Home Edukasi Ketika Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbuah Buku, 32 Siswi MTs Nurul Azhar Terbitkan Antologi

Ketika Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbuah Buku, 32 Siswi MTs Nurul Azhar Terbitkan Antologi

112
0
SHARE
Ketika Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbuah Buku, 32 Siswi MTs Nurul Azhar Terbitkan Antologi

Keterangan Gambar : Buku yang diterbitkan oleh MA Publishing tersebut diluncurkan dalam kegiatan Peluncuran dan Bincang Buku pada Rabu, 30 September 2026. (sumber foto : ist/pp)

BEKASI - Parahyangan Post— Pembelajaran Bahasa Indonesia di MTs Nurul Azhar, Lubangbuaya, Setu, Kabupaten Bekasi, mengambil bentuk yang lebih nyata. Dari proses belajar di ruang kelas, lahir sebuah antologi pantun dan puisi karya 32 siswi kelas VII E berjudul “Jejak Pena Generasi Pembelajar.”

Buku yang diterbitkan oleh MA Publishing tersebut diluncurkan dalam kegiatan Peluncuran dan Bincang Buku pada Rabu, 30 September 2026.

Acara tersebut sedianya dijadwalkan berlangsung pada 19 September 2026. Karena satu dan lain hal, kegiatan baru dapat dilaksanakan pada 30 September 2026.

Terbitnya antologi ini menjadi bagian dari perjalanan penguatan budaya literasi di MTs Nurul Azhar. Buku tersebut sekaligus menjadi antologi keempat yang lahir dari lingkungan madrasah.

Pembelajaran yang Menghasilkan Karya

“Jejak Pena Generasi Pembelajar” menghimpun pantun dan puisi karya 32 siswi kelas VII E. Pendidikan menjadi tema utama yang mengikat karya-karya tersebut.

Para siswi menulis tentang semangat belajar, cita-cita, guru, orang tua, serta harapan terhadap masa depan. Tema-tema tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman sehari-hari dapat diolah menjadi gagasan kreatif.

Karya itu lahir melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang diintegrasikan dengan program literasi madrasah. Siswa tidak hanya mempelajari teori mengenai pantun dan puisi, tetapi diberi kesempatan untuk menciptakan karya dan melihat hasil belajarnya hadir dalam bentuk buku.

Bagi madrasah, proses tersebut menjadi salah satu cara menjadikan literasi sebagai bagian dari pengalaman belajar, bukan sekadar kegiatan tambahan.

Rissa Churria: Literasi Harus Memberi Ruang bagi Anak

Peluncuran buku dilengkapi dengan sesi bincang literasi yang menghadirkan Rissa Churria, pendidik, penyair, esais, prosais, pelukis, dan pengamat kebudayaan.

Rissa memberikan perhatian pada kekuatan pesan, kejujuran emosi, dan imajinasi yang terdapat dalam tulisan para siswi.

Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka melalui bahasa. Ketika siswa menulis, mereka bukan hanya belajar menyusun kata, tetapi juga belajar memahami lingkungan dan mengenali dirinya.

Antologi tersebut dapat menjadi jembatan emosional bagi siswa untuk memahami dunia melalui bahasa.

Rissa juga menekankan bahwa penerbitan buku seharusnya dipandang sebagai awal perjalanan. Para penulis muda masih memiliki ruang yang panjang untuk terus membaca, menulis, dan mengembangkan kreativitasnya.

Guru sebagai Penggerak Literasi

Alif Yuliatul Laela, guru bidang studi sekaligus narasumber, menjelaskan bahwa proses kreatif para siswi bermula dari kegiatan menulis pantun dan puisi.

Kelas menulis menjadi ruang bagi siswa untuk menuangkan gagasan, imajinasi, pengalaman, dan harapan.

“Di balik karya yang sederhana ini, ada harapan besar agar para siswa semakin kreatif, produktif, dan mencintai literasi,” ujarnya.

Dari proses tersebut, para siswi belajar bahwa tulisan yang mereka hasilkan dapat memiliki ruang yang lebih luas dan menjadi bagian dari sebuah buku.

Dukungan Madrasah

Apresiasi terhadap karya siswa disampaikan Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Asep Syaepudin.

Menurutnya, lahirnya antologi merupakan salah satu bentuk bahwa pembelajaran dapat berkembang menjadi karya yang nyata.

“Di tengah era digital, literasi adalah pilar utama Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan lil ‘Alamin,” tegasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua YPI Nurul Azhar, Nyinih Yuningsih, sebagai bagian dari dukungan terhadap pengembangan budaya literasi di lingkungan madrasah.

Sementara itu, sesi bincang buku dipandu oleh Putri A.M. sebagai moderator.

Menanam Literasi, Memanen Karya

Bagi MTs Nurul Azhar, “Jejak Pena Generasi Pembelajar” menjadi bukti bahwa budaya literasi dapat dimulai dari hal sederhana: memberi kesempatan kepada siswa untuk menulis.

Satu kelas, 32 siswi, puluhan gagasan, lalu dihimpun menjadi satu buku.

Di dalamnya bukan hanya terdapat pantun dan puisi, tetapi juga rekaman proses belajar, keberanian berekspresi, dan mimpi-mimpi generasi muda.

Melalui penerbitan buku oleh MA Publishing, karya para siswi tersebut memperoleh bentuk dokumentasi yang dapat terus dikenang.

Literasi pun tidak berhenti pada halaman buku.

Ia tumbuh dari ruang kelas, bergerak melalui tangan para siswa, dan akhirnya meninggalkan jejak yang dapat dibaca kembali pada masa depan. - (rd/pp)