kacamata budaya Nusantara, mengaitkan fenomena alam raksasa hanya dengan transmisi gelombang elektromagnetik ionosfer buatan Paman Sam terasa melompati tata krama kosmik lokal. Mengapa? Karena Nusantara telah lama memiliki "penguasa" dan narasi penjelasnya sendiri.
Jika narasi HAARP ingin menyentuh akar rumput dengan mulus, seandainya pihak Istana—dalam hal ini Ulta Levenia—terlebih dahulu berkonsultasi dengan "Stafsus Nyi Roro Kidul", jalan ceritanya mungkin akan berbeda. Publik Indonesia tidak akan melihatnya sekadar sebagai fantasi geopolitik modern, pengalihan isu MBG dan biaya perawatan kapal induk Garibaldi yang baru saja sampai di Tanah Air, melainkan sebagai bagian dari dinamika kosmik yang akrab di telinga mereka.
Sayangnya, "konsultasi birokrasi spiritual" tidak dilakukan (dan itu memang tak akan pernah terjadi). Pernyataan tersebut dilontarkan begitu saja tanpa "sowan" pada kearifan lokal, sehingga terdengar seperti naskah film sci-fi Hollywood yang dipaksakan berlatar di tanah Jawa dan Sumatra.
HAARP vs Nyi Roro Kidul
Meski sekilas berseberangan—satu berbasis teknologi pemancar gelombang radio frekuensi tinggi, satu lagi berdasar pada mitologi masyarakat pesisir—keduanya sebenarnya berbagi satu asumsi dasar yang sama: alam Indonesia dapat dikendalikan oleh kekuatan eksternal berniat khusus.
Titik temu antara kebenaran tradisional dan sains fiksi ini dapat dipahami melalui beberapa benang merah diantaranya, pertama , Simbol Pengendalian Energi Alam. Mitos Nyi Roro Kidul menyimpan ajaran tentang keseimbangan elemen tanah (gunung) dan air (laut). Erupsi gunung berapi dalam tradisi lokal kerap dipahami sebagai luapan "kemarahan" atau penyelarasan energi dari Sang Penguasa Laut Selatan. Di sisi lain, narasi HAARP menerjemahkan pengendalian energi ini ke dalam istilah teknologis: manipulasi gelombang ionosfer untuk memicu getaran tektonik dan vulkanik.
Kedua, Proyeksi Rasa Takut pada Kekuatan Besar. Masyarakat tradisional mengekspresikan ketakutan atas ketidakpastian alam melalui sosok gaib yang berkuasa penuh. Sementara itu, narasi geopolitik modern memproyeksikan ketakutan yang sama pada negara adidaya berteknologi canggih. Keduanya bertindak sebagai "kambing hitam kosmik" atas bencana yang sulit diprediksi manusia awam.
Yang ketiga, Sinkretisme Narasi dalam Konsep Kebun Percaya. Bagi publik Indonesia, narasi sains fiksi dan mitologi bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Jika HAARP diibaratkan sebagai "senjata gelombang", maka dalam kacamata lokal, senjata itu hanya akan bekerja jika direstui atau memicu respons dari benteng pertahanan gaib Pantai Selatan.
Penyeimbang
Pernyataan yang memadukan geopolitik canggih dan fenomena alam kerap kali membentur tembok skeptisisme jika disampaikan secara kaku. Erupsi enam gunung berapi bersamaan memang fenomena vulkanik yang luar biasa, namun menuding proyek penelitian ionosfer AS tanpa bukti empiris yang kukuh hanya akan mengundang senyum simpul masyarakat—sebagaimana reaksi spontan tokoh-tokoh dalam komik sindiran Pandeka Kusuk.
Pada akhirnya, sebelum membawa narasi sci-fi tingkat tinggi ke ruang publik, pejabat terkait ada baiknya tak melupakan kultur skeptis sekaligus spiritual masyarakat kita. Jika sains modern belum mampu memberi jawaban pasti dan teori konspirasi terasa terlalu jauh melompat, mungkin menyelaraskan logika dengan kearifan lokal—atau setidaknya "minta saran" pada penjaga Laut Selatan—bisa jadi penawar agar narasi pemerintah tak berakhir jadi bahan gubahan komik di lapau-lapau kopi.***()






LEAVE A REPLY