
Keterangan Gambar : Pada Sabtu, 18 April 2026, Deklarasi Gerakan Herbal dan Rempah Indonesia resmi digelar di kawasan Bumiku Bumimu Hijau Farm, Ajibarang, Banyumas
PURWOKERTO II Parahyangan Post–Upaya mengangkat kembali kejayaan rempah dan herbal Nusantara memasuki babak baru. Pada Sabtu, 18 April 2026, Deklarasi Gerakan Herbal dan Rempah Indonesia resmi digelar di kawasan Bumiku Bumimu Hijau Farm, Ajibarang, Banyumas. Kegiatan ini menjadi momentum penting yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga petani dalam satu visi besar: menjadikan rempah dan herbal sebagai pilar strategis ketahanan pangan dan kesehatan nasional.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, kemudian Yudhie Haryono selaku inisiator Badan Nasional Rempah dan Herbal Indonesia, Ketua Umum PPJAI Heri Susanto, serta Ketua Dewan Pembina PPJAI Mukit Hendrayatno.
Dalam sambutannya, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa rempah dan herbal bukan sekadar komoditas tradisional, melainkan bagian penting dari strategi besar ketahanan pangan nasional. Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Rempah dan herbal harus kita tempatkan sebagai bagian dari sistem pangan nasional. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kesehatan masyarakat,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya pemenuhan gizi, khususnya bagi anak-anak, dengan mendorong konsumsi susu, termasuk susu etawa sebagai alternatif sumber protein dan nutrisi.
Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya, Yudhie Haryono mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali membudayakan konsumsi rempah dan herbal dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ketergantungan terhadap obat-obatan kimia perlu dikurangi dengan menghidupkan kembali tradisi pengobatan berbasis bahan alami.
“Rempah dan herbal adalah identitas kita. Jika kita menghidupkannya kembali, maka kita tidak hanya menjaga kesehatan, tetapi juga mengembalikan posisi strategis Indonesia di mata dunia,” tegasnya. Ia bahkan menekankan bahwa keterlibatan dalam gerakan ini merupakan bentuk kontribusi nyata terhadap bangsa, setara dengan semangat para pendiri republik.
Puncak acara ditandai dengan pembacaan Deklarasi Gerakan Herbal dan Rempah Indonesia oleh Heri Susanto, yang kemudian diikuti oleh seluruh peserta dengan penuh khidmat. Deklarasi ini menjadi simbol komitmen bersama untuk mendorong pengembangan, pemanfaatan, serta hilirisasi rempah dan herbal secara berkelanjutan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif antara Kemenko Bidang Pangan yang diwakili oleh ibu Widiastuti, S.E., M.Si., QIA. selaku Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian dengan para pelaku usaha jamu, petani, dan peternak lokal. Dalam sesi ini, berbagai aspirasi disampaikan, mulai dari tantangan produksi, akses pasar, hingga dukungan kebijakan yang dibutuhkan untuk memperkuat ekosistem rempah dan herbal nasional.
Sebagai penutup, para peserta diajak mengunjungi sistem pertanian terpadu (Integrated System Farming) yang dikembangkan di Bumiku Bumimu Hijau Farm. Kunjungan ini sekaligus menjadi ajang melihat langsung praktik pertanian berkelanjutan yang terintegrasi dengan peternakan dan pengolahan hasil. Selain itu, peserta juga melakukan visitasi ke display produk-produk PPJAI yang menampilkan beragam inovasi berbasis herbal dan rempah.
Deklarasi ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan baru bagi sektor rempah dan herbal Indonesia. Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Indonesia diyakini mampu kembali menempatkan rempah sebagai kekuatan ekonomi sekaligus identitas bangsa di kancah global. - (rd/pp)






LEAVE A REPLY