Home Profil Ketum Al Washliyah, KH. Masyhuril Khamis: Menggenapkan Jangkauan Organisasi di 38 Propinsi

Ketum Al Washliyah, KH. Masyhuril Khamis: Menggenapkan Jangkauan Organisasi di 38 Propinsi

Oleh: Ismail Lutan

428
0
SHARE
Ketum Al Washliyah, KH. Masyhuril Khamis: Menggenapkan Jangkauan Organisasi di 38 Propinsi

Keterangan Gambar : Dr. H. Masyhuril Khamis, S.H., M.M., AAAIS., AAAIJ. (foto aboe)

Ormas Islam terbesar dari Sumatera, Al Washliyah, yang lahir tahun 1930 di Medan, akan menyelenggarakan Muktamar ke-23 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 7-10 Juli 2026. Artikel ini menampilkan profil Ketua Umum periode 2021-2026 Dr. H. Masyhuril Khamis, S.H., M.M., AAAIS., AAAIJ,

 

Ketika dilantik sebagai Ketua Umum pada Muktamar XXII tahun 2021, peta organisasi Al Washliyah baru ada di 21 propinsi. Semangat juang dan stamina Masyhuril  yang kuat luar biasa,  dalam tempo 4 tahun, Alwashliyah, sudah menjangkau  38 provinsi di Indonesia.

Ini adalah prestasi dan capaian mengagumkan Masyhuril yang  terkenal dengan kredonya, “Teruslah bergerak dan berkolaborasi. Tunjukkan bahwa kader Al Washliyah mampu bersaing di segala bidang.”

Dr. H. Masyhuril Khamis, S.H., M.M., AAAIS., AAAIJ, lahir di Meranti Paham, 5 September 1964. Terpilih sebagai Ketua Umum PB Al Washliyah periode 2021-2026 pada Muktamar XXII di Jakarta secara aklamasi menggantikan Yusnar Yusuf Rangkuti. Selain itu, ia diamanahi untuk menjadi Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa Majelis Ulama Indonesia (PD PAB MUI) masa khidmat 2020-2025.

Unggulan

Program unggulan lain yang berhasil dicapai semasa kepengurusan Masyhuril  adalah pembangunan masjid. Dimulai dari Bojen Pandeglang Banten, Cigombong Kab Bogor Jawa Barat, Pesaman Barat Sumbar, Pangkep Sulawesi Selatan, Dulolong Alor NTT yang semua di namakan Masjid Al Washliyah. Kemudian  membantu akses donasi untuk merenovasi beberapa Masjid pedesaan, termasuk beberapa Madrasah Al Washliyah .

Di priode ini sudah  memulai arah peningkatan ekonomi organisasi, Akuisisi BPRS menjadi milik Al Washliyah sepenuhnya. Ada AlZis LAZ Nasional,  Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP33H), Wakaf Center, Koperasi At Tijaroh.

Training dan Kaderisasi kembali di optimalkan termasuk adanya Kemah Sako Pramuka Nasional, Pelatihan Kepemimpinan Nasional.

Perguruan Tinggi khususnya mengalami kemajuan yang significan dan semua bersemangat untuk mendapatkan akreditasi unggul serta peningkatan status dari Sekolah Tinggi menjadi institut, dan menjadi Universitas.

Sementara di tingkat kabupaten/kota, perkembangan sayap dan struktur organisasi juga signifikan, yang kini hampir mendekati angka 300.

Ekspansi ini penting karena menjadi fondasi bagi program-program nasional Al Washliyah. Dengan struktur yang lengkap sampai ke daerah, program pendidikan, dakwah, sosial, dan pemberdayaan umat bisa dijalankan lebih sistematis dan terukur.

Stamina

Salah satu ciri kepemimpinan KH. Masyhuril Khamis adalah staminanya yang kuat. Dia, misalnya,  tidak merasa lelah  naik  kendaraan berjam-jam menembus hutan pedalaman  di Kalimantan dengan kondisi jalan yang jelek dan berlumpur,  kemudian terbang lagi ke daerah lain tanpa istirahat. Kehadirannya di pelosok-pelosok  wilayah dakwah itulah yang membuat  organisasi kokoh dan dicintai.

Dalam lima  tahun kepemimpinan, Masyhuril  hampir tidak pernah absen dari agenda konsolidasi wilayah. Dari Aceh hingga Papua, dari Sumatera hingga Nusa Tenggara, Masyhuril hadir untuk bertemu kader, meresmikan program, dan mendengar langsung persoalan di lapangan.

Bahkan jangkauan itu meluas ke luar negeri. Pertemuan dengan diaspora Indonesia dan kader Al Washliyah di luar negeri menjadi bagian dari strategi memperkuat jaringan internasional organisasi.

Stamina ini menjadi energi bagi pengurus daerah untuk tetap bergerak, karena merasa ada pimpinan pusat yang benar-benar hadir dan mendampingi.

Sosial

Selain penguatan struktur, KH. Masyhuril Khamis juga mendorong agar Al Washliyah hadir melalui program sosial yang nyata. Salah satu program yang menjadi sorotan adalah pembangunan sumur bor di daerah yang mengalami krisis air bersih.

Di Bantul, Yogyakarta, dan di beberapa titik di Nusa Tenggara Timur, sumur bor dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Yang menarik, di NTT program ini menjadi contoh nyata kerukunan antarumat beragama.

Sumur bor yang dibangun di lingkungan masjid tidak hanya dimanfaatkan oleh umat Islam. Masyarakat non-muslim di sekitar lokasi juga memanfaatkannya. Bahkan, struktur kepanitiaan pembangunan pun mencerminkan semangat kebersamaan dengan wakil ketua pembangunan sumur bor tersebut adalah non-muslim.

Dalam berdakwah, KH. Masyhuril Khamis dikenal sebagai tokoh dengan pendekatan moderat dan akomodatif. Ceramah-ceramahnya tidak bersifat provokatif, melainkan menginspirasi, menyejukkan, dan mengajak umat untuk bersatu dalam kerja-kerja kebangsaan.

Pendekatan ini sejalan dengan amanahnya  sebagai Ketua MUI Bidang Perbaikan Akhlak Bangsa. Dalam kapasitas tersebut, Masyhuril konsisten menyuarakan pentingnya akhlak publik, etika berbangsa, dan semangat gotong royong di tengah masyarakat yang majemuk.

Kepemimpinan yang moderat ini membuat Al Washliyah tetap menjadi rumah besar bagi umat Islam yang ingin berjuang tanpa harus terjebak dalam polarisasi. Persatuan, kata beliau, adalah syarat utama agar umat bisa berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Saat ini di akhir kepemimpinannya Dr.KH.Masyhuril Khamis SH. MM, AAAIJ, AAAIS, di berikan amanah berupa jabatan lainnya antara lain:

1. Ketum PB Al Washliyah

2. Ketua MUI Pusat Bid Halal

3. Komisioner Badan Wakaf Indonesia

4. Anggota Dewan Pembina Masyrakan Ekonomi Syariah.***