Home Opini Surat Tamansiswa : Merawat Amanat Ki Hadjar Dewantara Di Tengah Pembelahan

Surat Tamansiswa : Merawat Amanat Ki Hadjar Dewantara Di Tengah Pembelahan

103
0
SHARE
Surat Tamansiswa : Merawat Amanat Ki Hadjar Dewantara Di Tengah Pembelahan

Oleh: Indria Febriansyah, S.E., M.H. 
Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia 
Inisiator Forum Komunikasi Nasional-08

Tamansiswa berdiri bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan benteng roh kebangsaan yang dirintis Ki Hadjar Dewantara dengan semangat kebhinekaan yang tak tergoyahkan. Prinsip dasarnya sederhana namun luhur, memandang segala perbedaan sebagai kekayaan, bukan pemisah menjadikan kerakyatan sebagai poros segala gerak, agar setiap anak bangsa tanpa pandang asal usul berhak memperoleh pendidikan yang merata dan bermartabat. Di atas landasan itulah Tamansiswa melahirkan barisan kader yang kelak mengisi persada, pemimpin yang populis, yang merapat pada denyut nadi rakyat, yang tak menjadikan jabatan kendaraan kepentingan kelompok semata.

Begitu lekatnya ikatan itu, hingga pada masa pencapresan, Prabowo Subianto berulang kali hadir bersilaturahmi ke Tanah Kelahiran Tamansiswa, mendengar langsung suara para Pamong, Para Siswa, dan kader yang setia menjaga api ajaran pendiri bangsa. Namun harus kita akui hampir dua tahun menjabat Presiden, belum pernah beliau kembali menapakkan kaki di Tamansiswa. Pun sebaliknya pihak pengurus besar Tamansiswa belum pernah menyampaikan undangan resmi untuk kunjungan tersebut. Kendati demikian, jembatan persahabatan tak pernah putus komunikasi antara Prasetyo Hadi kader muda berlatar Taruna Nusantara yang kini menjabat Sekretaris Negara dengan Ki Saur Pandjaitan, Sekretaris Jenderal Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, tetap berjalan hangat dan penuh rasa saling menghargai. Hal ini wajar mengingat Taruna Nusantara pun mengadopsi sistem “Among” yang menjadi napas utama ajaran Ki Hadjar Dewantara ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

Namun di tengah luasnya jaring kader yang tersebar, terselip peristiwa yang mengundang renungan mendalam. Ribuan lulusan Tamansiswa kini terserap dan bergerak dalam beragam wadah perjuangan politik dengan corak dan aliran yang beraneka ragam. Sebagian masih teguh menjunjung cita-cita besar para pendiri Republik dan menempatkan Pasal 33 UUD 1945 tentang kedaulatan ekonomi rakyat sebagai kompas utama. Namun tak sedikit pula yang luluh tergerus kepentingan kelompok, hingga mengaburkan amanat konstitusi itu sendiri. Kadang tajamnya kritik menjadi buta arah karena dikalahkan oleh loyalitas buta pada warna partai yang dinaungi, padahal Tamansiswa sejak awal mengajarkan kemerdekaan berpikir berarti berani memegang kebenaran di atas segalanya, bukan bebas mencaci, menghujat, atau memutarbalikkan fakta demi keuntungan sesaat. Secara akademis dan etika publik, batas antara kritik yang membangun dengan serangan yang merusak kehormatan sangatlah tegas sayangnya batas itu kerap dikaburkan oleh mereka yang gemar menebar kegaduhan di balik kedok kebebasan berpendapat.

Semboyan “Tut Wuri Handayani” sering diucapkan, dikagumi, dijadikan tulisan hiasan dinding pidato namun seringkali mati diamalkan. Ada yang di depan memuji kebesaran nama Tamansiswa, namun di balik layar bekerja membelokkan perjuangan demi kepentingan kekuasaan. Ada pula yang menjunjung tinggi kebhinekaan dan persamaan derajat sesama manusia secara lisan, namun secara tindakan lebih mengutamakan ego sektoral kepartaian. Padahal ajaran kemerdekaan yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara adalah kemerdekaan yang bertanggung jawab merdeka berpikir, merdeka bertindak, namun tetap terikat pada kebenaran, keadilan, dan pengabdian kepada rakyat.

Di antara dinamika yang berliku itu, tersimpan pula luka yang tak terucap sebagian pimpinan tertinggi lembaga justru memberikan dukungan ke pasangan calon lain pada pemilu lalu. Namun berbeda halnya dengan lingkaran muda dan jaringan luas alumni yang kemudian melebur dalam wadah Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia. Kami bersatu bukan karena perintah struktur, melainkan karena kesadaran hati nurani kekaguman yang mendalam pada konsistensi Prabowo Subianto yang tak pernah mendua dalam menjunjung Pasal 33 UUD 1945, yang tak tawar menawar soal ekonomi berpihak pada rakyat, yang tak mendekam mendekat pada kekuasaan asing yang menggerogoti kedaulatan kita. Itulah pemimpin yang memegang prinsip tegak lurus tak berbelit-belit, tak berkelit-kelit, tahu kemana arah perahu besar ini harus dituju.

Kita tak menampik realitas Indonesia hari ini sedang terbaring sakit. Banyak tangan asing menjalar ke sendi-sendi ekonomi dan politik, banyak orang berbusana pejuang rakyat namun sejatinya hanya memanfaatkan kemiskinan dan penderitaan demi melanggengkan kuasa sendiri. Di tengah samar-samar batas antara kawan dan lawan itulah kami para kader muda Tamansiswa semakin yakin Prabowo Subianto adalah putra terbaik bangsa yang hadir untuk mengamalkan Pancasila dalam bentuk nyata, dan menjalankan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 secara utuh dan konsekuen.

Sebagai putra-putri Tamansiswa, kami tak berhenti pada sekadar mendukung nama. Kami hadir untuk mengingatkan kembali bahwa “Tut Wuri Handayani” harus hidup dalam perbuatan, mendorong segala hal yang benar, mengingatkan segala yang keliru, tak membiarkan ajaran luhur menjadi semata kenangan sejarah. Kami tetap menjaga persaudaraan dengan seluruh elemen besar Tamansiswa, namun kami berjanji tak akan pernah mengorbankan nasib rakyat demi kepentingan kelompok manapun. Demi Ki Hadjar Dewantara, demi amanat konstitusi, demi Indonesia yang benar-benar merdeka secara lahir dan batin. (*)