(Melihat Manfaat Praktis Algoritma, Mempertanyakan Makna Kebebasan Sejati Manusia dan Makna Kebenaran Sejati di Era Digital)
Oleh: H. J. Faisal *)
Semudah Itukah Bertanya Kepada Kecerdasan Buatan Manusia?
Suatu saat saya memberikan sebuah pendapat pribadi yang sangat ringkas dan sederhana, tentang suatu hal, dalam sebuah grup whatsapp (WA).
Pendapat saya tersebut kemudian saya perkuat dengan dasar pemikiran saya dalam sebuah tulisan artikel saya yang telah dipublikasikan oleh beberapa media massa online nasional.
Tidak lama kemudian, muncullah balasan pendapat lain dari sesama anggota grup yang menyanggah pendapat saya. Profesinya adalah seorang dosen juga, sama seperti saya.
Bukan masalah menyanggahnya yang membuat saya miris, tetapi jelas sekali bahwa sanggahannya tersebut merupakan ‘pendapat’ dari sebuah mesin Artificial Inteliigence (AI) generatif, yang langsung dia kutip bulat-bulat seluruhnya.
Pertanyaan besar saya adalah, bagaimana mungkin seorang akademisi (baca:dosen) langsung menyanggah pendapat orang lain dengan menggunakan hasil searching AI, yang pasti menurutnya dianggap benar, tanpa dia pahami sepenuhnya terlebih dahulu?
Apakah dia tidak mempunyai cukup pikiran yang kuat untuk menyanggah pendapat pribadi saya yang sangat sederhana dengan pendapat pribadinya sendiri?
Atau apakah sebagai seorang dosen, dia mungkin terbiasa menulis artikel ilmiah, yang isinya lebih banyak refrensi nara luarnya daripada hasil pemikiran dan analisa ilmiahnya sendiri?
Akhirnya, melihat massifnya fenomena bertanya langsung kepada AI untuk mencari ‘kebenaran’ seeprti itu, maka dalam hipotesa saya, saya menyimpulkan, bahwasannya memang di zaman digital yang sudah sangat maju saat ini, data dan algoritma memang sudah benar-benar diandalkan untuk menyandarkan otoritas atau nalar manusia dalam melihat sebuah kebenaran.
Mengapa hal ini dapat terjadi?
Begini Penjabaran Singkat Saya…
Baiklah, dalam hal ini kita akan bicara tentang siapa yang menuntun kehidupan umat manusia sejak jaman prasejarah dulu.
Sejak awal keberadaannya, manusia selalu mencari pola kehidupannya, antara lain melakukan proses pengenalan terhadap Tuhannya, terhadap sesamanya, dan terhadap alam yang selalu mengiringi kehidupan manusia itu sendiri, dan menjadi tuntunan dalam beradaptasi dalam kehidupannya.
Jika kita menelusuri garis panjang evolusi "otoritas kebenaran" dalam sejarah manusia, dan kita tarik benang merahnya, memang sejak zaman prasejarah, manusia mencari pola hidup dengan meniru alam. Lalu muncul agama sebagai otoritas moral dan spiritual. Setelah itu, humanisme menempatkan manusia dan akalnya sebagai pusat penentu nilai.
Dan, menurut beberapa sumber bacaan yang saya temui, humanisme pertama kali muncul di Italia pada masa Renaisans (akhir abad ke-14 hingga abad ke-16), dipelopori oleh para cendekiawan yang terinspirasi karya klasik Yunani-Romawi seperti Cicero.
Gerakan ini menekankan martabat manusia, kebebasan berpikir, dan pendidikan sebagai pusat kehidupan.
Era Data Dan Algoritma Sebagai Pemegang Otoritas Kebenaran Baru
Dan kini, kita memasuki era di mana data dan algoritma menjadi semacam ‘kompas kebenaran’.
Artinya, jika sesuai dengan data dan kebenaran yang bersifat universal, maka itulah yang dianggap benar, persis seperti apa yang dikatakan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul Homo Deus, dimana kesalaahan yang berulang pun kini dapat menjadi sebuah kebenaran baru, karena algoritmanya memenuhi media teknologi digital secara terus menerus.
Sebagian manusia yang masih memegang otoritas kebenaraan kepada agama, merasa ini adalah sesuatu yang salah, namun sebagian besar lainnya merasa bahwa di sinilah cara mencari kebenaran terbaru yang paling adil.
Yuval Harari dalam bukunya tersebut memang menekankan bahwa algoritma bisa menggantikan intuisi manusia dalam menentukan keputusan, bahkan dalam hal-hal yang dulu dianggap sangat personal.
Harari menyebut arah baru ini sebagai dataisme, sebuah pandangan yang menempatkan data dan algoritma sebagai otoritas tertinggi dalam menentukan keputusan.
Dalam kerangka ini, yang dianggap “benar” bukan lagi apa yang terasa sesuai dengan hati nurani atau nilaii moral, melainkan apa yang paling konsisten dengan data lengkap dan analisis akuratnya.
Bukankah gejala ini sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari?
Tidak percaya….? Sudah terbukti bahwa algoritma merekomendasikan musik, film, rute perjalanan, gaya hidup, hingga mencari pasangan hidup, bukan?
Harari melihat ini sebagai tanda bahwa manusia mulai menyerahkan otoritas keputusan kepada sistem yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Jika dulu otoritas ada pada Tuhan, lalu pada akal manusia (baca: humanisme), kini kemudian bergeser kepada data dan algoritma.
Namun, paradoksialnya begini, algoritma bisa mengulang kesalahan, dan jika kesalahan itu diperkuat oleh sistem digital, maka kesalahan tersebut bisa dianggap sebagai ‘kebenaran baru’.
Di sinilah muncul ketegangan antara mereka yang percaya pada otoritas tradisional (agama, moralitas, nilai kemanusiaan), dan mereka yang percaya pada otoritas baru berupa data.
Kemudian muncullah banyak pertanyaan dalam benak saya, apakah kebenaran itu sesuatu yang tetap dan universal, ataukah hanya selalu bergeser mengikuti otoritas yang dominan? Kalau dulu kebenaran ditentukan oleh wahyu, lalu oleh akal, dan kini oleh algoritma…..?
Jika demikian, apakah kita sedang menuju era di mana sesuatu yang dianggap sebuah kebenaran, hanyalah hasil kalkulasi statistik, bukan lagi nilai moral atau spiritual?
Apakah manusia saat ini akan tetap menjadikan nilai kemanusiaan sebagai pusat, atau menyerahkan sepenuhnya pada teknologi digital?
Apakah algoritma ini seharusnya menjadi "otoritas tertinggi" dalam menentukan kebenaran, atau tetap harus ada ruang bagi nilai spiritual dan moral manusia?
Dasar nilai algoritma
Menurut saya, pada dasarnya algoritma adalah sesuatu yang dihasilkan manusia untuk mempermudah kehidupan, namun ketika keuntungan monetasi telah menguasainya, maka fungsinya telah bergeser menjadi sesuatu yang 'dipaksakan' untuk dikuasai oleh semua orang.
Bergeser dari sekadar alat bantu menjadi instrumen dominasi.
Akibatnya, "kebenaran" yang muncul di ruang digital sering kali bukan hasil pencarian objektif, melainkan hasil dari siapa yang paling kuat memaksakan narasi melalui data dan distribusi informasi.
Dengan demikian, kebenaran sekarang tergantung dari bagaimana 'kekuatan' manusia untuk memaksakan informasi-informsi yang hanya akan menguntungkan diri dan organisainya
Fenomena ini mirip dengan apa yang dulu terjadi pada otoritas agama atau politik di zaman kegelapan Eropa (abad ke 4 sampai dengan abad ke 10 Masehi) dengan inkuisisi gereja yang mendoninasi, dimana yang berkuasa menentukan apa yang dianggap benar.
Bedanya, kini kekuasaan itu beroperasi lewat platform digital dan algoritma yang mengatur arus informasi.
Jadi, kebenaran bukan lagi sekadar soal isi, melainkan soal distribusi dan pengulangan. Jika sebuah informasi terus-menerus diproduksi dan diperkuat oleh sistem, maka akan tampak sebagai ‘kebenaran baru’, meski mungkin awalnya salah.
Maka dapat kita saksikan bahwa di titik ini, kita bisa melihat bahwa manusia sedang menghadapi dilema besar, yaitu apakah kita rela menyerahkan otoritas kebenaran pada algoritma yang dikendalikan oleh kepentingan ekonomi, ataukah kita perlu menegaskan kembali nilai moral dan etika kemanusiaan sebagai penyeimbang?
Algroitma Itu Nirmoral Karena Tidak Memiliki Nilai Intrinsik
Menurut saya, algrotma tidak bisa dijadikan landasan beretika, karena dia adalah sesuatu yang diciptakan, sedangkan landasan etika adalah sesuatu yang diberikan ajarannya oleh pemegang otoritas kehidupan tertingi, yaitu Tuhan sebagai pencipta.
Masalahnya adalah, bagaimana dengan manusia yang tidak percaya dengan Tuhan? Dimana jumlah mereka saat ini sangat mendominasi, dan melebihi jumlah manusia yang masih percaya kepada agama dan Tuhan.
Merekalah yang sangat kuat dalam memegang kebenaran yang muncul daei data dan algoritma ini.
Sedangkan etika, menurut saya, harus bersumber dari otoritas tertinggi yaitu Tuhan.
Mengapa demikian? Ya, karena algoritma tidak memiliki nilai intrinsik, artinya algoritma hanya menjalankan logika yang ditanamkan oleh manusia.
Mereka cenderung menjadikan algoritma sebagai otoritas baru, karena algoritma tampak objektif, berbasis data, dan bisa diulang.
Namun, seperti yang saya katakana sebelumnya, algoritma bisa dimanipulasi oleh kepentingan monetisasi dan kekuasaan.
Akibatnya, "kebenaran" yang mereka pegang sering kali bukan kebenaran universal, melainkan kebenaran yang dikonstruksi oleh sistem digital yang menguntungkan pihak tertentu.
Di sini kita melihat benturan dua paradigma besar yang sudah merasuki manusia secara mayoritas, yaitu paradigma teistik, dimana kebenaran bersumber dari Tuhan, bersifat absolut dan universal. Kedua, paradigma sekuler digital, dimana kebenaran bersumber dari data dan algoritma, bersifat relatif dan bergantung pada distribusi informasi.
Ketegangan ini membuat dunia kita seperti berada di dua jalur parallel, dimana sebagian manusia masih berpegang pada nilai spiritual, sementara sebagian lain menyerahkan otoritas kebenaran tertingginya kepada teknologi.
Naaah, yang menjadi tntangan terbesarnya adalah bukan sekadar memilih salah satu, melainkan bagaimana membangun jembatan di antara keduanya. Jika tidak, kita akan terus hidup dalam fragmentasi kebenaran yang semakin tidak jelas.
Manusia yang tidak percaya pada otoritas religious, memang cenderung mencari fondasi etika lain.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika otoritas religius tidak lagi menjadi pegangan, lahirlah humanisme yang menempatkan martabat manusia sebagai pusat.
Dari sini muncul gagasan tentang hak asasi manusia dan nilai universal yang bisa diterima lintas budaya dan keyakinan.
Jadi, meskipun mereka tidak berlandaskan Tuhan, ada kemungkinan besar mereka tetap bisa diarahkan pada prinsip-prinsip universal seperti keadilan, kebebasan, dan kesetaraan.
Namun, ancaman nyata adalah ketika mereka lebih percaya pada algoritma sebagai otoritas tunggal.
Algoritma tidak memiliki kompas moral,karena hanya merefleksikan data yang ada. Jika data itu bias atau dimanipulasi, maka "kebenaran atau kecerdasan buatan" akan mendominasi.
Inilah yang membuat sebagian manusia semakin tenggelam dalam sistem digital yang mengulang kesalahan sebagai kebenaran.
Di Mana Posisi Kebebasan Manusia Sejati Yang Sesungguhnya?
Jika algoritma mampu memilih lebih baik, memprediksi lebih akurat, dan memahami kecenderungan manusia dengan detail tinggi, maka muncul pertanyaan besar, di mana posisi kebebasan manusia sejati yang sesungguhnya?
Dalam kerangka dataisme, Harari menjelaskan bahwa:
1. Pilihan manusia bisa kehilangan makna, karena keputusan sudah diarahkan oleh sistem yang bekerja di balik layar. Misalnya, kita merasa “memilih” lagu di Spotify, padahal sebenarnya kita mengikuti rekomendasi algoritma.
2. Otoritas bergeser dari intuisi dan moral manusia ke data dan analisis. Keputusan terbaik dianggap bukan yang “terasa benar”, melainkan yang paling sesuai dengan data.
3. Kenyamanan sebagai pintu masuk, dimna perubahan ini tidak terjadi dengan paksaan, melainkan lewat kenyamanan sehari-hari. Kita menerima rekomendasi film, rute perjalanan, pekerjaan, dokumentasi, bahkan pasangan, karena terasa sangat praktis.
Dalam hal ini, menurut saya, Harari tidak mendorong penolakan teknologi, melainkan mengingatkan bahwa ada pergeseran otoritas yang berlangsung perlahan. Bahayanya, manusia bisa kehilangan kesadaran bahwa kebebasan mereka sedang diredefinisi.
Penutup
Jadi, ‘kebebasan’ di era algoritma mungkin bukan lagi soal ‘memilih secara bebas’, melainkan: pertama, menyadari batas pengaruh algoritma dan tetap menjaga ruang bagi nilai moral, spiritual, dan intuisi manusia.
Kedua, membuka cara kerja sistem agar manusia tetap bisa mengkritisi dan tidak kehilangan kendali.
Ketiga, meski tidak semua orang percaya Tuhan, nilai-nilai seperti keadilan, kasih, dan martabat manusia bisa dijadikan fondasi bersama.
Keempat, terus meberikan edukasi, alias memberikan kesadaran kritis masyarakat agar sadar bahwa kenyamanan digital sering kali menyembunyikan arah keputusan yang sudah ditentukan sistem.
Maka, pertanyaannya bagi kita yang masih percaya kepada agama dan prinsip keTuhanan, kini bukan lagi ‘mana yang benar,’ melainkan ‘mana yang paling benar?’
Wallahu’allam bisshowab
Jakarta, 30 Juni 2026
*) Pensyarah Prodi PAI UNIDA Bogor/ Anggota PJMI/ Pemerhati Pendidikan dan Sosial/ Director of Logos Institute for Education and Sociology Studies (LIESS)






LEAVE A REPLY