
Keterangan Gambar : Foto bersama Professional Mutawwif Development International University College (PMDUC), Malaysia,. (foto anw)
KUALA LUMPUR, parahyangan-post.com-Lebih dari 120 mahasiswa Professional Mutawwif Development International University College (PMDUC), Malaysia, memenuhi aula kampus untuk mengikuti program International Community Service Fakultas Falsafah dan Peradaban (FFP) Universitas Paramadina. Bukan sekadar kegiatan pengabdian kepada masyarakat, program bertajuk “Interdisciplinary Perspectives in Communication, International Relations & Psychology” ini menghadirkan perspektif lintas disiplin untuk mempersiapkan generasi baru mutawwif menghadapi jamaah dalam lingkungan global yang semakin kompleks.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa calon mutawwif tidak hanya diajak memahami pentingnya pelayanan ibadah, tetapi juga belajar mengenai komunikasi empatik, adaptasi lintas budaya, dinamika hubungan antarnegara, kesehatan mental, pengelolaan emosi, hingga strategi menghadapi stres. Program ini menjadi bagian dari langkah FFP Universitas Paramadina dalam memperluas pengalaman internasional mahasiswa sekaligus menghadirkan kontribusi akademik yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan profesi dan masyarakat.
Dekan FFP Universitas Paramadina, Dr. Rini Sudarmanti, mengatakan kegiatan ini memiliki keunikan karena mempertemukan berbagai disiplin ilmu dalam satu program pengabdian internasional. Menurutnya Keunikan kegiatan ini terletak pada penguatan kolaborasi lintas program studi dan lintas negara. Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Psikologi, dan Ilmu Agama dipertemukan dalam satu misi pengabdian. Seorang mutawwif memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan jamaah dari berbagai latar belakang budaya dan negara. Karena itu, kompetensi seorang mutawwif tidak cukup hanya menguasai aspek teknis penyelenggaraan ibadah. Mereka juga membutuhkan kemampuan memahami perbedaan budaya, berkomunikasi secara empatik, mengelola emosi, serta menjaga kualitas pelayanan ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan.
Duta Keragaman Budaya
Perspektif Hubungan Internasional menjadi salah satu bagian penting dalam program ini. Para calon mutawwif diajak melihat bahwa ketika mendampingi jamaah di luar negeri, mereka pada dasarnya juga membawa identitas dan citra negaranya. Dalam konteks tersebut, mutawwif dapat dipandang sebagai duta yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dan budaya yang berbeda. Kemampuan adaptasi lintas budaya menjadi penting agar interaksi dengan jamaah maupun masyarakat setempat dapat berlangsung secara efektif, penuh penghargaan, dan sensitif terhadap perbedaan.
Sementara itu, perspektif Ilmu Komunikasi menempatkan komunikasi empatik sebagai salah satu kunci utama pelayanan. Komunikasi yang baik bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan mendengarkan, membaca situasi, memahami kebutuhan jamaah, menempatkan diri sesuai konteks, dan memilih kata-kata yang menunjukkan penghargaan terhadap orang lain. Dengan demikian, pelayanan kepada jamaah tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi berkembang menjadi kemampuan membangun rasa aman, nyaman, dan percaya.
Kesiapan Mental
Tantangan lain yang diangkat dalam kegiatan ini adalah karakter generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan digital. Mahasiswa calon mutawwif yang sebagian besar merupakan bagian dari Generasi Z menghadapi paparan media digital yang sangat intens. Penggunaan media sosial dan internet yang tidak sehat dapat memengaruhi aspek fisik, psikologis, maupun sosial, termasuk munculnya fear of missing out (FOMO) dan kecenderungan penggunaan internet secara berlebihan.
Program Studi Sarjana Psikologi dan Magister Psikologi FFP Universitas Paramadina memberikan psikoedukasi mengenai perilaku berinternet yang sehat, pengelolaan emosi, serta pengelolaan stres melalui teknik grounding. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan konseptual, tetapi juga diajak mempraktikkan teknik grounding secara langsung. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengenali kondisi emosionalnya, menerima dan mengelola emosi secara lebih sehat, serta memiliki strategi menghadapi stres. Kemampuan tersebut akan menjadi bekal penting ketika mereka kelak menghadapi tekanan pekerjaan sebagai mutawwif.
Antusiasme peserta terlihat dari suasana aula yang penuh sepanjang kegiatan. Sejumlah mahasiswa bahkan memberikan respons positif setelah sesi berakhir. Salah seorang peserta menyampaikan bahwa kegiatan tersebut berlangsung seru dan menyenangkan sekaligus memberikan banyak pengetahuan baru. Peserta lainnya mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari praktik grounding karena dapat menjadi ruang untuk mengenali dan mengelola stres serta mengungkapkan apa yang dirasakan.
Pertukaran Akademik
Bagi FFP Universitas Paramadina, kegiatan di Malaysia ini bukan merupakan kerja sama yang berdiri sendiri. Program tersebut menjadi bagian dari penguatan hubungan akademik yang telah dibangun bersama PMDUC.
Pengarah Urusan PMDUC, Ustad Dr. Hj. Abdul Halim bin Ikhsan, menyambut baik inisiatif tersebut dan menekankan pentingnya menjaga serta terus mengembangkan kolaborasi kedua institusi agar memberikan manfaat yang lebih luas.
Wakil Dekan FFP Universitas Paramadina, Fuad Mahbub Siraj, Ph.D., menjelaskan bahwa kerja sama dengan PMDUC sebelumnya telah berkembang di bidang pendidikan. Saat ini, delapan staf dan pengajar PMDUC melanjutkan studi di Universitas Paramadina.
Menurutnya, kolaborasi kali ini merupakan penguatan dari kerja sama yang sudah dilakukan sebelumnya. Jika sebelumnya banyak bergerak di bidang pendidikan, sekarang kami memperluasnya ke ranah Pengabdian kepada Masyarakat, riset, dan publikasi. Komitmen tersebut diperkuat melalui pembahasan rencana penelitian bersama, publikasi ilmiah, serta program pertukaran pengajar atau visiting lecturer.
Delegasi FFP yang berjumlah 16 orang terdiri atas pimpinan program studi, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan penasihat rektor. Delegasi antara lain Ketua Prodi Falsafah dan Agama Dr. Taufik Hidayatulloh, Ketua Prodi Magister Ilmu Agama Dr. Sunaryo, Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Dr. Faris Budiman Annas, Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi Juni Alfiah Chusjairi, Ph.D., Ketua Prodi Ilmu Hubungan Internasional Dr. Rizki Damayanti, Sekretaris Prodi Magister Ilmu Hubungan Internasional Dr. Wachid Ridwan, Ketua Prodi Ilmu Psikologi Johan Ramadhan Nurwardana, M.A., M.T., serta Ketua Prodi Magister Ilmu Psikologi Dr. Devi Wulandari. Turut serta mahasiswa Nur Shibghotillah, Degya Forsana Citra Kusuma, dan Ratih Aryani, tenaga kependidikan Muh. Wildan Waliyuddin dan Imam Abdullah, serta Penasihat Rektor Dr. Fatchiah E. Kertamuda.
Memperluas Jejaring
Kunjungan delegasi FFP ke Malaysia berlangsung pada 2–5 September 2026. Selain melaksanakan International Community Service bersama PMDUC, delegasi juga melakukan penjajakan dan diskusi kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Malaysia, yaitu Universiti Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia, dan International Islamic University Malaysia.
Kegiatan ini menjadi momentum bagi FFP untuk memperkenalkan kekhasan akademik Universitas Paramadina di tingkat internasional. Di tengah keragaman disiplin ilmu yang dibawa dalam kunjungan tersebut, FFP menampilkan Nilai Hidup Paramadina—keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan—sebagai fondasi pengembangan akademiknya. Ketiga nilai tersebut menjadi pijakan dalam pengembangan empat bidang keilmuan di FFP, yakni Ilmu Falsafah dan Agama, Ilmu Komunikasi, Ilmu Psikologi, dan Ilmu Hubungan Internasional. Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin ini, FFP Universitas Paramadina tidak hanya membawa ilmu pengetahuan ke ruang pengabdian, tetapi juga membuka jalan bagi terbentuknya ekosistem akademik yang lebih luas: dari kelas menuju masyarakat, dari pengabdian menuju riset, dan dari Indonesia menuju jejaring global.***(pp/aboe/anw)






LEAVE A REPLY