Home Seni Budaya Teater Keliling akan Pentaskan Immortal: The Legendary Betawi Si Pitung di TIM

Teater Keliling akan Pentaskan Immortal: The Legendary Betawi Si Pitung di TIM

Rudolf Puspa: Bangkitkan Legenda Si Pitung Lewat Musikal Kolosal

164
0
SHARE
Teater Keliling akan Pentaskan Immortal: The Legendary Betawi Si Pitung di TIM

Keterangan Gambar : Suasana Konferensi pers dan dialog interaktif di Aula PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (kolase foto aboe)

Jakarta, parahyangan-post.com Teater Keliling kembali menghadirkan pertunjukan berskala besar melalui Immortal The Musical: The Legendary Betawi "Si Pitung", sebuah pementasan musikal yang mengangkat kisah pahlawan rakyat Betawi dengan pendekatan modern untuk menjangkau generasi muda. Pertunjukan akan digelar pada 22–23 Agustus 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Produksi tersebut diperkenalkan kepada publik dalam konferensi pers yang berlangsung di Aula PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Rabu (22/7/2026). Acara diisi dengan talkshow bersama produser, tim kreatif, dan para pendukung produksi, pemutaran film dokumenter mengenai pendiri Teater Keliling Rudolf Puspa, serta penampilan khusus berupa cuplikan eksklusif dari pertunjukan musikal tersebut.

Pendiri Teater Keliling yang juga bertindak sebagai dramaturg, Rudolf Puspa, mengungkapkan bahwa untuk pertama kalinya ia menyerahkan sepenuhnya penyutradaraan kepada putrinya, Dolfry Inda Suri. Keputusan itu menjadi bagian dari proses regenerasi Teater Keliling, di mana generasi kedua dipercaya memimpin produksi secara penuh.

Menurut Rudolf, legenda Si Pitung tidak pernah kehilangan relevansinya karena merupakan simbol keberanian dalam membela masyarakat kecil. Ia meyakini tangan kreatif sutradara dari generasi milenial mampu menghadirkan kembali tokoh tersebut dengan bahasa pertunjukan yang lebih dekat dengan penonton masa kini.

"Si Pitung adalah legenda tentang keberanian yang membela rakyatnya, apalagi bisa diciptakan oleh sutradara kelahiran milenial. Saya selalu menyatakan, 'Teater itu adalah Saya'. Kalian itu adalah aktor dalam kehidupan maupun panggungnya. Ini mau main jadi ini, gimana cari Pitung yang ada di dalam dirimu," kata Rudolf Puspa.

Bagi Rudolf, teater bukan sekadar tontonan, melainkan media untuk membangun karakter dan menggugah kesadaran. Karena itu, ia berharap setiap aktor tidak hanya memerankan tokoh Si Pitung di atas panggung, tetapi mampu menemukan nilai keberanian, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat yang menjadi ruh tokoh tersebut.

Sementara itu, sutradara Dolfry Inda Suri mengatakan pementasan ini lahir dari kegelisahan melihat semakin banyak generasi Alpha dan sebagian Generasi Z, termasuk anak-anak muda Betawi sendiri, yang tidak lagi mengenal sosok Si Pitung.

Menurutnya, Immortal The Musical menjadi upaya untuk mengabadikan nama Si Pitung sebagai bagian dari identitas budaya Betawi sekaligus memperkenalkannya kembali melalui medium yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

"Kami ingin generasi muda mengenal kembali Si Pitung sebagai tokoh yang memiliki nilai perjuangan, keberanian, dan kepedulian terhadap rakyat. Musikal menjadi bahasa yang lebih mudah diterima generasi masa kini tanpa menghilangkan akar budaya Betawi," ujar Dolfry.

Ia menjelaskan, pertunjukan ini memadukan drama, musik, tari, seni bela diri silat, serta koreografi dalam sebuah sajian teatrikal yang dinamis. Perpaduan berbagai unsur seni tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman menonton yang menghibur sekaligus memperkaya pemahaman penonton terhadap budaya Betawi.

Dalam konferensi pers itu, para pemain juga menampilkan beberapa adegan dari pertunjukan. Cuplikan yang diperagakan memperlihatkan kehidupan masyarakat Rawa Belong, kampung kelahiran Si Pitung, dengan penggambaran yang kuat terhadap budaya Betawi. Tata artistik, musik, koreografi, serta adegan silat berpadu menciptakan suasana panggung yang hidup dan enerjik, memperlihatkan dinamika kehidupan masyarakat Betawi pada masa Si Pitung.

Berbeda dari pementasan teater konvensional, Immortal The Musical tidak hanya mengandalkan kemampuan akting para pemain. Produksi ini memadukan unsur teater, musik, tari, silat, dan koreografi dalam sebuah pertunjukan musikal kolosal yang menonjolkan kekayaan budaya Betawi.

Melalui produksi ini, Teater Keliling berharap kisah Si Pitung tidak berhenti sebagai legenda yang hanya dikenal dari cerita lisan atau buku sejarah, tetapi terus hidup di tengah masyarakat melalui panggung seni. Dengan sentuhan kreatif generasi baru, Teater Keliling berupaya menjadikan Si Pitung tetap relevan dan menginspirasi generasi masa depan sebagai simbol keberanian, keadilan, dan pembelaan terhadap rakyat kecil.***(pp/aboe)