Home Opini MENYIKAPI MUSIBAH ERUPSI GUNUNG MERAPI DALAM PERSPEKTIF AGAMA

MENYIKAPI MUSIBAH ERUPSI GUNUNG MERAPI DALAM PERSPEKTIF AGAMA

Oleh: Prof. Dr. H. Saifuddin Herlambang, MA

143
0
SHARE
MENYIKAPI MUSIBAH ERUPSI GUNUNG MERAPI DALAM PERSPEKTIF AGAMA

Keterangan Gambar : Sekjen PB Al Washliyah, Prof. Dr. H. Saifuddin Herlambang, MA (Foto dok)

FAKTA SEJARAH! Letusan Gunung Berapi di Indonesia terutama gunung Krakatau, gunung Toba dll pernah menggetarkan dunia. Saat ini gunung Anak Krakatau dan sejumlah gunung berapi lainnya kembali erupsi dan menimbulkan musibah yang menakutkan,  terlebih ada yang menghubungkannya dengan isu mega truth. 

Menghadapi bencana ini kita seharusnya jangan terlalu overthinking. Justru cara pandang kita harus melihatnya sebagai tanda kebesaran Allah Swt. Saat seperti ini seorang muslim tidak hanya harus menyelamatkan raga, tapi juga harus menjaga keimanannya. Paradigmanya adalah bahwa semua yang kita alami dari musibah apapun sejatinya terjadi atas izin dan kehendak Allah Swt. Gunung-gunung tersebut adalah di antara makhluk Allah Swt yang hidup dan setiap saat berdzikir serta bertasbih kepadaNya, gunung juga merupakan “junudullah”(tentara-tentara) Allah Swt yang bergerak dengan kehendak dan perintahNya.
Maka  dalam menyikapinya kita dapat bersikap bijak sbb :   

Pertama :
Yakinlah bahwa kita sedang diuji oleh Allah Swt dengan sedikit ketakutan sebagaimana firmanNya :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Perlu dipahami bahwa erupsi gunung merapi ini bukanlah sebuah ketepatan namun bencana ini bagian dari takdir dan ketetapan Allah Swt. Ini salah satu cara Allah menegur, menguji, dan sekaligus mengangkat derajat bagi mereka menyikapinya dengan penuh kerelaan dan kerdhoan dibarengi dengan terus berusaha dan berupaya untuk selamat dari ancaman bahayanya. 

Kedua: 
Berlarilah kepada Allah Swt bukan lari dari Allah Swt. 
Saat musibah ini mendekati kita tancapkan dalam hati sebuah keyakinan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (ini semua milik Allah Swt dan akan kembali kepadaNya). Hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran dalam jiwa kita bahwa sejatinya kita semua adalah milik Allah Swt dan akan kembali kepada-Nya tanpa terkecuali. Untuk menguatkan hati kita dalam suasana musibah erupsi seperti ini lakukanlah beberapa hal berikut : 
1. Shalat hajat dan berdo’alah dengan do’a tolak bala ; “Allahumma inni as’aluka min khairi hadzihil musibah wa khairi ma fiha wamin khairi ma ursilat biha” ya Allah aku mohon kebaikan dari musibah ini dan dari segala yang timbul darinya.
2. Perbanyaklah Istighfar baik sendiri-sendiri maupun secara berjamaah. Bagaimanapun erupsi juga dapat menjadi penghapun dosa jika kondisi ini mampu merubah sikap kita lebih dekat kepada Allah Swt. 
3. Perbanyaklah bersedekah. Sedekah dapat menolak bala (Asshodaqotu tadfaul bala)

Ketiga :
Erupsi gunung merapi adalah momentum untuk memperbaiki adab kita kepada Alam semesta. Benda-benda mati yang kita lihat seolah mati tidak bergerak sesungguhnya adalah makhluk Allah Swt yang hidup, mereka merespon apa yang kita lakukan. Jika alam ini kita sayangi dan kita cintai, maka pasti alam akan menyayangi dan mencintai kita.
Rasulullah Saw pernah mengajak kita untuk mencintai ciptaan Allah termasuk gunung-gunung karena sejatinya mereka adalah makhluk yang setiap saat bertasbih kepadaNya. (QS. Shad: 18).
Saya menghimbau kepada masyarakat agar di saat mengahapai musibah seperti erupsi ini bagi mereka yang terdampak langsung maupun tak langsung, janganlah mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti menjarah, jangan pula menebar informasi hoaks karena itu dapat membuat kepanikan masyarakat dan menambah kegaduhan. Bersikaplah tolong menolong dan saling membantu meskipun kita sedang dalam kondisi berat dan mengalami musibah, sekecil apapun bantuan itu adalah ibadah.

Keempat :
Lakukanlah “Muhasabah diri”.
Letusan dan erupsi gunung merapi mengingatkan setiap orang bahwa “setinggi apapun rumah kita masih ada yang lebih tinggi - Sekuat apapun kita masih ada yang Maha Kuat”. Maka setelah erupsi reda bangunlah sikap dan kepribadian rendah hati di hadapan manusia dan tawadhu’ kepada Allah Swt dengan memperbaiki shalat, selalu berserah diri kepadaNya di manapun dan kapanpun.

Bumi ini adalah milik Allah Swt, kita semua hanyalah menumpang. Tugas kita bukan melawan gunung, tapi taat kepada Sang Pemilik gunung. Jika ketaatan tersebut semakin timbul pada diri setiap masyarakat yang terdampak erupsi baik langsung maupun tidak, maka boleh jadi musibah yang kita takuti akan menjadi pembawa nikmat dan hikmah besar bagi kemanusiaan.
Semoga dengan musibah ini justru semakin banyak orang yang sadar bahwa Allah Swt yang mengatur segalanya ; Cukuplah Allah menjadi penolong dan Allah Swt adalah sebaik-baik pelindung. (QS. Ali Imran: 173).

Kelima :
Seorang Muslim artinya man salimannasa bilisanihi wayadihi wafikrih. Sabar dalam menghadapi musibah dengan memperbaiki tutur kata, menjaga sikap tetap baik dan akhlak mulia serta menebar ide-ide membangun bukan sebaliknya. Carilah solusi dari musibah yang dihadapi saat ini tapi jangan membuat kerusakan di sisi lain. Dengan begitu insyaAllah meski erupsi menyisakan rasa khawatir dan ketakutan, namun sejatinya meninggalkan nilai postif dalam membangun kesadaran mental akan hakikat hidup yang sesungguhnya. Wallahu a’lam bimuradihi. 
Nasrun miallahi wafathun qarib wabassyiril mukminin.

Penulis : Sekjen PB Al Washliyah