Jakarta, parahyangan-post.com- Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam As Syafiiyah (FKIP UIA) menyelenggarakan Workshop Implementasi Pembelajaran Berbasis Outcome Based Education (OBE) dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL)
Kegiatan berlangsung secara daring, Jumat 27 Februari 2027, dengan pembicara Asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) yang juga Ketua Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan (IPTPI) periode 2024 -2029, Prof Mustaji, M.Pd.
Dekan FKIP UIA Dr. Misbah Fikrianto, MM., MPd., M.Si mengatakan workshop diikuti oleh dosen dan mahasiswa S2. Diselenggarakan dalam upaya mengoptimalkan implementasi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK). Sehingga nantinya dosen bisa merancang kurikulum dan mengembangkan materi pembelajaran.
“Mata kuliah untuk pengembangan kurikulum itu adalah salah satu mata kuliah inti di Magister Teknologi Pendidikan (MTP) FKIP UIA,” ujar Misbah dalam sambutan pembukaannya.
Kepakaran Prof. Mustaji di bidang itu, lanjut Misbah, tidak diragukan lagi. Karena Belaiu adalah Koordinator Prodi Doktor (S3) Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
“Selain itu Beliu juga Ketua Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan (IPTPI) periode 2024 -2029, dan Asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK). Jadi workshop ini adalah kesempatan yang sangat langka baik bagi mahasiswa maupun dosen,” tambah Misbah.
Mandiri
Dalam paparannya Mustaji menjelaskan secara rinci teknis penailaian RPL terbaru. Mulai dari cara menilai portofolio dengan aplikasi terbaru yang lebih ringkas hingga percepatan penyelesaian masa perkuiiahan.
Selain itu Mustaji menekankan ekosistem pembelajaran digital harus selalu ditingkatkan. Caranya dengan membuat aplikasi yang semakin sederhana, sehingga mahasiswa maupun dosen merasa nyaman mengoperasikannya.
”Sekarang dan ke depan perkuliahan daring (dalam jaringan) akan semakin dibutuhkan. Kalau masih ada kampus yang ngotot 100 prosen luring (tatap muka), bisa-bisa kampus tersebut tidak mendapatkan mahasiswa. Apalagi untuk program S2 yang umumnya mereka sudah bekerja,” ujar Mustaji.
Unesa sendiri, lanjut Mustaji, mengembangkan sendiri aplikasi pembelajaran secara mandiri, yakni sinau digital atau simdik. Sinau berbeda dengan aplikasi lain, seperti sevima. Sevima masih menggandeng pihak ketiga. Sementara Sinau Unesa tidak.
Menurut Mustaji, masing-masing kampus harus mengembangkan ekosistem pembelajaran digitalnya. Kalau tidak, kampus itu akan ditinggalkan mahasiswa.
Workshop diikuti oleh seluruh dosen FKIP UIA, termasuk Kaprodi MTP Dr. Moh. Fahri Yasin, M.Pd, Sekprodi MTP Dr. Khasanah M.Pd, dan mahasiswa S2.***
***






LEAVE A REPLY