
Keterangan Gambar : Diskusi nyantai gaya 'wartawan-seniman' di Sumur Alet Kranggan. Recana penyelenggaraan Pameran Lukisan KDM dalam Lintasan Budaya Sunda (foto amat)
Berkasi, parahyangan-post.com.-Kang Dedi Mulyadi (KDM) merupakan satu-satunya Gubernur Jawa Barat yang sangat konsisten dan bangga dengan kebudayaannya. Ia memposisikan budaya Sunda bukan sebatas falsafah tetapi juga gaya hidup keseharian. Salah satu yang sangat menonjol adalah ketika ia menyulap kampung halamannya Lembur Pakuan (Sukadaya, Subang) menjadi tempat menerima tamu penting dan rapat-rapat resmi, dengan nuansa khas Sunda.
Hal ini mengemuka pada diskusi budaya bertema ”Kekuatan budaya lokal menghadapi gaya hidup premium zaman medsos".
Diskusi berlangsung di Padepokan Wisata Budaya Sumur Alet, Kranggan, Bekasi, Rabu 22 April 2026, dihadiri sejumlah seniman, pegiat kesenian dan wartawan.
Menurut wartawan dan pegiat seni Mursali Bahktiar, Dedi Mulyadi lebih senang menerima dan menjamu tamunya di Lembur Pakuan ketimbang di hotel mewah atau kantor pemerintah (Gedung Sate).
”Sabtu-Minggu, biasanya KDM menerima tamu di Lembur Pakuan, baik tamu resmi maupun masyarakat yang ingin menyampaikan aduan,” ujar Bahktiar yang juga merupakan orang ’lingkar dalam’ KDM.
Sementara Budayawan Putra Gara mengatakan fenomena Lembur Pakuan berbeda dengan yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto dengan Hambalangnya, atau SBY dengan Cikeasnya. Bahkan juga sangat berbeda dengan Soeharto dengan Cendananya.
”Perbedaannya terletak pada visinya. Jika para presiden tersebut memposisikan ’istana bayangannya’ itu sebagai bentuk kekuatan atau ego ’keakuan’ seorang pemimpin yang mempunyai kekuasaan luar biasa, maka Lembur Pakuannya KDM lebih kepada meletakkan nilai budaya pada tempat yang dihormati,” ujar Putra Gara yang juga Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bogor (DKKB) ini.
Menurut Gara -demikian seniman serba bisa dan penulis novel-novel sejarah ini disapa- KDM sangat memahami akar budaya Sunda. Maka tidak heran semua langkah dan kebijakannya berdasarkan kearifan lokal Sunda.
Sementara itu wartawan senior Ismail Lutan menyorot gaya kepemimpinan ’sosmed’ yang diperkenalkan KDM. Ia menilai gaya kepemimpinan ini adalah jawaban atas gaya kepimpinan baku yang terkadang sangat kaku.dan ’menyebalkan’
”Ini mungkin jawaban paling pas saat ini, di mana masyarakat memang lebih senang berkomunikasi lewat medsos,” ujar Ismail Lutan, yang juga Ketua Umum Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) ini.
KDM, lanjut Ismail Lutan, juga berhasil memperlihatkan gaya kepemimpinan yang ’nyunda yang merakyat’ namun tegas dan berani. Semisal saat ia menormalisasi kali CBL di Bekasi.
Dalam diskusi mengemuka rencana ”Pameran lukisan KDM dalam Lintasan Budaya Sunda” di Lembur Pakuan.
Pameran nantinya akan menampilkan (menvisualisasikan) aktifitas KDM dalam berbagai ragam kegiatan, baik kegiatan kebudayaan, kemasyarakatan, sosial dan lain sebagainya, yang dilukis oleh seniman.
”Pameran lukisan ini sangat cocok dilaksanakan di Lembur Pakuan, selain sebagai ekpresi berkesenian, juga justifikasi sebagai kampung budaya, ” ujar Putra Gara yang juga pelukis.***(aboe)






LEAVE A REPLY