
Keterangan Gambar : Mendikdasmen Prof. Dr. H. Abdul Mu'ti. M.Ed. (foto aboe)
JAKARTA, parahyangan-post.com– Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed. mengatakan, di era AI, banyak generasi muda mengalami kebimbangan dan kecemasan dalam menghadapi perubahan yang di luar prediksi. Mengutip data WHO, 1 dari 10 orang mengalami gangguan jiwa, angka bunuh diri di kalangan anak dan remaja meningkat.
Hal tersebut disampaikan Mu’ti saat memberikan pencerahan kepada peserta Muktamar ke XXIII Alwashliyah dengan tema ”Penguatan Pendidikan Karakter dan Keagamaan di Era Disrupsi” yang berlangsung di Asrama Haji Jakarta, Kamis 9 Juli 2026.
”Akibat serbuan informasi melalui medsos dan AI, generasi ’cemas dan bimbang’ ini loss pegangan. Tidak bisa membedakan mana yang benar-mana yang salah. Mana informasi yang akurat-mana yang hoax, karena keduanya sulit dibedakan,” ujar Mu’ti.
Setiap detik mereka diserbu informasi. Grup-grup WA, misalnya, penuh dengan narasi-narasi yang disetting. Baik untuk menyebar kebencian ataupun narasi -narasi pengkultusan kepada kelompok tertentu yang dibuat oleh orang-orang dengan tujuan tertentu.
”Saya sendiri mempunyai banyak grup WA, tapi saya membatasi beberapa saja yang saya buka. Ada juga grup WA yang saya ikuti narasinya kebencian kepada presiden. Apa saja yang dilakukan oleh presiden bagi mereka tidak ada yang benar. Semua kesalahan presiden dicari-cari. Dan diskusinya pun seru,” cerita Mu’ti.
Menurut Mu’ti, grup-grup itu mampu memframing. Dapat dengan mudah membenarkan, dapat juga dengan mudah menyalahkan. Dan celakanya ada kelompok masyarakat yang tidak menyadari bahwa dia telah digiring dalam framing tertentu.
Yang paling mengkhawatirkan, lanjut Mu’ti, di bidang spritual, ’generasi cemas dan bimbang’ ini, mencari kebenaran melalui AI, bukan lagi kepada da’i. Dan jawaban AI jauh lebih memuaskan daripada da’i.
Ini disebabkan, antara lain, karena para penceramah atau da’i tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis yang mereka ajukan. Penceramah masih menjawab dengan dalil-dalil sorga neraka yang bagi mereka sudah basi.
Mu’ti mengungkap kepercayaan kepada agama mainstream juga semakin berkurang. Mereka memilih agnostik, yakni keyakinan yang membenarkan semua agama. Dan mengambil sisi-sisi tertentu dari agama yang disukai yang sesuai dengan keinginannya.
Data menunjukkan, pengikut agnostik semakin banyak yakni nomor 3 setelah pemeluk Kristen dan Islam.
”Ini mencemaskan dan perlu menjadi prioritas utama bagi ormas keagamaan seperti Al Washliyah untuk mencarikan solusinya,” harap Mu’ti.
Inilah tantangan terbesar kader-kader Al Washliyah yang berdakwah di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi dan AI saat ini. Mampukah tantangan itu dijawab atau tidak.
Kemendiknas sendiri, lanjut Mu’ti, sudah mempunyai program untuk mengantisipasi munculnya ’generasi cemas dan bimbang’ ini. Yaitu dengan pendidikan karakter yang dimulai sejak usia TK. Tujuannya adalah membentuk siswa yang "berpikiran, berhati, dan berperilaku baik.
Ada tujuh kebiasaan yang harus dilakukan anak Indonesia dalam pendidikan karakter, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, gemar belajar, makan sehat dan bergizi serta tidur cepat.
Mu’ti mengajak Alwashliyah yang memiliki banyak lembaga pendidikan menyukseskan pendidikan karakter ini untuk membentengi generasi mendatang dari kecemasan dan kebimbangan.***(aboe/rat/pp)






LEAVE A REPLY