
Keterangan Gambar : Mubalighah Kota Depok, Ustadzah Weny Triana dalam Kajian Muslimah Shalihah (Kamus Shalihah), Mendudukkan Ulang Makna ‘Sabar’ di Tengah Krisis Rupiah, Sabtu (1/8/2026) di Cipayung Depok. (sumber foto : ist/pp)
DEPOK - Parahyangan Post - Dalam menghadapi krisis ekonomi akibat melemahnya nilai rupiah, setidaknya ada tiga cara yang dilakukan ketika Islam dijadikan sebagai solusi.
Hal tersebut diungkap Mubalighah Kota Depok, Ustadzah Weny Triana dalam Kajian Muslimah Shalihah (Kamus Shalihah), Mendudukkan Ulang Makna ‘Sabar’ di Tengah Krisis Rupiah, Sabtu (1/8/2026) di Cipayung Depok.
Adapun tiga cara tersebut yakni: Pertama, yakin rezeki berasal dari Allah adalah bagian dari akidah. “Seorang Muslim wajib meyakini bahwa Allah SWT satu-satunya pemberi rezeki. Krisis ekonomi tidak boleh menggoyahkan keyakinan bahwa seluruh rezeki berada dalam kekuasaan-Nya,” jelasnya di hadapan 80 jemaah.
Kedua, menghapus sistem ribawi dan fiat money dipandang sebagai tuntutan syariat. “Persoalan ekonomi tidak cukup diatasi dengan solusi teknis semata. Menurut perspektif yang disampaikan, sistem ribawi dan penggunaan uang fiat dipandang sebagai bagian dari akar persoalan yang perlu diganti dengan sistem ekonomi Islam,” tuturnya.
Ketiga, muhasabah terhadap kebijakan penguasa merupakan bagian dari kewajiban umat. “Selain memperbaiki diri secara individu, umat juga didorong untuk melakukan muhasabah atau mengoreksi kebijakan penguasa yang dinilai menyimpang dari syariat melalui amar makruf nahi mungkar,” sebutnya.
Apalagi lanjutnya, mengoreksi penguasa apalagi yang zalim merupakan suatu kewajiban. Bahkan Rasulullah SAW mendorong kita untuk mengoreksi penguasa yang zalim walaupun nyawa taruhannya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits riwayat al-Hakim yang artinya, "Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seseorang yang berdiri menghadapi penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya berbuat kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran, kemudian penguasa tersebut membunuhnya.”
Menyingkap Kesalahan Berpikir
Dalam acara tersebut, Weny juga membeberkan terkait kesalahan berpikir yang sering muncul ketika masyarakat menghadapi krisis ekonomi. Menurutnya, di satu sisi, umat Islam meyakini bahwa rezeki berasal dari Allah. Hal ini merupakan keyakinan yang tidak boleh diragukan. Allah berfirman, "Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya." (QS Hud [11]: 6). Artinya, Allah adalah pemberi rezeki bagi seluruh makhluk.
“Di sisi lain, di balik berbagai persoalan ekonomi terdapat kebijakan manusia dan tata kelola yang buruk. Bisa dilihat dengan inflasi, pengangguran, kemiskinan, melemahnya nilai mata uang, atau tingginya harga kebutuhan pokok bukanlah peristiwa yang selalu terjadi tanpa sebab, melainkan sering kali dipengaruhi oleh keputusan-keputusan ekonomi, politik, dan pengelolaan negara,” bebernya.
Weny pun menilai, hal tersebut merupakan kesalahan cara berpikir karena mencampuradukkan dua hal yang berbeda. “Menjadikan Sang Pencipta sebagai tameng untuk menutupi kesalahan tata kelola ekonomi negara. Rezeki memang dari Allah, tetapi berbagai persoalan ekonomi juga dipengaruhi oleh kebijakan dan tata kelola manusia. Dengan kata lain, mengimani Allah adalah Ar-Razzaq tidak berarti menutup mata terhadap kesalahan manusia dalam mengelola urusan publik,” pungkasnya.
-------------------------------
(Kontributor : Siti Aisyah /PP)





LEAVE A REPLY