Home Nusantara BMKG Akhiri Peringatan Dini Tsunami Gempa M7,7 Filipina,

BMKG Akhiri Peringatan Dini Tsunami Gempa M7,7 Filipina,

Kenaikan Tinggi Muka Air Laut Terpantau di Sejumlah Wilayah Jakarta

143
0
SHARE
BMKG Akhiri Peringatan Dini Tsunami Gempa M7,7 Filipina,

Keterangan Gambar : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan peringatan dini tsunami pascagempa bumi di Mindanao, Filipina telah berakhir. (sumber : BMKG/PP)

JAKARTA II Parahyangan Post - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan peringatan dini tsunami pascagempa bumi di Mindanao, Filipina telah berakhir. Gempa bumi yang terjadi pada Senin, 8 Juni 2026 pukul 06.37 WIB ini menimbulkan tsunami di sebagian wilayah Indonesia. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi pada koordinat 1,25° LU; 126,27° BT, atau tepatnya terletak di laut pada jarak 244 km barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara pada kedalaman 47 km.

Berdasarkan lokasi episenter dan kedalamannya, gempa ini berjenis dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme pergerakan naik ( thrust patahan ). “Hasil pemantauan BMKG, terjadi kenaikan tinggi muka air laut di sejumlah wilayah, di antaranya Loloda pada pukul 07.20 WIB dengan ketinggian 0,09 m, serta pada pukul 07.27 WIB di Ulu Siau setinggi 0,18 m dan Melonguane setinggi 0,32 m,” kata Faisal di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta (8/6).

Selanjutnya, sensor tide gauge di Tahuna mendeteksi ketinggian udara setinggi 0,3 m pada pukul 06.58 WIB, disusul wilayah Paleleh yang mencatat ketinggian 0,45 m pada pukul 07.34 WIB, serta Tanjung Sidupa yang mencatat 0,32 m pada pukul 07.39 WIB. Pada pukul 07.51 WIB, alat pemantau melihat kenaikan tinggi muka air laut di Bitung setinggi 0,29 m dan Ternate setinggi 0,14 m.

Sementara itu, gelombang tsunami setinggi 0,75 m menerjang wilayah Talengan pada pukul 08.20 WIB. Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida R., menjelaskan bahwa gempa bumi ini dirasakan kuat dan berdampak di sejumlah wilayah.

Daerah Miangas dan Melonguane merasakan gempa bumi dengan intensitas VI MMI. Akibatnya, getaran yang dirasakan oleh semua penduduk sehingga menyebabkan dinding runtuh dan cerobong asap pada pabrik rusak. Penduduk Siau dan Tagulandang ikut merasakan getaran dengan intensitas V MMI (Getaran dirasakan hampir seluruh penduduk, barang-barang terpelanting, dan tiang-tiang tampak bergoyang). Getaran di Morotai, Halmahera Utara, dan Manado dirasakan nyata dengan intensitas IV MMI, sehingga banyak orang terbangun.

Getaran yang dirasakan di Toli-Toli dan Kab. Gorontalo dengan intensitas III-IV MMI (Getaran dirasakan hampir semua penduduk dan banyak orang terbangun). Batang dua, Ternate, Halmahera Barat, Gorontalo, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, Parigi Moutong, Manado, Minahasa, Palu, Bitung, Bolaang Mongondow Timur, Halmahera Tengah merasakan getaran dengan intensitas III MMI (Getaran terasa nyata di dalam rumah.

Terasa getaran seperti ada truk lewat). Hingga pukul 10.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 20 aktivitas gempa bumi susulan ( gempa susulan ) dengan magnitudo terbesar 3,9–6,7,” tutur Nelly.

Mengenai Direktur Gempabumi dan Tsunami, Wijayanto, mengimbau masyarakat untuk memastikan keselamatan dan keamanan bangunan sebelum kembali beraktivitas. BMKG mengimbau masyarakat di daerah terdampak untuk melakukan pemeriksaan struktur bangunan sebelum memasuki rumah atau gedung.

“Apabila masih terdapat kerusakan atau retakan-retakan, perlu perhatian dan tidak langsung masuk ke dalam ruangan,” tutur Wijayanto.

Dengan kondisi terkini terkait hasil observasi di beberapa wilayah terdampak, tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan. “BMKG menyatakan bahwa Peringatan Dini Tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 10:15:51 WIB. BMKG berterima kasih kepada pemerintah daerah yang telah membantu diseminasi dan melakukan langkah bantuan secepatnya,” tambah Faisal.

Sejalan dengan itu, Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, terkait BMKG akan menurunkan waktu ahli untuk melakukan pemetaan makroseismik (sebaran kerusakan) dan mikroseismik (gempa susulan). tersebut,” terang Ayu.

Pascaperistiwa ini, Faisal mengimbau masyarakat tetap tenang dan terus waspada dengan melakukan langkah antisipasi, mitigasi, serta perlindungan diri terhadap gempa bumi dan tsunami demi mewujudkan nol korban (zero Victim). Faisal bahwa BMKG memastikan bersiaga selama 24 jam dan terus memperkuat pemantauan dengan memasang sensor di seluruh Indonesia agar informasi peringatan dini dapat tersampaikan mungkin kepada masyarakat.

“Kami mengajak penerapan struktur tahan gempa. Masyarakat dapat berdiskusi dan berkonsultasi dengan para ahli, perguruan tinggi setempat, dan kantor BMKG yang tesebar di 191 lokasi di Indonesia,” tutur Faisal. Masyarakat diimbau terus memperbarui informasi yang bersumber hanya dari saluran resmi BMKG di media sosial Instagram, X, Tiktok 
@infoBMKG ; situs webhttp://bmkg.go.id atauhttp://inatews.bmkg.go.id ; saluran telegramhttps://t.me/InaTEWS_BMKG ; hingga aplikasi mobile wrs-bmkg atau infobmkg. (rd/pp)