Home Edukasi HBH JATTI, UBN: Revolusi Pendidikan Islam!

HBH JATTI, UBN: Revolusi Pendidikan Islam!

Jangan sampai ditentukan oleh AI

69
0
SHARE
HBH JATTI, UBN: Revolusi Pendidikan Islam!

Keterangan Gambar : kolase foto aboe

Jakarta, parahyangan-post.com- Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) menyelenggarakan halal bi halal di aula lt 12 Kampus Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI), Jl. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta , Minggu 19 April 2025.

Hadir dalam acara yang cukup meriah tersebut sejumlah tokoh nasional, diantaranya Menteri Koperasi Ferry Juliantono, yang didapuk sebagai keynote speaker,  Rektor Universitas YARSI Prof.dr. Fasli Jalal h.D yang juga tuan rumah. Wakil Ketua MUI&Ketum Wahdah Islamiyah  Ustad Zaitun Rasmin, Wk. Ketua DPD  Tamsil Linrung,

Sementara dari internal pengurus Ketua Dewan Pembina JATTI K.H. Dede Muhharam, perwakilan Lembaga Pengelola Dana Bergulir Deva Rachman. Wakil Ketua Umum Bidang Ekonomi dan Bisnis Abdul Jabbar, ekonom Syariah Prof. Safi’i Antonio (yang juga sebagai pembicara dalam talkshow). Tampak juga Pimpinan Pondok Pesantren  Semesta Al-Quran Bogor,Ustad Abdan Lilahil Ahad.

Dalam amanahnya, Ketua Umum JATTI Ustad Bachtiar Nasir (UBN), selain memaparkan sitasi Timur Tengah/Selat Hormuz terkini, juga menyorot masalah penggunaan Artificial Intelligence (AI) sudah menjadi kebutuhan pokok, terutama  di dunia pendidikan.

”Masalahnya,  apakah kita, umat Islam Indonesia akan menjadi  konsumen saja, dan kecerdasan kita diatur oleh AI?” tanyanya.

Dalam perspektif UBN, lonjakan AI di tengah krisis global harus dibaca sebagai peringatan strategis. Dunia sedang memasuki fase baru, ketika kekuatan tidak hanya ditentukan oleh minyak, senjata, atau wilayah, tetapi juga oleh data, algoritma, komputasi, dan kemampuan membentuk perilaku manusia melalui teknologi cerdas. Maka umat Islam tidak boleh lagi terlambat membaca zaman. AI bukan sekadar alat bantu. AI adalah ruang perebutan masa depan.

Makanya, UBN menawarkan revolusi dalam dunia pendidikan dan dakwah.

Revolusi pendidikan Islam, lanjutnya,  tidak akan lahir hanya dengan menghadirkan chatbot ke ruang kelas. Itu terlalu dangkal. AI harus dipakai untuk membangun manusia unggul yang tetap beradab.

”UNESCO menegaskan bahwa AI dalam pendidikan harus bersifat human-centred, memperkuat kapasitas manusia, mendukung pedagogi, dan tidak melepaskan dimensi etika, kebijakan, serta tanggung jawab sosial. Ini sangat sejalan dengan ruh pendidikan Islam, yang tujuan akhirnya bukan sekadar kecerdasan, tetapi pembentukan insan berilmu, beradab, dan bertakwa,” urainya.

Karena itu, lanjut UBN, revolusi pendidikan Islam yang sejati adalah revolusi yang melahirkan generasi yang mampu membaca wahyu, membaca realitas, membaca data, dan membaca masa depan secara bersamaan. Umat membutuhkan ahli tafsir yang melek teknologi, insinyur yang berjiwa amanah, dokter yang mengerti etika AI, ekonom yang memahami maqashid, dan da’i yang bukan hanya fasih berbicara, tetapi juga mampu memahami arsitektur media digital dan psikologi audiens global. Itulah manusia unggul yang dibutuhkan zaman: bukan manusia yang dikalahkan AI, tetapi manusia yang memimpin AI dengan akhlak.***(pp/aboe)