Home Agama Mengintip Iktikaf UBN di Ruang Inkubasi

Mengintip Iktikaf UBN di Ruang Inkubasi

Strategi Meraih Kemenangan dengan Spirit Badar

837
0
SHARE
Mengintip Iktikaf UBN di Ruang Inkubasi

Keterangan Gambar : Suasana diskusi wartawan Muslim dengan UBN di ruang inkubasinya, AQL Center Tebet, Jakarta Selatan (kolase foto aboe)

Jakarta, parahyangan-post.com- Iktikaf di 10 hari terakhir Ramadhan adalah ibadah rutin Ustad Bachtiar Nasir (UBN)  dalam upayanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah itu tidak pernah ia tinggalkan  sejak ia mengerti adanya nilai luhur dan tersembunyi di balik bulan puasa.

Namun pada puasa 1447 H ini, ritual itu terasa beda. UBN tidak hanya memaknainya sebagai ruang isolasi  sunyi untuk berhadapan dengan Tuhan, melainkan  sebagai ruang inkubasi, menyusun strategi untuk  melompat jauh ke depan. Meraih kemenangan dengan spirit keimanan yang kokoh dan  ketangguhan prajurit Badar yang fenomenal.

Makanya ia melabel iktikafnya kali ini dengan ”Strategic Camp 2026,  SPIRIT BADAR:  Blueprint Kemenangan umat menggali strategi, kepemimpinan dan intervensi Illahi."

baca: Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan

Dengan model iktikaf ini, UBN pun tidak menolak tamu yang bersilaturrahmi,  berdiskusi dan meminta pendapatnya, guna membicarakan isu-isu terktual di dunia dakwah. Termasuk isu perang Teluk  -IsrAm vs Iran-, yang semakin tak menentu arahnya.

Inilah yang mengemuka saat sejumlah jurnalis Muslim bertandang ke ’ruang inkubasinya’ di Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) Center, Tebet, Rabu 11/3.

Ruang inkubasinya itu aula di AQL yang  bisa disulap untuk berbagai keperluan, seperti pengajian, podcast, diskusi dan menerima tamu.

”Saya iktikaf di sini, saya tidak menolak tamu, tidak menolak orang-orang yang datang untuk berdiskusi,” ujarnya mengawali perjumpaan dengan wartawan yang selama ini dianggap ’rekan seperjuangan’

"Bagi saya,"  lanjut UBN, "iktikaf  kali ini bukan harus menyepi, menyendiri di tempat sunyi, yang terkadang banyak tidurnya daripada ibadahnya, melainkan suatu kondisi spritual  di mana saya bisa menyusun strategi. Tidak terisolasi dari dunia luar. Saya hanya tidur paling lama 2,5 sehari, dan setiap pagi saya  pun  ke halaman untuk berjemur, memanaskan tubuh," ungkapnya.

Maka UBN  menyebutnya ruang inkubasi, yang dalam pengertian harafiahnya ada masa (ruang) di mana seseorang sedang mempertahankan diri untuk kemudian melompat jauh ke depan dengan kondisi yang jauh lebih baik.

Meski diakui iktikafnya bolong dua hari karena ia  ke Aceh Tamiang melanjutkan proyek dakwah pasca bencana, namun UBN mendapat banyak inspirasi dan strategi untuk mengembangkan dakwah yang lebih tajam dan berdampak.

Diskusi dengan sejumlah wartawan Muslim, termasuk Ismail Lutan (Ketua Umum PJMI) itu terasa sangat hidup, hangat, kritis dan aktual. UBN mempunyai banyak informasi A-1 tentang perkembangan perang IsrAm-Iran, tentang BoP yang gagap, tentang geopolitik Trump cs. dan isu lainnya, yang sebagian memang ’of the record’.

UBN juga membagi strategi cara-cara menggalang kekuatan dakwah agar berdampak besar terhadap umat, yang selama ini telah dipraktekkannya.

”Yang pertama niat. Luruskan niat terlebih dahulu.  Yang kedua baru mengeluarkan  gagasan (ide)  yang ketiga memulai aksi dan yang keempat baru duit. Jadi jangan duit dulu. Duit itu nomor empat. Kalau nomor 1-3 sudah kokoh maka duit itu akan mengalir,” yakinnya.

Makanya UBN merangsang gagasan-gagasan dakwah jurnalis Muslim  yang bertamu ke ruang inkubasinya untuk dilanjutkan ke tingkat aksi dan dengan demikian biaya (duit) akan datang dengan sendirinya. 

Diskusi diakhiri dengan buka bersama, sholat Magrib berjamaah dan sholat tarawih.*** (pp/aboe)