Home Polkam Ketum Al Washliyah Temani Ketua MPR ke Uzbekistan

Ketum Al Washliyah Temani Ketua MPR ke Uzbekistan

Bersama Sejumlah Pimpinan Ormas lain

42
0
SHARE
Ketum Al Washliyah Temani Ketua MPR ke Uzbekistan

Keterangan Gambar : Ketum Al Washliyah KH DR. Masyhuril Khamis SH., MM (kanan atas) saat mendampingi Ketua MPR dalam kunjungan ke Uzbekistan (foto dok)

ZBEKISTAN, parahyangan-post.com- – Ketua Umum Pengurus Besar Al Washliyah (PB Al Washliyah), Dr. KH. Masyhuril Khamis,SH.,  MM.,  mendampingi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, H.Ahmad Muzani melakukan kunjungan ke Uzbekistan, Bukhoro, Samarkan, yang dimulai tanggal 29 Juni 2026, hingga 4 Juli 2026/14 -19 Muharam 1448 H.

KH Masyhuril Khamis mengatakan kunjungan tersebut diisi dengan berbagai kegiatan, seperti ziarah ke makam para wali, termasuk ke makam Imam Bukhori (Periwayat Hadist-red) dan pendiri Thariqoh Naqsabandiyah, serta mengunjungi situs sejarah Asia Tengah.

Selain Ketua Umum PB Al Washliyah, ikut mendampingi Ketua MPR, diantaranya,  Ketua NU, Muhammadiyah, Perti, Persis, Wahdah Islamiyah, Parmusi, DMI, MUI, Matlaul Anwar dan sejumlah pimpinan pondok pesantyren (Ponpes) di Indonesia.

“Pada hari kemarin, (Rabu, 1 Juli-red)  ziarah ke makam Qutham Bin Abbas, sepupu Rasulllah, yang mirip dengan Rasulullah dan manusia terakhir yang menyentuh Rasulullah ketika di pemakaman Rasul,”ujar Mashuril  

Kemudian dilanjutkan ziarah ke makam Abdu Mansur Al Maturidy. Dan Ketua Umum PB Al Washliyah sempat ziarah ke makam kakeknya Sunan Amplek, Ibrahim As Samarqandi.

Sebelumnya, (Selasa 30 Juni 2026) rombongan  bertemu dengan Grand Mufti Uzbekistan, Syekh Nuriddin Khaliqnazarov, di Kompleks Museum Islamic Center Uzbekistan, Tashkent.

Sementara itu Ketua MPR  Ahmad Muzani, seperti dikutip dari mpr.go.id,  menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Uzbekistan, Parlemen Uzbekistan, MPR Uzbekistan, serta Grand Mufti Nuriddin yang telah berkenan menerima delegasi Indonesia dengan sangat ramah.

Muzani mengatakan, cerita persahabatan Indonesia dengan Uzbekistan telah terjalin ratusan tahun lalu saat Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik masuk ke Indonesia menyebarkan agama Islam.

“Pada abad ke-15 datang ke Indonesia seorang ulama terkemuka, Syekh Maulana Malik Ibrahim dari Samarkand, Uzbekistan untuk menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Jadi hubungan hati ke hati kita itu sudah terpaut sejak abad ke-15. Itu sebabnya Indonesia dan Uzbekistan terasa begitu dekat di hati, meski jauh di mata — kita seperti bersaudara,” kata Muzani.

Kemudian, persahabatan itu dirajut kembali oleh Presiden Soekarno ketika ingin berziarah ke makam Imam Bukhari. Momentum itu telah menjadi sejarah yang selalu diingat oleh rakyat Uzbekistan dan juga Indonesia.

“Kemudian persahabatan Indonesia-Uzbekistan dirajut kembali oleh Presiden Soekarno ketika berziarah ke makam Imam Bukhari. Momentum sejarah ini telah dicatat dan selalu diingat di hati oleh masyarakat Uzbekistan dan ini juga menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Karena kunjungan ziarah Bung Karno, makam Imam Bukhari dibuka kembali untuk para peziarah dunia,” ucap Muzani.

Di hadapan Grand Mufti Uzbekistan, Muzani menyampaikan bahwa kedatangannya kali ini bersama dengan para ulama Indonesia yang terdiri dari pimpinan ormas Islam serta pimpinan pondok pesantren.

Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar dunia. Namun Indonesia juga merupakan negara yang sangat beragam. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi Indonesia untuk tetap bersatu dalam perbedaan.

“Yang menyatukan kita adalah Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara yang juga menjadi pemersatu dari banyaknya perbedaan agama, suku, bahasa, dan etnis. Selain itu, kami di Indonesia juga diajarkan tentang agama Islam rahmatan lil alamin yang mengajarkan kita pentingnya beragama dengan menghormati perbedaan agama yang sangat beragam di Indonesia,” ucap Muzani. (pp/aboe/sir)