Home Edukasi DR Afief Mustofa Al Jawawi Ungkap 7 Pilar Membangun Organisasi yang Berdampak

DR Afief Mustofa Al Jawawi Ungkap 7 Pilar Membangun Organisasi yang Berdampak

Bukan Sekadar Kumpul-Kumpul

34
0
SHARE
DR Afief Mustofa Al Jawawi Ungkap 7 Pilar Membangun Organisasi yang Berdampak

Keterangan Gambar : DR (HC) Afief Mustofa Al Jawawi, S Pd.I, MM.

JAKARTA, parahyangan-post.com- – Di tengah maraknya dinamika organisasi kemasyarakatan, keagamaan, hingga kepemudaan, pemahaman tentang esensi berorganisasi sering kali tereduksi. Banyak kalangan yang masih menganggap organisasi sekadar wadah berkumpul, panitia acara, atau pengisi waktu luang. 

Menanggapi fenomena ini, tokoh Da'i Pantura, DR (HC) Afief Mustofa Al Jawawi, S Pd.I, MM., menghadirkan pandangan segar dan mendalam tentang "Seni Berorganisasi". Dalam paparannya yang berlandaskan pada QS Ali Imran ayat 104, Afief menegaskan bahwa organisasi yang sejati bukanlah sekadar struktur kepanitiaan.

"Organisasi yang benar adalah sebuah ekosistem tempat individu-individu meleburkan egonya demi mencapai tujuan yang lebih besar daripada diri mereka sendiri. Ini bukan soal siapa yang menjadi ketua, melainkan tentang sinergi, proses, dan dampak," tegas Afief.

Bagi Afief, berorganisasi yang efektif membutuhkan perpaduan antara nilai spiritual yang kokoh dan prinsip manajemen modern yang teruji. Ia merumuskan tujuh pilar utama yang menjadi fondasi organisasi yang sehat dan berkelanjutan.

Kesalahan paling fatal dalam sebuah organisasi, menurut Afief, adalah ketika anggotanya sibuk bergerak namun kehilangan arah. Ia menekankan pentingnya visi yang terinternalisasi, bukan sekadar slogan yang dicetak di spanduk. Setiap anggota, dari ketua hingga staf lapangan, harus memiliki jawaban yang seragam ketika ditanya tentang tujuan keberadaan mereka.

Sejalan dengan visi, pilar kedua adalah profesionalisme dalam pembagian peran atau Right Man on The Right Place. Afief menyoroti bahwa organisasi yang sehat harus membenci tumpang tindih (overlapping) tugas. 

"Penempatan SDM harus sesuai kompetensi. Jangan menaruh orang yang pendiam dan analitis di posisi humas yang butuh komunikasi agresif, atau menaruh orang kreatif yang tidak rapi di bagian bendahara. Hargai profesionalisme dengan menepati deadline dan datang tepat waktu," paparnya.

Dalam ekosistem organisasi, Afief mengibaratkan komunikasi sebagai oksigen. Organisasi tidak mati karena kurang dana, melainkan karena macetnya komunikasi. Ia menuntut adanya transparansi informasi dan ruang aman untuk kritik yang membangun, sembari secara tegas melarang budaya gosip yang menjadi racun solidaritas.

Poin yang tak kalah kritis adalah menyeimbangkan budaya kekeluargaan dan profesionalisme. Afief menyebut ini sebagai jebakan terbesar dalam budaya organisasi di tanah air. Jika terlalu kekeluargaan, teguran menjadi tumpul karena rasa sungkan. Namun, jika terlalu kaku, hubungan menjadi transaksional dan anggota cepat burnout.

"Solusinya adalah tegas dalam pekerjaan, hangat dalam persaudaraan. Saat rapat dan bekerja, kita menuntut standar tinggi. Namun saat di luar jam kerja, kita adalah keluarga yang saling mendukung," ujar Afief memberikan rumus elegan.

Menutup rangkaian pilar tersebut, Afief mengingatkan bahwa organisasi yang hebat tidak berpikir untuk "hari ini saja". Budaya kaderisasi dan regenerasi menjadi harga mati. Senior wajib membimbing junior melalui mentoring yang humanis, bukan menindas. Suksesi kepemimpinan harus disiapkan jauh-jauh hari agar organisasi tetap berjalan mulus meski pemimpin terbaiknya berganti.

Di atas semua aspek manajerial tersebut, Afief menempatkan integritas dan etika sebagai mahkota. Kejujuran dalam pengelolaan dana, loyalitas menjaga nama baik organisasi, hingga tanggung jawab moral terhadap lingkungan sekitar menjadi cerminan moral anggotanya.

"Evaluasi adalah kunci pertumbuhan. Ubah kebiasaan mencari kambing hitam menjadi mencari akar masalah. Jangan takut membuat kesalahan, tapi takutlah jika mengulangi kesalahan yang sama," pungkasnya.

Melalui rumusan tujuh pilar ini, DR Afief Mustofa Al Jawawi tidak hanya menawarkan panduan manajerial, tetapi juga mengembalikan ruh berorganisasi pada nilai-nilai spiritual. Organisasi, pada akhirnya, adalah kendaraan untuk menebarkan kebaikan, di mana setiap anggotanya tumbuh menjadi pribadi yang utuh, profesional, dan berdampak bagi peradaban.***(pp/aboe/widhy)