Home Ekbis Ferry Juliantono: Alumni Timur Tengah Bisa jadi Motor Penggerak Koperasi Merah Putih

Ferry Juliantono: Alumni Timur Tengah Bisa jadi Motor Penggerak Koperasi Merah Putih

Siap Pasarkan produk-produk karya Alumi

97
0
SHARE
Ferry Juliantono: Alumni Timur Tengah Bisa jadi Motor Penggerak Koperasi Merah Putih

Keterangan Gambar : Menkop Ferry Juliantono (kanan), Ketum JATTI UBN (kiri) pada HBH JATTI di Universitas YARSI Jakarta (foto aboe)

Jakarta, parahyangan-postcom Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan Koperasi Merah Putih siap memasarkan produksi hasil karya alumni Timur Tengah. Saat ini pemerintah sudah selesai  membangun 5000 koperasi, 35.000 dalam proses pembangunan fisik dan sisanya (dari 85.000)  segera dibangun.

Hal itu disampaikan Ferry saat menjadi keynote speaker Halal bi halal dan Focus Group Diskussion (FGD) Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) di aula lt 12 Kampus Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI), Jl. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta , Minggu 19 April 2025.

”Ini kesempatan yang sangat bagus bagi alumni Timur Tengah untuk  berpartisispasi membangun ekonomi bangsa yang sesuai dengan ajaran Islam dan yang dicita-cita oleh founding father Republik, ” ujarnya.

Dikatakan Ferry,  ekonomi pasar bebas yang dipraktekkan, terutama sejak 1998, ternyata tidak cocok dan menimbulkan ketimpangan yang luar biasa. Kekayaan bangsa hanya dimiliki oleh segelintir orang. Sementara orang miskin semakin banyak.

”Makanya Presiden ingin mengembalikan model pembangun ekonomi bangsa yang adil, yang dicita-citakan oleh para pendiri Bangsa, yakni koperasi,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, sudah ada beberapa koperasi Merah Putih di lingkungan Pesantren yang sudah maju dan memanfaatkan fasilitas dan jalur distribusi koperasi Merah Putih.

Sementara itu Ketua Umum JATTI Ustad Bachtiar Nasir (UBN) mengatakan jumlah alumni Timur Tengah cukup banyak, yakni sekitar 60.000 orang. Jumlah ini bertambah setiap tahun. Setelah kembali ke Tanah Air mereka memerlukan wadah untuk menyalurkan dan mengamalkan ilmu. Oleh sebab itu kolaborasi dengan Koperasi Merah Putih ini merupakan suatu peluang yang patut diambil.

Di sisi lain UBN menyoroti masalah pendidikan yang perlu direvolusi.

”Sebagai pengguna AI, umat Islam harus menjadikan AI sebagai mesin revolusi pendidikan dan dakwah,” tegasnya.

Revolusi pendidikan Islam, lanjutnya,  tidak akan lahir hanya dengan menghadirkan chatbot ke ruang kelas. Itu terlalu dangkal. AI harus dipakai untuk membangun manusia unggul yang tetap beradab.

Karena itu, lanjut UBN, revolusi pendidikan Islam yang sejati adalah revolusi yang melahirkan generasi yang mampu membaca wahyu, membaca realitas, membaca data, dan membaca masa depan secara bersamaan. Umat membutuhkan ahli tafsir yang melek teknologi, insinyur yang berjiwa amanah, dokter yang mengerti etika AI, ekonom yang memahami maqashid, dan da’i yang bukan hanya fasih berbicara, tetapi juga mampu memahami arsitektur media digital dan psikologi audiens global. Itulah manusia unggul yang dibutuhkan zaman: bukan manusia yang dikalahkan AI, tetapi manusia yang memimpin AI dengan akhlak.***(pp/aboe)