Home Seni Budaya Ananda Sukarlan dan Moch Aldy MA Berkolaborasi dalam Memandangi Kandinsky :

Ananda Sukarlan dan Moch Aldy MA Berkolaborasi dalam Memandangi Kandinsky :

Ketika Puisi Menemukan Musik

34
0
SHARE
Ananda Sukarlan dan Moch Aldy MA Berkolaborasi dalam Memandangi Kandinsky :

Keterangan Gambar : “Memandangi Kandinsky”, sebuah komposisi vokal yang mempertemukan teks puisi dengan idiom musik klasik kontemporer. (sumber foto : ist/pp)

BOGOR - Parahyangan Post — Penyair dan pekerja budaya asal Cigombong, Kabupaten Bogor, Moch Aldy MA, berkolaborasi dengan pianis dan komponis Indonesia yang berkiprah di panggung internasional, Ananda Sukarlan, melalui “Memandangi Kandinsky”, sebuah komposisi vokal yang mempertemukan teks puisi dengan idiom musik klasik kontemporer.

Karya tersebut berangkat dari puisi “Memandangi Kandinsky” karya Moch Aldy MA yang terinspirasi oleh pemikiran dan praktik artistik Wassily Kandinsky, salah satu pelopor seni abstrak. Alih-alih sekadar menggambarkan lukisan Kandinsky, puisi tersebut mengeksplorasi hubungan antara rupa, bunyi, ritme, dan pengalaman batin ketika satu medium seni dibaca melalui medium lainnya.

Keterlibatan Ananda Sukarlan dalam karya ini memiliki konteks artistik yang panjang. Lahir di Jakarta pada 1968, Ananda merupakan pianis dan komponis Indonesia yang menempuh pendidikan di Royal Conservatory of The Hague, Belanda, dan meraih gelar master dengan predikat summa cum laude. Kariernya sebagai pianis berkembang di panggung internasional melalui berbagai kompetisi dan penghargaan di Eropa, sebelum kemudian ia semakin banyak mencurahkan perhatian pada komposisi.

Dalam perjalanan kreatifnya, Ananda tidak hanya bekerja dalam wilayah musik instrumental. Sastra menjadi salah satu sumber penting dalam penciptaannya. Ia telah menggubah karya berdasarkan puisi sejumlah penyair Indonesia, serta mengembangkan karya-karya sastra ke dalam bentuk musik panggung. Dalam praktik tersebut, teks sastra tidak sekadar berfungsi sebagai lirik, tetapi dapat menjadi sumber struktur, suasana, ritme, dan gagasan musikal.

Perhatian Ananda terhadap hubungan antara musik dan kebudayaan Indonesia juga tampak dalam seri Rapsodia Nusantara, yang mengolah berbagai melodi dan tradisi musik daerah Indonesia ke dalam idiom piano klasik. Melalui karya tersebut, ia mempertemukan teknik musik klasik dengan material musikal Nusantara sekaligus mengeksplorasi kemungkinan identitas dalam musik klasik Indonesia.

Latar belakang tersebut membuat keterlibatan Ananda dalam “Memandangi Kandinsky” memiliki relevansi artistik tersendiri. Ia bukan sekadar komponis yang memberikan bunyi kepada sebuah teks, melainkan musisi yang memiliki pengalaman panjang dalam menerjemahkan sastra ke dalam bahasa musik.

Namun, proses penggubahan “Memandangi Kandinsky” ternyata tidak berlangsung sesederhana yang mungkin dibayangkan. Ananda mengaku justru mengalami pergulatan panjang ketika berhadapan dengan bagian akhir puisi. Meskipun konsep komposisinya sudah diperoleh dan eksekusinya berlangsung relatif cepat, kalimat terakhir puisi menjadi persoalan yang terus dipikirkannya selama berbulan-bulan.

“Aku tuh masih galau banget dengan kalimat terakhir. Konsepnya sih dapet dan eksekusinya cepat, cuma kalimat terakhir itu bikin galau udah berbulan-bulan. Biasanya sih gak segalau ini bikin musik,” ujar Ananda.

Pergulatan tersebut menjadi semakin menarik karena Ananda sendiri mengalami sinestesia. Hubungan antarpengindraan bukan sesuatu yang asing dalam pengalaman artistiknya. Namun, alih-alih membuat proses penciptaan menjadi lebih mudah, kedekatan tersebut justru membuatnya semakin banyak mempertimbangkan pilihan musikal.

“Dan kukira bakal gampang karena aku sendiri sinesthesia. Tapi malah jadi susah, malah jadi sering overthinking,” katanya.

Ananda bahkan menggambarkan pengalamannya berhadapan dengan puisi tersebut sebagai proses pembedahan terhadap pikirannya sendiri.

“Puisi ‘Memandangi Kandinsky’ jadi kayak pisau operasi yang bedah-bedah otakku.”

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penggubahan puisi menjadi musik bukanlah proses menerjemahkan kata secara satu arah. Ketika teks masuk ke dalam musik, komponis juga berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan interpretasi yang ditimbulkan oleh teks itu sendiri. Kata, jeda, tekanan, bunyi bahasa, dan makna yang tersirat dapat membuka persoalan musikal baru yang tidak selalu memiliki jawaban tunggal.

Pergulatan Ananda tersebut berkaitan erat dengan gagasan yang melandasi puisi “Memandangi Kandinsky”. Hubungan antara Kandinsky dan musik sendiri bukanlah sesuatu yang kebetulan. Kandinsky dikenal memiliki perhatian yang mendalam terhadap musik dan melihat kemungkinan hubungan antara warna, bentuk, ritme, dan bunyi. Pengalaman musikal turut memengaruhi cara pandangnya terhadap seni rupa.

Kandinsky membayangkan kemungkinan seni yang tidak sepenuhnya bergantung pada representasi objek secara literal. Sebagaimana musik dapat bekerja melalui ritme, harmoni, tegangan, dan resonansi tanpa harus menggambarkan sesuatu secara langsung, warna dan bentuk pun dapat memiliki daya ekspresifnya sendiri.

Puisi Moch Aldy MA bergerak dari kemungkinan tersebut. Jika Kandinsky berusaha membawa pengalaman musikal ke dalam bahasa rupa, “Memandangi Kandinsky” mencoba bergerak ke arah sebaliknya: membawa pengalaman atas rupa ke dalam bahasa puisi. Lukisan tidak hanya dipandang sebagai objek visual, tetapi sebagai sesuatu yang dapat didengar secara imajinatif melalui kata-kata.

Ketika puisi tersebut kemudian digubah oleh Ananda Sukarlan, gagasan itu mengalami pergerakan sekali lagi. Teks yang semula bekerja di dalam halaman diterjemahkan ke dalam struktur musikal. Kata-kata memperoleh durasi, tekanan, ritme, artikulasi, dinamika, dan ruang bunyi. Namun, pengalaman Ananda menunjukkan bahwa proses tersebut bukan sekadar memindahkan makna dari satu medium ke medium lainnya. Musik justru membuka kembali ambiguitas yang terkandung dalam puisi.

Di titik inilah kolaborasi keduanya menjadi menarik. Ada semacam perjalanan lintas-medium: pengalaman musikal Kandinsky memengaruhi pemikirannya tentang rupa; pengalaman terhadap rupa tersebut kemudian diolah Moch Aldy MA menjadi puisi; dan puisi itu kembali memasuki wilayah musik melalui komposisi Ananda Sukarlan.

“Memandangi Kandinsky” karena itu dapat dibaca sebagai sebuah eksperimen sinestetik—upaya mempertemukan apa yang dilihat dengan apa yang didengar. Lukisan menjadi puisi, puisi menjadi musik, dan musik pada akhirnya memungkinkan kita membayangkan kembali lukisan melalui telinga.

Bagi Moch Aldy MA, kolaborasi ini bukan sekadar pengalihwahanaan puisi ke dalam musik, melainkan sebuah peristiwa kebudayaan yang memperlihatkan bahwa batas antarbidang seni tidak pernah benar-benar tertutup.

“Ketika Kandinsky berusaha membawa logika musik ke dalam bahasa rupa, saya mencoba membawa kembali pengalaman atas rupa itu ke dalam puisi. Ketika puisi tersebut kemudian digubah menjadi musik oleh Mas Ananda, lingkaran itu seperti kembali bertemu,” ujar Moch Aldy MA.

Kolaborasi ini juga menunjukkan kemungkinan lain bagi puisi kontemporer Indonesia. Puisi tidak harus berhenti sebagai teks di halaman. Ia dapat bergerak menuju bunyi, pertunjukan, visual, dan medium lain, sembari mempertahankan kompleksitas gagasan yang menjadi fondasinya.

Dalam “Memandangi Kandinsky”, teks menjadi bagian penting dari struktur komposisi, sementara musik memberikan kemungkinan interpretasi yang tidak sepenuhnya dapat dicapai melalui pembacaan verbal. Pertemuan antara puisi dan musik dengan demikian tidak menempatkan salah satunya sebagai sekadar pelengkap, tetapi memungkinkan keduanya saling mengubah cara kita mengalami karya.

Kolaborasi Ananda Sukarlan dan Moch Aldy MA pada akhirnya bukan hanya menghasilkan sebuah komposisi musik berbasis puisi. Ia menghadirkan pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana seni dapat bergerak melampaui batas mediumnya sendiri: ketika sesuatu yang semula dilihat mulai terdengar, dan sesuatu yang semula dibaca mulai memiliki suara. (rd/pp)