Home Opini Masyarakat Yang di Paksa Bodoh

Masyarakat Yang di Paksa Bodoh

159
0
SHARE
Masyarakat Yang di Paksa Bodoh

Keterangan Gambar : Sumber Foto : Ilustrasi/diolah AI/Gemini/PP

Oleh : Alif
Penggiat Pendidikan & Lingkungan


Pendidikan sering disebut sebagai kunci masa depan bangsa. Namun dalam praktiknya, pendidikan kerap kalah ketika uang negara harus dibagi-bagi. Hal ini terasa jelas saat kita membicarakan program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang kini menjadi program andalan pemerintah.

Saya menolak MBG ketika program ini di berikan/di salurkan melalui orang-orang yang salah, justru karena melewati orang-orang yang bermasalah disitu menjadi ladang untuk mereka korupsi. Anak yang lapar tentu sulit fokus belajar, dan makanan bergizi jelas membantu. Oleh karena itu saya berfikir Ketika anggaran Pendidikan ini dipotong atau di alihkan ke program MBG sebenarnya bukan untuk mencerdaskan Masyarakat namun untuk memeliharan mereka untuk keyang dan bodoh, kalau Masyarakat bodoh Gerak pemerintah atau pengekploitasi akan sangat mudah, dan Masyarakat sangat mudah untuk di bodohi Ketika mereka ingin membuat kebijkaan yang menguntungkan mereka namun merugikan masyarakat. Masyarakat jadi cenderung mengandalkan pemerintah/sang pemberi makan, tanpa mereka bisa survive untuk kehidupan Masyarakat itu sendiri tanpa memikirkan Ketika program ini berhenti, dan nyatanya kenapa hanya anak sekolah yang di beri MBG adalah pencetakan otak agar dari anak-anak akan hanya bisa mengandalkan pemerintah.

Masalahnya ada pada dari mana uangnya diambil. Pendidikan adalah tonggak Dimana manusia bisa survive, bahkan dengan adanya Pendidikan yang diperoleh makan-makanan bergizi bukan hal yang sulit, mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak upah yang layak ketika mereka mempunyai keahlian yang di pelajari dari mereka menuntut ilmu Pendidikan. Namun ketika anggaran ini di potong untuk program MBG, otomatis mereka akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bekal hidup dan kehilangan mendapatkan pekerjaan yang layak.

 Menurut pemberitaan Infobank News, sekitar Rp223 triliun dari anggaran pendidikan 2026 dialokasikan untuk MBG. Badan Gizi Nasional memang menyatakan bahwa dana MBG berasal dari efisiensi anggaran, bukan dana pendidikan. Tetapi di dalam APBN, MBG tetap dicatat sebagai bagian dari anggaran pendidikan (GoodStats, 2026). Akibatnya, muncul pertanyaan yang wajar: kalau MBG dikeluarkan dari hitungan, berapa sebenarnya anggaran pendidikan kita? Menurut hitungan pemohon uji materi yang dikutip GoodStats, angkanya hanya sekitar 11,9 persen dari APBN, jauh di bawah kewajiban konstitusi sebesar 20 persen.

Dampaknya bisa kita bayangkan di lapangan. Seorang ekonom dalam pemberitaan Infobank News menyebut bahwa ada guru honorer yang gajinya hanya Rp300.000 per bulan dan baru dibayar tiga bulan sekali karena efisiensi anggaran pendidikan. Saya tidak bisa memastikan apakah itu terjadi di semua daerah. Tetapi kalau cerita seperti ini benar, kita patut khawatir. Guru adalah inti dari Pendidikan, Seenak apa pun makanan di sekolah kualitas belajar tetap sulit naik kalau gurunya hidup serba kekurangan.

Menariknya, anggaran MBG sendiri kini ikut dipangkas. Kepala BGN menyebut anggaran 2026 yang semula Rp268 triliun diefisienkan menjadi sekitar Rp229 triliun (Fortune IDN, 2026). Mahkamah Konstitusi juga memutuskan bahwa anggaran MBG harus dipisahkan dari anggaran pendidikan paling lambat tahun 2028. Menurut saya, ini langkah ke arah yang benar. Hanya saja, tahun 2028 masih cukup jauh, sementara kebutuhan sekolah dan guru ada hari ini.

Tentu ada pandangan lain yang perlu didengar. Pendukung MBG berpendapat bahwa gizi anak juga bagian dari investasi pendidikan, dan pemerintah mengklaim pemangkasan hanya menyasar birokrasi dan logistik, bukan mengurangi isi porsi makanan. Argumen ini masuk akal. Namun, kalau MBG memang dianggap investasi pendidikan, dampaknya terhadap hasil belajar harus diukur dengan jelas, bukan sekadar dilihat dari jumlah porsi yang dibagikan.

Jadi, sikap saya sederhana: MBG boleh jalan, tetapi jangan membuat pendidikan menjadi korban. Anggarannya sebaiknya dipisahkan lebih cepat, dan prioritas anggaran pendidikan tetap diarahkan untuk hal yang mendasar, seperti kesejahteraan guru dan perbaikan sekolah. Anak-anak butuh perut yang kenyang, tetapi mereka juga butuh guru yang dihargai dan ruang kelas yang layak.

Daftar Pustaka : 
Fortune IDN. (2026). Purbaya: Anggaran MBG bisa ditekan di bawah Rp200 triliun. https://www.fortuneidn.com/news/realisasi-anggaran-program-makan-bergizi-gratis-mbg-00-6cmtl-wyh892. 
GoodStats. (2026). MBG habiskan anggaran Rp36,6 triliun per 21 Februari 2026, dari mana sumber dananya? https://goodstats.id/article/dari-mana-sumber-pendanaan-mbg-X1pWo 
Infobank News. (2026). Ekonom soroti pemangkasan anggaran untuk MBG, pertanyakan rasionalitas kebijakan. https://infobanknews.com/ekonom-soroti-pemangkasan-anggaran-untuk-mbg-pertanyakan-rasionalitas-kebijakan/