Home Polkam Tiga Program Unggulan Kemenag Diapresiasi Bakom

Tiga Program Unggulan Kemenag Diapresiasi Bakom

Bagian dari pertanggungjawaban pemerintahan dan keterbukaan informasi publik

44
0
SHARE
Tiga Program Unggulan Kemenag Diapresiasi Bakom

Keterangan Gambar : foto bawah: Menag Nasaruddin Umar (kiri) Ketua Bakom Syahganda Nainggolan (kanan) makan bersama usai pemaparan 2 Tahun Asta Cita Pemerintah di kantor Kemenag Lapangan Banteng, Jakarta. (kolase foto aboe)

Jakarta, parahyangan-post.com- Tiga program Unggulan Kemenag mendapat apresiasi positif dari Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Syahganda Nainggolan.  

Ketiga program itu adalah agama sebagai alat persatuan nasional, agama sebagai alat pembebasan dari budaya korupsi, agama berperan  dalam memajukan pembangunan manusia dan sumber daya manusia.

Pernyataan tersebut disampaikan Syahganda di akhir sesi paparan Capaian Kemenag 2 Tahun Asta Cita Pemerintah pada Konprensi Pers yang dilaksanakan di lantai dasar Kantor Kemenag Lapangan Banteng, Senin (19/10/2026).

Sebelum Syahganda menyampaikan simpulan itu,  Kemenag Nasaruddin Umar dan Wamenag Romo R. Muhammad Syafi’i, menjelaskan secara rinci program-program yang sedang dan yang akan dilakukan oleh kementeriannya. Hadir dalam para Dirjen, dan para Kanwil melalui zoom.

Syahganda menilai berbagai program yang dipaparkan Menteri Agama Nasaruddin Umar beserta jajarannya menunjukkan peran strategis agama dalam memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dari Bakom, kami sangat mengapresiasi tiga hal yang saya catat tadi. Pertama, Bapak Menteri Agama dan jajarannya telah berhasil meningkatkan agama sebagai alat persatuan nasional,” ujar Syahganda.

Menurut Syahganda, agama memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan nasional di tengah keberagaman masyarakat. Peran tersebut menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian Bakom dalam mencermati capaian Kemenag selama dua tahun pelaksanaan Asta Cita.

Selain memperkuat persatuan, Syahganda mengapresiasi upaya Kemenag menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan membangun integritas dan memberantas budaya korupsi. Ia menilai agama dapat mendorong masyarakat untuk menerapkan perilaku jujur dan menjauhi tindakan yang bertentangan dengan nilai moral.

“Yang kedua, telah berhasil menjadikan agama sebagai alat pembebasan dari budaya korupsi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu membangun kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan berintegritas. Syahganda menilai pendekatan tersebut penting dalam mendorong perubahan perilaku, termasuk dalam upaya mencegah praktik korupsi.

“Saya lihat tadi bagaimana agama itu bisa meyakinkan orang-orang untuk menjadi orang yang bersih dari korupsi,” tuturnya.

Capaian ketiga yang mendapat apresiasi adalah kontribusi Kemenag dalam meningkatkan kualitas pembangunan manusia. Syahganda mencontohkan program pembelajaran jarak jauh dan pemberian beasiswa sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan serta meningkatkan kualitas SDM.

“Yang ketiga, agama itu ikut berperan serta dalam memajukan pembangunan manusia dan sumber daya manusia, seperti pembelajaran jarak jauh, beasiswa, dan lain-lain,” ujarnya.Dalam kesempatan tersebut, Syahganda juga menegaskan pentingnya keterbukaan informasi publik sebagai bagian dari pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat. Penyampaian capaian dua tahun Asta Cita, menurut dia, merupakan bentuk akuntabilitas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Penyampaian keberhasilan ini adalah bagian dari pertanggungjawaban pemerintahan dan keterbukaan informasi publik,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pemerintah berkewajiban menyampaikan informasi mengenai program, pelaksanaan pekerjaan, dan hasil yang telah dicapai kepada masyarakat. Kewajiban tersebut dinilai penting karena berbagai program pemerintah dibiayai oleh anggaran negara yang bersumber dari masyarakat, termasuk melalui penerimaan pajak.

Untuk memperluas penyebaran informasi, kementerian dan lembaga akan menyampaikan hasil kerja selama dua tahun pemerintahan melalui berbagai saluran komunikasi. Upaya tersebut mencakup pertemuan langsung dengan wartawan, penerbitan siaran pers, serta penyampaian informasi melalui media massa.

Syahganda menekankan bahwa komunikasi pemerintah dengan media tidak hanya bertujuan menyampaikan keberhasilan program, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, keluhan, dan persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah.

Karena itu, ia berharap media dapat menjadi jembatan bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai masukan, termasuk mengenai pelayanan Kemenag yang masih perlu diperbaiki.

“Respons dari teman-teman media adalah hal yang kami harapkan untuk kami sampaikan kepada Bapak Presiden dan pemerintah,” katanya.

Syahganda menambahkan, kehadirannya dalam konferensi pers tersebut merupakan bagian dari upaya mendampingi Menteri Agama dan jajaran Kemenag dalam menyampaikan hasil kerja kepada publik. Ia berharap keterbukaan informasi itu dapat membantu media memperoleh penjelasan yang dibutuhkan sekaligus memperkuat penyampaian aspirasi masyarakat sebagai bahan evaluasi dan perbaikan pelayanan pemerintah kepada umat.***(pp/aboe)