Home Edukasi Direktur LKD UIA Ken Heryani Sulis: BK Bukan Sekadar Mendampingi

Direktur LKD UIA Ken Heryani Sulis: BK Bukan Sekadar Mendampingi

Disampaikan dalam Workshop Nasional Akselerasi Pendidikan Tanpa Batas

67
0
SHARE
Direktur LKD UIA Ken Heryani Sulis: BK Bukan Sekadar Mendampingi

Keterangan Gambar : Suasana seminar “Akselerasi Pendidikan Tanpa Batas” yang diinisiasi oleh LKD UIA. Peserta cukup antusias. foto (screenshot )

BEKASI, parahyangan-post.com- Peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam pendidikan inklusif tidak boleh berhenti pada aktivitas mendampingi peserta didik yang menghadapi persoalan. BK harus menjadi penghubung berbagai pihak agar setiap anak memperoleh ruang yang aman untuk tumbuh sesuai keunikan dan kebutuhannya.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Lembaga Konseling dan Disabilitas (LKD) Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Ken Heryani Sulis, M.Pd., saat menjadi pemateri dalam Workshop Nasional “Akselerasi Pendidikan Tanpa Batas” yang digelar secara hybrid,17–18 September 2026.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan LKD UIA bersama Jalin Pena Indonesia, Layanan Disabilitas Universitas Sebelas Maret (UNS), dan SPS Bakti Kusuma Cerdas Ceria itu, Sulis membawakan materi bertema “Bukan Sekadar Mendampingi: Penguatan Peran Bimbingan dan Konseling dalam Mewujudkan Sekolah Inklusif, Aman, dan Sehat Mental.”

Peserta seminar yang berasal dari seluruh Tanah Air cukup antusias mengikuti semua sesi dan terjalin dialog yang cukup intens. Banyak pertanyaan yang muncul dari audiens yang direspon cukup baik oleh para pemateri. 

“Setiap anak berhak menjadi dirinya sendiri, setiap anak berhak dihargai keunikannya, dan setiap anak berhak memiliki ruang untuk bertumbuh,” ujar Sulis.

Menurut dia, prinsip tersebut menjadi dasar penting dalam membangun pendidikan inklusif. Anak tidak cukup hanya ditempatkan dalam lingkungan pendidikan yang sama, tetapi juga perlu dipastikan mendapatkan dukungan yang sesuai agar dapat berkembang secara optimal.

Karena itu, kata Sulis, guru BK memiliki posisi strategis sebagai connector dalam ekosistem pendidikan inklusif. Guru BK dapat menghubungkan peserta didik dengan guru, orang tua, sekolah, layanan disabilitas, serta sumber daya lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.

“Peran Bimbingan dan Konseling sebagai connector di pendidikan inklusif adalah keniscayaan. BK bukan sekadar mendampingi,” tegasnya.

Ia menambahkan, penguatan peran tersebut menjadi penting untuk menciptakan sekolah yang tidak hanya ramah terhadap keberagaman, tetapi juga aman dan sehat secara mental. Lingkungan pendidikan harus mampu membuat setiap peserta didik merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk berkembang.

Kegiatan diawali dengan sambutan Dr. Misbah Fikrianto, M.M., M.Si., M.Pd. dari Jalin Pena Indonesia dan dibuka oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bekasi Wijayanti, S.Si., M.Si.,

Selain Sulis, workshop menghadirkan sejumlah pemateri, Dian Puspita Lestari, Amd. OT., S.Pd., yang menyampaikan materi “Menumbuhkan Kemandirian Sejak Dini: Praktik Baik Pendampingan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus di Satuan Pendidikan.”

Materi tersebut mengangkat pentingnya membangun kemandirian peserta didik berkebutuhan khusus sejak dini melalui pola pendampingan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing anak.

Sementara itu, Dr. Redydian Adhitya Nugraha, S.Sos., M.A., membawakan materi “Dari Sekolah Menuju Kampus Inklusif: Strategi Mempersiapkan Peserta Didik Penyandang Disabilitas Memasuki Pendidikan Tinggi.”

Pembahasan diarahkan pada pentingnya kesinambungan dukungan bagi peserta didik penyandang disabilitas ketika memasuki jenjang pendidikan tinggi. Persiapan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga kemandirian dan kesiapan lingkungan kampus dalam menyediakan layanan yang dibutuhkan.

Materi berikutnya mengenai “Praktik Baik Layanan Disabilitas dan Inklusivitas di Perguruan Tinggi” disampaikan Supratiwi, S.Psi., MA. Pembahasan ini memperluas perspektif mengenai pentingnya perguruan tinggi menyediakan layanan yang mampu mengakomodasi keberagaman mahasiswa.

Adapun Dr. Ady Ferdian Noor, S.E., M.Pd., membawakan materi “Landasan, Konsep, Sekolah Inklusif Berbasis Belom Bahadat.”

Rangkaian materi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan keterlibatan berbagai unsur secara berkelanjutan. Sekolah, perguruan tinggi, keluarga, guru, konselor, layanan disabilitas, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi.

Melalui workshop tersebut, LKD UIA dan para mitra mendorong penguatan praktik pendidikan yang tidak sekadar membuka akses bagi peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi juga memastikan mereka memperoleh dukungan untuk berkembang.

Gagasan itu sekaligus menempatkan layanan BK pada posisi yang lebih luas. Bukan hanya hadir ketika persoalan muncul, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, aman, sehat secara mental, dan memberi ruang bagi setiap anak untuk menjadi dirinya sendiri.***(pp/aboe)