Home Seni Budaya Usia 11 Tahun, Pingkan Sherrina Raih Juara 1 Tembang Puitik KPN+ Region Bekasi 2026

Usia 11 Tahun, Pingkan Sherrina Raih Juara 1 Tembang Puitik KPN+ Region Bekasi 2026

106
0
SHARE
Usia 11 Tahun, Pingkan Sherrina Raih Juara 1 Tembang Puitik KPN+ Region Bekasi 2026

Keterangan Gambar : Penyanyi muda asal Tomohon tersebut berhasil meraih Juara 1 kategori Tembang Puitik dalam KPN+ Region Bekasi 2026, yang digelar Minggu, 27 September 2026, di Ballroom Santika Mega City Hotel, Bekasi. (sumber foto : ist/pp)

BEKASI - Parahyangan Post— Usianya baru 11 tahun, tetapi Pingkan Sherrina Putri Pandeinuwu telah menunjukkan keberanian membawakan repertoar Tembang Puitik yang memiliki tingkat tantangan musikal dan interpretatif tinggi.

Penyanyi muda asal Tomohon tersebut berhasil meraih Juara 1 kategori Tembang Puitik dalam KPN+ Region Bekasi 2026, yang digelar Minggu, 27 September 2026, di Ballroom Santika Mega City Hotel, Bekasi.

Dalam penampilannya, Pingkan membawakan dua karya ciptaan komponis Indonesia Ananda Sukarlan, yakni Luna dan September Tuarang. Keduanya memiliki sumber teks dari penyair berbeda.

Luna menggunakan puisi karya Erna Winarsih Wiyono, sedangkan September Tuarang merupakan puisi karya Rissa Churria yang kemudian digubah Ananda Sukarlan menjadi Tembang Puitik.

Penampilan para peserta dinilai oleh dewan juri, salah satunya Elizabeth Michelle Heryawan, yang turut menilai aspek penampilan peserta dalam kategori tersebut.

Tembang Puitik menjadi ruang pertemuan antara sastra dan musik. Penyanyi bukan hanya dituntut menghasilkan suara dengan teknik yang baik, tetapi juga perlu memahami karakter teks, mengolah dinamika, menjaga intonasi, serta menyampaikan suasana yang terkandung dalam puisi.

Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi penyanyi seusia Pingkan.

Komponis Ananda Sukarlan memberikan apresiasi terhadap penampilan Pingkan dan menyebutnya sebagai penyanyi yang “sangat istimewa”. Menurut Ananda, dua karya yang dibawakan Pingkan membutuhkan kemampuan teknik, intonasi, dinamika, serta interpretasi.

Karakter kedua karya pun berbeda. Luna memiliki nuansa tragikomedik, sedangkan September Tuarang bergerak dalam suasana melankolik-romantik.

Membawa Sastra ke Panggung Musik

Penampilan Pingkan sekaligus memperlihatkan bagaimana karya sastra dapat berkembang melalui medium seni yang berbeda.

September Tuarang pada mulanya merupakan puisi yang termuat dalam buku Risalah Nagari Natasangin karya Rissa Churria. Setelah digubah menjadi Tembang Puitik oleh Ananda Sukarlan, karya tersebut memperoleh bentuk musikal yang memungkinkan puisi dinikmati melalui perpaduan kata, melodi, vokal, dan interpretasi.

Karya tersebut sebelumnya juga pernah diperkenalkan dalam bentuk Tembang Puitik pada pembukaan Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta pada September 2025.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa puisi dapat memiliki kehidupan baru ketika bertemu dengan disiplin seni lainnya. Dari halaman buku, teks sastra dapat bergerak menuju panggung dan bertemu dengan pendengar melalui musik.

Prestasi yang Membuka Ruang Belajar

Kemenangan di KPN+ Region Bekasi 2026 menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan Pingkan sebagai penyanyi muda.

Keikutsertaannya juga menunjukkan pentingnya memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal repertoar musik yang beragam. Tembang Puitik memperkenalkan mereka pada hubungan antara musik dan sastra sekaligus melatih kepekaan terhadap teks dan ekspresi musikal.

Pingkan selanjutnya dijadwalkan mengikuti Grand Final di Jakarta pada Desember 2026. Repertoar yang akan dibawakannya pada tahap tersebut belum diumumkan.

Sementara itu, kemenangan di Bekasi telah membawa September Tuarang kembali memperoleh pendengar baru. Kali ini bukan hanya melalui pembacaan puisi, tetapi melalui suara seorang penyanyi berusia 11 tahun yang membawa karya tersebut ke panggung kompetisi musik. - (rd/pp)