Home Opini Di Balik Kasus Broken String

Di Balik Kasus Broken String

728
0
SHARE
Di Balik Kasus Broken String

Oleh: Hana Sheila
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

BROKEN STRINGS - Adalah sebuah karya sastra  atau novel yang mengangkat realitas kelam di balik relasi yang tampak indah namun sebenarnya penuh manipulasi. Fakta utama ceritanya menyoroti bagaimana seseorang, terutama yang lemah secara usia dan emosi dapat terjebak dalam hubungan yang merusak melalui proses yang perlahan, halus, dan sering tidak disadari. Judul Broken Strings (senar yang putus) menjadi simbol jiwa manusia yang rusak yakni kehilangan arah, harga diri, dan kebebasan akibat tekanan, manipulasi, dan ketergantungan emosional yang dibangun oleh pihak lain.

Fakta penting lainnya, Broken Strings tidak sekadar bercerita tentang penderitaan korban, tetapi juga menjadi kritik sosial terhadap lingkungan dan sistem yang gagal melindungi yang lemah. Novel ini menunjukkan, kerusakan tidak selalu bermula dari kekerasan fisik, melainkan dari kata-kata, perhatian semu, dan relasi yang melanggar batas.

Dampak yang ditampilkan bersifat jangka panjang yakni trauma, kebingungan identitas, serta sulitnya memulihkan kepercayaan. Karena itu, Broken Strings sering dipahami sebagai peringatan agar pembaca lebih peka terhadap tanda-tanda manipulasi, pentingnya batasan dalam hubungan, dan perlunya nilai moral serta perlindungan yang kuat bagi anak dan remaja.

Dalam Broken Strings, akar kerusakan relasi dapat dikaitkan dengan sistem kapitalisme yang menempatkan kepuasan, kekuasaan, dan keuntungan sebagai orientasi utama kehidupan. Sistem ini mendorong relasi manusia menjadi transaksional, perhatian, kasih sayang, bahkan tubuh dan emosi diperlakukan sebagai komoditas.

Lingkungan yang lahir dari kapitalisme, media yang mengejar popularitas, budaya permisif, dan minimnya batasan moral membuat manipulasi emosional tampak wajar dan bahkan romantis. Dalam kondisi ini, tokoh yang lemah secara usia dan mental menjadi mudah dikendalikan karena sistem tidak memprioritaskan perlindungan, melainkan kebebasan tanpa tanggung jawab.

Dampaknya, sebagaimana tergambar dalam Broken Strings, rusaknya jiwa individu dan rapuhnya tatanan sosial. Korban kehilangan harga diri, kebebasan berpikir, serta kemampuan membedakan kasih sayang yang tulus dan manipulasi. Dalam skala lebih luas, masyarakat menjadi permisif terhadap relasi yang menyimpang karena kerusakan dipandang sebagai urusan pribadi, bukan masalah sistemik.

Kapitalisme gagal memberi pagar nilai yang melindungi yang lemah, sehingga tragedi dalam Broken Strings bukan sekadar kisah personal, melainkan cermin dari sistem yang membiarkan “senar-senar” kemanusiaan putus satu per satu tanpa pencegahan yang nyata.

Adapun solusi Islam terhadap persoalan yang tergambar dalam Broken Strings berangkat dari cara pandang sesungguhnya manusia, terlebih anak dan remaja bukan komoditas, melainkan amanah dari Allah yang wajib dijaga kehormatan dan keselamatannya. Islam menanamkan akidah dan ketakwaan sebagai fondasi, sehingga setiap individu memiliki kesadaran, setiap perbuatan diawasi Allah (muraqabah), bukan sekadar diatur oleh hukum manusia.

Dengan landasan tersebut, Islam menetapkan batasan relasi dan pergaulan yang jelas, menjaga aurat, menundukkan pandangan, serta melarang segala bentuk pendekatan menuju kemaksiatan. Aturan ini berfungsi preventif, memutus peluang manipulasi emosional dan relasi menyimpang sejak awal, bukan setelah kerusakan terjadi.

Selain pembinaan individu, Islam menawarkan solusi sistemik yang berlawanan dengan kapitalisme. Keluarga diperkuat sebagai benteng utama pendidikan adab dan kepribadian, sementara masyarakat diwajibkan melakukan amar makruf nahi mungkar agar penyimpangan tidak dinormalisasi. Negara dalam Islam berkewajiban melindungi anak dan yang lemah secara nyata mengontrol media dan konten publik, menutup celah eksploitasi atas nama kebebasan, serta menegakkan hukum yang tegas dan adil tanpa tunduk pada kepentingan ekonomi.

Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, pada level individu, keluarga, masyarakat, dan negara, kerusakan relasi seperti dalam Broken Strings dapat dicegah dari akarnya, dan “senar-senar” kemanusiaan dijaga agar tetap utuh sesuai fitrah.[]