Home Opini Merajut Tenun Kebangsaan, Selamat Hari Kelahiran ke-57, Pak Anies

Merajut Tenun Kebangsaan, Selamat Hari Kelahiran ke-57, Pak Anies

122
0
SHARE
Merajut Tenun Kebangsaan, Selamat Hari Kelahiran ke-57, Pak Anies

Oleh : W. Suratman 
Sekjen Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI).

Hari ini, Kamis, 07 Mei 2026, sebuah catatan perjalanan kembali bertambah, lima puluh tujuh tahun bukanlah sekedar angka, melainkan deretan rekam jejak, gagasan yang terus di-perjuangkan, dan kerja-kerja nyata telah di dedikasikan untuk bangsa. Happy Milad, Barakallah fii umrik, Pak Anies. 

Dari panggung akademisi, gerakan Indonesia Mengajar (IM) yang menyalakan lilin-lilin harapan di pelosok negeri, hingga ruang-ruang kebijakan publik, langkah kaki beliau selalu membawa satu pesan konsisten menghadirkan keadilan sosial dan kesetaraan bagi seluruh rakyat. 

Bagi banyak orang, Anies Baswedan merupakan sosok pemimpin yang mengedepankan dialog, merawat tenun kebangsaan yang sempat terkoyak, dan selalu percaya bahwa kata-kata yang dirangkai dengan data estetika mampu menggerakan sebuah perubahan yang bermakna. 

Kepemimpinannya sering kali mengingatkan kita bahwa membangun sebuah bangsa tidak hanya soal benda mati dan infrastruktur fisik, tetapi tentang memuliakan manusia dan meninggikan derajat warganya. 


Gagasan, Narasi, Karya 

Anies Baswedan menekankan pendekatan pembangunan yang berurutan, dimulai dari sebuah Gagasan (ide dasar atau visi), dirumuskan menjadi Narasi (cerita/alasan sosial) dan diwujudkan menjadi sebuah Karya (hasil fisik/kebijakan). Pendekatan ini bertujuan menciptakan pembangunan yang setara, manusiawi dan memiliki alasan sosiologis yang kuat, bukan sekedar infrastruktur fisik. 

Anies sering menegaskan bahwa karya tanpa gagasan tidak dapat menjelaskan alasan pembangunanya, sehingga setiap karya fisik harus memiliki narasi yang kuat untuk publik. 

Rekam jejaknya sulit terbantahkan selama lima tahun menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, dari tahun 2017 – 2022, sejumlah kebijakan dan proyek yang telah dikerjakan, baik yang bersifat pembangunan fisik maupun transformasi sistem. 


Dalam bidang transportasi publik misalnya, bagaimana mengintegrasikan transportasi publik melalui program JakLinko. Menghubungkan berbagai moda transportasi seperti TransJakarta, MRT, LRT dan angkutan kota (angkot) dalam satu sistem pembayaran dan rute, dan hari ini masyarakat merasakan begitu nyaman dan murahnya menggunakan transportasi umum di Jakarta. 

Selain itu, revitalisasi trotoar, penataan trotoar secara masif di jalan-jalan protokol untuk mendukung konsep kota yang ramah bagi pejalan kaki. 

Pembangunan jalur sepeda, ratusan kilometer jalur sepeda dibangun di berbagai titik di Jakarta, dan sungguh sangat disayangkan jalur sepeda tersebut saat ini banyak yang diterlantarkan bahkan rusak. 

Pembangunan stadion berstandar FIFA di Jakarta Utara yang dirancang untuk kegiatan seni dan budaya, Jakarta International Stadium (JIS). Penataan kawasan sejarah Batavia (Kota Tua) menjadi kawasan rendah emisi dan revitalisasi total Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM), dan bagaimana TIM hari ini setiap hari dipenuhi oleh kegiatan anak-anak muda. 

Selain itu, Anies Baswedan juga melakukan pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dengan design moderen dan artsitik, sehingga para pengguna merasa nyaman dan menjadi ikon atau daya tarik tersendiri menambah keindahan kota. 


Pada masa pandemic Covid-19 tahun 2020, Provinsi DKI Jakarta menjadi provinsi yang pertama menerapkan PSBB secara ketat, selain itu juga meluncurkan situs corona.jakarta.go.id yang menyediakan data real time persebaran kasus, sebagai bentuk transparansi data. 

Beberapa program lainya, dimasa kepemimpinan Anies Baswedan di DKI Jakarta, seperti program penyediaan hunian bagi warga berpenghasilan rendah dengan skema uang muka nol persen (DP Nol Persen), walaupun program ini masih terus menjadi bahan diskusi dan perdebatan, sampai akhir masa jabatanya. 

Memperluas cakupan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU). Pemberian keringanan atau pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bagi guru, veteran, pensiunan, serta lahan dengan nilai tertentu. 

Anies juga membangun Sumur Resapan, yang fokus pada pendekatan drainase vertikal untuk meresap air ke dalam tanah, meski kebijakan ini sempat menuai pro dan kontra di masayarakat. Dan Naturalisasi Sungai, pendekatan penataan sungai yang mengedepankan ekosistem hijau di bantaran air. 

Penghentian reklamasi, mencabut izin pelaksanaan reklamasi 13 pulau di Teluk Jakarta untuk memenuhi janji kampanyenya waktu itu, dan sempat ramai karena harus bersitegang dengan Luhut Binsar Panjaitan yang saat itu menjabat sebagai Menko Maritim, dan lagi-lagi Anies menyajikan argumentasinya berdasarkan data-data yang tidak bisa dibantah saat itu. 

Sementara program Formula E, penyelenggaraan ajang balap mobil listrik internasional di Ancol sebagai bagian dari upaya mempromosikan energi bersih saat itu, program ini justru menjadi ajang pintu masuk serangan dari lawan-lawan politiknya, namun lagi-lagi Anies Baswedan membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan miring kepada dirinya tidak benar sama sekali. 

Dan hari ini, saya, anda dan kita semua, termasuk juga orang-orang yang dari dulu sampai saat ini mungkin masih secara terus menerus menyerang dan menjelekan seorang Anies Baswedan, tetapi disisi lain mereka juga menikmati fasilitas hasil gagasan/ide, narasi dan karya yang dihasilkan dari kebijakan seorang Gubernur DKI Jakarta pada periode 2017 – 2022 tersebut, diakui atau tidak itulah realitanya. 


What Next 

Perayaan Hari Kelahiran ke-57 mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di-rayakan secara sederhana, di-rumahnya sejak pagi telah berdatangan warga sekitar, kerabat dan handai tolan. 

Sementara itu Organisasi Gerakan Rakyat yang selama ini terus mendampingi Anies dan bertransformasi menjadi partai politik,  juga tidak mau ketinggalan, sejak pagi para  anggota dan simpatisanya berdatangan ke Kantor DPP,  di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, untuk selanjutnya menuju ke kediaman mantan orang nomor satu di DKI Jakarta, di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, untuk memberikan ucapan dan mendoakannya. 

Berbagai sumber menyebut bahwa Partai Gerakan Rakyat ini memiliki keterikatan kuat dengan sosok Anies Baswedan, baik secara ideologis maupun sebagai basis dukungan politik. Dimana awal dibentuknya sebagai sebuah organisasi masa (ormas) pada 27 Februari 2025 oleh para pendukung dan loyalis Anies Baswedan setelah konstestasi Pilpres 2024. 

Melalui Rakesrnas I pada 17 – 18 Januari 2026, bertransformasi, organisasi ini sepakat mengubah statusnya menjadi partai politik. Meskipun sosok Anies Baswedan sering disebut sebagai inspirator dan tokoh utama dibalik gerakan ini, namun secara formal ketua umumnya bukan Anies Baswedan, sehingga berbeda dengan partai politik yang ada pada umumnya, apakah ini juga sebagai sebuah strategi politik.?? 

Yang jelas Partai Gerakan Rakyat ini sebagai wadah baru, kendaraan politik bagi Anies Baswedan, terutama untuk mempertahankan eksistensi politik pasca jabatan Gubernur dan persiapan menuju agenda politik nasional masa depan. Juga untuk mengkonsolidasikan sukarelawan dan pendukung setia Anies Baswedan yang tersebar di-berbagai simpul relawan, dibasis akar rumput. 

Melihat misi dan visinya, partai ini konsisten membawa narasi perubahan dan keadilan sosial, selaras dengan nilai-nilai yang dibawah Anies Baswedan selama menjabat Gubernur DKI Jakarta dan saat kampanye pilpres lalu. Menekankan pada ekonomi kerakyatan, kesetaraan akses pendidikan dan data kelola pemerintahan yang transparan. 

Di usianya yang semakin matang, kini Anies Baswedan harus menghadapi tantangan zaman yang tentu tidak semakin mudah, namun ketenangan, keteguhan prinsip, dan optimisme yang selalu terpancar dari tutur katanya adalah bahan bakar yang terus menginspirasi generasi muda untuk tidak apatis terhadap masa depan Indonesia. 

Bahwa membangun Indonesia adalah membangun masa depan, membangun sebuah peradaban, tidak saja untuk kita yang hidup disaat ini, tetapi juga untuk generasi, anak, cucu kita kedepan, sehingga diperlukan ide/gagasan yang matang dan besar, di narasikan dengan baik untuk selanjutnya di rumuskan menjadi sebuah karya yang gemilang, yang bisa dinikmati oleh seluruh elemen anak bangsa, bukan hanya oleh kelompok dan keluarganya semata. 

Kedepan diperlukan sosok yang memiliki ide dan gagasan dan mampu merumuskan arah Indonesia kedepan yang lebih sejahtera dan berkeadilan. Di era yang serba digital, tidak ada lagi tempat bagi mereka yang sekedar pragmatis, anak-anak muda rindu akan sosok pemimpin yang berintegritas, jujur dan melibatkan rakyat sebagai subyek bukan sekedar obyek dalam setiap kebijakan dan pelaksanaan pembangunan. 


Pada era orde baru kita familiar dengan narasi ‘Tinggal Landas’ dan saat ini, kita sering mendengar ‘Indonesia Emas’. Pasca Orde Baru, masuk ke Era Reformasi, harapan kita semua tentunya negeri ini akan semakin baik, maju, sejahtera dan berkeadilan. Namun realitanya sampai hari ini, harapan, tinggalah harapan, entah sampai kapan kondisi seperti ini, akan terus berlangsung. (*).