Home Seni Budaya Empat Musikus dari Ananda Sukarlan Orchestra Tampil Depan Pemenang Nobel di Megawati Institute

Empat Musikus dari Ananda Sukarlan Orchestra Tampil Depan Pemenang Nobel di Megawati Institute

86
0
SHARE
Empat Musikus dari Ananda Sukarlan Orchestra Tampil Depan Pemenang Nobel di Megawati Institute

Keterangan Gambar : Empat pemain instrumen gesek yang tergabung dalam Ananda Sukarlan Orchestra tampil di hadapan para tamu terhormat ini. Mereka adalah Glen Afif Ramadan (violin), Saynediva Al Fatah Putra (violin), Galih Yoga Pratama (viola) dan Ade Sinata (cello). (sumber foto : ist/pp)

JAKARTAParahyangan Post - Megawati Institute telah menjadi ruang pertemuan antara pemimpin politik, ilmuwan, dan pemikir dunia dalam agenda Luncheon and Discussion with Science for Development Summit Delegation di Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026 lalu.

Pertemuan yang diinisiasi Presiden ke- 5 Republik Indonesia sekaligus pendiri Megawati Institute, Megawati Soekarnoputri, bersama Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta tersebut menghadirkan para penerima Nobel dan Turing Award serta ilmuwan dari berbagai bidang keilmuan.

Direktur Eksekutif Megawati Institute Hilmar Farid mengatakan pertemuan tersebut berangkat dari perhatian bersama Megawati dan Ramos-Horta terhadap pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi umat manusia saat ini.

“Pertemuan ini pada dasarnya ingin mempertemukan ilmu pengetahuan dengan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi dunia. Kita memiliki perkembangan sains dan teknologi yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama kita menghadapi tantangan kemanusiaan, lingkungan, ekonomi, dan politik yang semakin kompleks,” kata Hilmar Farid di Jakarta, Jumat.

Menurut Hilmar, kehadiran ilmuwan dari berbagai disiplin dalam satu forum juga mencerminkan sifat persoalan yang dihadapi dunia saat ini. Tantangan-tantangan tersebut semakin saling berkaitan dan tidak dapat diselesaikan dari perspektif satu disiplin ilmu atau satu negara saja.

Karena itu, pertemuan tersebut tidak dirancang sebagai konferensi ilmiah dengan pembahasan yang terpisah berdasarkan disiplin keilmuan. Pertemuan berlangsung sebagai dialog yang mempertemukan berbagai pengalaman dan perspektif mengenai bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan manusia.

“Yang penting bukan hanya menghadirkan orang-orang dengan pencapaian ilmiah yang sangat tinggi. Yang ingin dibangun adalah percakapan di antara mereka, dan juga dengan pemimpin politik, mengenai bagaimana pengetahuan dan teknologi dapat digunakan untuk menjawab persoalan bersama,” ujar Hilmar.

Aspek budaya dan seni pun tidak luput di pertemuan penting ini. Empat pemain instrumen gesek yang tergabung dalam Ananda Sukarlan Orchestra tampil di hadapan para tamu terhormat ini. Mereka adalah Glen Afif Ramadan (violin), Saynediva Al Fatah Putra (violin), Galih Yoga Pratama (viola) dan Ade Sinata (cello). Tiga musikus pertama (dua pemain violin dan viola) bahkan telah terpilih menjadi anggota G20 Orchestra, sebuah orkes yang dibentuk saat presidensi Indonesia di pertemuan G20 di Indonesia tahun 2022, dengan direktur artistik Ananda Sukarlan.

Selain memainkan karya-karya klasik untuk string quartet dari Luigi Boccherini, Antonio Vivaldi dan Peter Ilyich Tchaikovsky, mereka juga memainkan Suite "Nusantara Folksongs" karya Ananda Sukarlan, yang diciptakan berdasarkan melodi lagu-lagu rakyat Indonesia seperti Ampar Ampar Pisang, Anging Mamiri dll. Selain itu mereka juga memainkan "Introitus on Indonesia Pusaka" karya maestro Indonesia yang masuk dalam daftar "100 Asia Most Influential" dalam bidang seni oleh majalah Tatler Asia di Hongkong tahun 2020 ini. Karya-karya ini adalah aset budaya bangsa yang tak ternilai untuk memperkenalkan budaya Indonesia di seluruh dunia, melalui instrumen yang secara standard dapat dimainkan oleh anggota orkes dan musikus klasik di manapun di seluruh dunia. Untuk prestasinya dalam dunia musik dan diplomasi budaya Sydney Morning Herald telah menulisnya sebagai "One of the world's leading pianists ... at the forefront of championing new piano music". Dua negara Eropa, yaitu Spanyol dan Italia telah menganugerahkan Ananda Sukarlan gelar dan penghargaan tertinggi untuk warga sipil, yaitu Real Orden de Isabel la Catolica (dari Raja Felipe VI) dan Cavaliere Ordine della Stella d'Italia (dari Presiden Sergio Mattarella). 

Dalam persiapan pertemuan, Megawati antara lain menyoroti perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, persoalan pangan dan kesehatan, serta perkembangan kecerdasan buatan yang sangat cepat.

Menurut Megawati, perkembangan ilmu pengetahuan telah membuat manusia semakin mampu memahami berbagai persoalan tersebut. Namun, kemampuan untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan masih menjadi tantangan besar.

Ia juga menaruh perhatian pada perkembangan teknologi baru seperti kecerdasan buatan. Di samping potensinya yang besar, perkembangan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang menguasai teknologi, untuk kepentingan siapa teknologi digunakan, serta bagaimana manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, perkembangan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya membangun kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi sendiri tanpa memisahkan diri dari komunitas ilmiah dunia.

Pertemuan di Megawati Institute telah diikuti 10 individu penerima Nobel, termasuk Presiden Ramos-Horta, serta satu perwakilan organisasi penerima Nobel.

Para penerima Nobel yang hadir adalah Frances H. Arnold, Nobel Kimia 2018; Tim Hunt, Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2001; Benjamin List, Nobel Kimia 2021; Robert C. Merton, Nobel Ilmu Ekonomi 1997; Konstantin Novoselov, Nobel Fisika 2010; Brian P. Schmidt, Nobel Fisika 2011; Kailash Satyarthi, Nobel Perdamaian 2014; James A. Robinson, Nobel Ilmu Ekonomi 2024; José Ramos-Horta, Nobel Perdamaian 1996; serta Fredrik Jay Ramsdell, Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2025.

Hadir pula David Beasley, yang memimpin World Food Programme (WFP) ketika organisasi tersebut menerima Nobel Perdamaian pada 2020.

Empat penerima Turing Award juga akan bergabung, yakni Jack Dongarra (2021), Whitfield Diffie (2015), Richard S. Sutton (2024), dan Gilles Brassard (2025).

Delegasi juga mencakup sejumlah ilmuwan dengan pengakuan internasional, antara lain Sara Seager, penerima Kavli Prize in Astrophysics 2024; Howard-Yana Shapiro, penerima World Food Prize 2015; Torsten Hoefler, penerima ACM Prize in Computing 2019; serta Yannis Ioannidis, ACM Fellow.

Keberagaman latar belakang tersebut mempertemukan pengetahuan dari fisika, kimia, kedokteran dan imunologi, pertanian, ekonomi dan ilmu sosial, teknologi komputasi, hingga isu perdamaian dan kemanusiaan.

Menurut Hilmar, justru perjumpaan lintas bidang seperti itulah yang menjadi salah satu tujuan utama pertemuan.

“Persoalan dunia nyata tidak mengenal batas-batas disiplin ilmu. Perubahan dalam satu bidang dapat membawa akibat ke banyak bidang lainnya. Karena itu, kita memerlukan ruang di mana para ahli dari berbagai bidang dapat saling mendengar dan memikirkan persoalan bersama,” ujarnya.

Megawati Institute sebagai Ruang Pertukaran Pengetahuan

Megawati Institute merupakan lembaga pemikiran nirlaba yang didirikan Megawati Soekarnoputri dengan Pancasila 1 Juni 1945 sebagai landasan pemikiran. Institute mengembangkan kajian dan dialog mengenai berbagai persoalan strategis yang dihadapi Indonesia.

Pertemuan dengan delegasi Science for Development Summit sekaligus mencerminkan keinginan Megawati Institute untuk menyediakan ruang perjumpaan antara pengetahuan ilmiah, kebijakan publik, kepemimpinan politik, dan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.

Hilmar mengatakan pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai satu acara. Kehadiran begitu banyak ilmuwan dari berbagai negara dan bidang keilmuan membuka kemungkinan membangun hubungan yang lebih panjang.

“Dunia membutuhkan komunitas ilmiah yang tidak hanya kuat di bidang masing-masing, tetapi juga terhubung satu sama lain dan mempunyai kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan. Pertemuan seperti ini penting untuk membangun komunitas tersebut,” kata Hilmar.

Megawati Institute, menurut Hilmar, ingin menjadi salah satu ruang yang memungkinkan pertukaran itu berlangsung, termasuk dengan mempertemukan ilmuwan internasional dengan ilmuwan, pembuat kebijakan, dan generasi muda Indonesia.

“Indonesia mempunyai ilmuwan, keanekaragaman hayati, pengetahuan masyarakat, pengalaman pembangunan, dan berbagai persoalan nyata yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi dunia. Jadi kita bukan hanya menerima pengetahuan, tetapi juga ikut menyumbang kepada percakapan global,” ujarnya. - (rd/pp)